Latest News
Tuesday, February 4, 2014

Sensitivitas Fenomenologis: Esai Buku Puisi "Mesin Waktu" Karya Meitha KH


Narudin
Fenomena adalah dasar Filsafat Immanuel Kant, dalam bahasa Inggris, phenomenon, dalam bahasa Yunani, phainomenon, yakni “yang-tampak-dirinya” (manifest itself), yang dibedakan dengan nomena atau noumenon (diistilahkan acapkali sebagai Ding an sich, atau “yang-dalam-dirinya” [thing-in-itself])[4]. Dengan begitu, secara bersahaja, seirama dengan fenomena dalam puisi-puisi Meitha KH dalam buku puisi Mesin Waktu (Majelis Sastra Bandung, 2012). Fenomena yang kelihatan berpagutan dengan darah tanda-tanda Charles Sanders Peirce, Bapak Semiotika dan sekaligus filosof Amerika yang paling tulen lagi multi-dimensional.[5] Selain fenomena atas nama kejujuran feminin, Meitha pun menyajikan fenomenologi yang sensitif, yang berhasil mendemonstrasikan bahwa dirinya seorang filosof rahasia (secret philosopher), dan sensitivitas yang fenomenologis, yang tak gagal menampilkan sosok dirinya yang berjiwa tak terkekang oleh dunia personal, lorong-lorong sempit pikiran, lubang-lubang longgar perasaan.

Fenomena
Fenomena atas nama kejujuran feminin Meitha, dituangkan ke dalam cawan tanda-tanda. Luapannya yang tak terkendalikan membuka tirai-tirai ruang tersembunyi keperempuanan yang terkadang agak membuat wajah orang Timur kemerah-merahan, bukan karena cuaca kemarau terlampau panas, atau ia berdiang di dekat tungku berarang, dari jarak yang teramat intim. Dengan fenomena seperti demikian, sinkronisasi pengalaman romantis berbaur dalam kejenakaan yang polos. Benarkah begitu? Simak puisi-puisi berikut.

KAMAR
Kamar (seluas lima meter) Tak hanya menyimpan kasur dan poster
Tapi pernah bercerita tentang sajadah yang
Kamar yang dihiasi gorden tipis itu
Tak hanya berisi lemari, buku, dan televisi
Tapi pernah juga dikunjungi sahabat—sekedar ikut salat
Dan barangkali akrobat—
Kamar jendela itu tanpa jendela
Tak hanya terdengar suara radio,
Kadang terasa pengap, asap, aroma rokok;
Diisap sehabis bercinta
Sesungguhnya gelap-terangnya kamar itu
Bukan hanya karena lampu
Tapi kenangan saat malam menjelang
(aku bergegas mengambil sepatumu
Dan kusimpan di balik pintu)
2002

Pada hakikatnya, manusia cenderung lebih menyukai sesuatu yang transparan. Umpamanya, dahulu, di zaman entah, para pemuda menggandrungi mengintip gadis-gadis desa yang tengah membersihkan anggota tubuhnya (saya tidak menuduhnya tengah mandi, barangkali sebatas betisnya yang mencolok atau sekadar memercikkan air sungai pada bahu-bahunya yang kuning langsat) di pinggir sungai berbatu, berlumut, berumput, berikan-ikan kecil yang berlenggok-lenggok di atas kerikil-kerikil tajam, setajam pisau hidup. Transparansi feminin yang jujur ini pun pada galibnya, tak dapat disangkal lagi, merupakan bentuk terjujur fenomena. Camkan misalnya baris-baris akhirberikut ini, diambil dari puisi berjudul “AKAN KUGADAIKAN SAJA MATA INI”.

AKAN KUGADAIKAN SAJA MATA INI

Akan kugadaikan saja mata ini
demi sinar melepas pagi dan kubiarkan engkau pergi
bunga bunga bakung merunduk
daun daun pisang menguning
kau masuk kedalam liang-liang hati yang terbuka
akan kugadaikan saja tubuh ini
demi malam sedingin angin
jalan jalan setapak yang basah,
tanah tanah membuatmu terjerembab,
jembatanpun bergoyang pelan
seperti kedua pahamu
pelan menggetarkanku.
2009

Apabila diselisik titimangsa penulisan kedua puisi di atas, yakni, “KAMAR” dan “AKAN KUGADAIKAN SAJA MATA INI”, terlihat dengan benderang bahwa dalam rentang waktu 7 tahun (2009-2002), Meitha menjelma “sosok tubuh perempuan yang sangat amat matang sekali”. Sekurangnya, bandingkan saja suasana rendezvous potongan kedua bait berikut ini: Tapi kenangan saat malam menjelang/(aku bergegas mengambil sepatumu/ Dan kusimpan di balik pintu)// dan jembatanpun bergoyang pelan/ seperti kedua pahamu/ pelan menggetarkanku.//

Fenomenologi  yang Sensitif
Repetisi asyik seringkali dijumpai ketika kita tak segan mengunjungi puisi-puisi Hartojo Andangdjaja[6] tempo hari, sekadar melafalkan yang teringat, berjudul “RAKYAT” dan “PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA”. Keasyikan inilah yang saya nikmati hingga tetes terakhir, hingga kerak-kerak sari pati kelelakian saya, yaitu ketika membaca puisi-puisi Meitha berjudul “BULAN ITU”, “IBU”, “HIDUP KITA”, “PELAYAN”, “SITI PERGI”, dan “SUDAH LIMA TAHUN”. Di satu pihak, keterpenjaraan jiwa personal Meitha begitu bening. Walaupun begitu, di lain pihak, fenomenologi yang sensitif terjadi. Kita hadirkan saja satu puisi yang merepresentasikannya di sini.

PELAYAN
Dilahirkannya Ia sebagai pelayan
membawa secangkir kopi dengan
secangkir kopi dengan perlahan
roknya hitam bergerak ke kiri dan kanan
memberikan keindahan tubuh bagian belakang
kemejanya putih transparan, sedikit terbuka dengan belah di dada.

Dilahirkannya Ia sebagai pelayan
Menemani jamuan makan malam
Segaris senyum di bibir tetap dipertahankan
Tak usah cemas, supir akan mengantarmu sampai ke teras.

Dilahirkannya Ia sebagai pelayan
menunggu yang subuh berlalu sampai pulang
tubuhnya kaku menatap hujan dibalik jendela kamar
lampu ruang tamu masih padam
daun-daun di halaman tunduk terbenam
teh hangat dan bolu pandan terpaku di meja makan.

Dilahirkannya Ia sebagai pelayan
kakinya bergerak tanpa arah
mencari gerbang kebebasan
melawan fitrah kewanitaan

Dilahirkannya Ia sebagai pelayan
menunggu bel kamar setiap jam
lantai-lantai menanti atas dasar cinta
tapi tetap pelayan, matanya tak bisa berdusta
ia sudah tak punya cinta.
2011

Dari puisi di atas, kita sadar bahwa objek-objek tertentu yang mengundang suatu keinginan ialah baik (barangkali, lebih tepat disebut “bagus”). Bukan kesungkanan kepadanya yang dapat berakibat tak baik (“tak bagus”). Tambahan pula, Thomas Hobbes berargumen bahwa tak ada satu etika yang absolut atau moralitas yang holistik.[7]Benarkah begitu, Bes? Sikap begini memantik kita kepada pelayaran makna berikutnya.

Sensitivitasyang Fenomenologis
Sebagai perempuan, Meitha menabung wilayah-wilayah sensitif, sensitif yang fenomenologis, tepatnya, yakni serupa dengan kesan-kesan batin saya tatkala aku membaca Duineser Elegien atau Duino Elegies-nya Rainer Maria Rilke (1923). Salah satu penyair yang karya-karyanya paling laris di Amerika Serikat saat ini, selain Rumi dan Gibran. Sementara kritikus sastra Jerman menyebut bahwa Rilke adalah seorang penyair sufi-tak-bertuhan, sebuah julukan yang oksimoronik. Namun, Meitha hanya-lah seorang perempuan yang dahaga akan sentuhan “suci” maskulinitas. Misalnya, mari kita simak puisi-puisi berikut.

JANGAN BICARA DOSA

Bicarakan kita saja,
bukan dosa.
Sebab kita tak bisa menawar hujan
menjadi lebih lebat
atau surut
atau meminta matahari agar lebih redup

Bicarakan kita saja,
bukan hasrat.
Sebab cinta datang tak bermula
seperti kelahiran Adam atau Hawa
atau kejenakaan Tuhan menciptakan Isa

Bicarakan kita saja,
sebab aku sudah rela.
2012

Betapa efektif teknik klasik-repetitif itu diunjuk-gigikan!
Lalu, semakin “andilau” (antara dilema dan galau), baris akhir puisi “HIDUP KITA” ini:
hidup kita bergerak ke arah sendiri
Lalu, di sinilah Feminisme kalah (bukan pasrah), baris akhir puisi “KITA TAK PERNAH SELESAI”:
Aku semakin hilang, aku semakin tak tau apa apa.

Betul, ibarat (mesin) waktu. Kita belum selesai. Kecuali, nanti.
***

Bogor, 3 Februari 2014
Tentang Penulis
Narudin lahir di Subang, 15 Oktober 1982. Lulusan Sastra Inggris, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung pada 2006. Pernah mengajar di Universitas Islam As-Syafi’iah (UIA), Universitas Indonusa Esa Unggul (UIEU) Jakarta, ARS International School, dan UPI Bandung. Sejak SMU, drama-drama berbahasa Inggrisnya pernah meraih beberapa penghargaan tingkat Jawa Barat. Pada 2007, tercatat menjadi salah satu pemenang Duta Bahasa Jawa Barat di Balai Bahasa Bandung. Tulisannya berupa puisi, cerpen, esai, dan terjemahan dimuat di media massa dan majalah seperti Majalah Sastra Horison, Majalah Qalam, Koran Pikiran Rakyat, Koran Seputar Indonesia, Koran Sinar Harapan, Percikan Iman, Pikiran Rakyat Online, Sastra Digital, jurnalsajak.com, dan lain-lain. Puisi-puisinya terhimpun dalam antologi buku Ziarah Kata 44 Penyair, Igau Danau, Flows into the Sink into the Gutter, Indonesian Poems Among the Continents, dan buku-buku puisi tunggalnya Doa Hujan, dan Aku dan Tuhan. Buku kumpulan cerita pendek karya Cecep Syamsul Hari terjemahannya dalam bahasa Inggris berjudul Partita No. 3. Buku puisi bahasa Inggrisnya berjudul But God and Other Poems. Buku Partita No. 3 dan But God and Other Poems dapat diperoleh di www.amazon.com. Kini sambil menulis dan menerjemah, ia mengajar Contemporary Sociology.



[1] Periksa Cambridge Dictionaries online, The most popular online dictionary and thesaurus for learners of English. Phenomenon: something that exists and can be seen, felt, tasted, etc., especially something unusual or interesting, terakhir diakses pada hari Senin, 3 Februari 2014, pukul 9.49 WIB.
[2] Lihat, Andy Barnard, As and A Level Sociology (Modern Sociology), Cambridge University Press, 2004, page 13. Phenomenology:The is most closely associated with Edmund Husserl (1859-1938), and in Sociology with Alfred Schutz (1899-1959). Phenomenologists assert that people possess a greater degree of free will than positivist sociologists are willing to admit.
sen·si·tiv·i·ty noun \ˌsen(t)-sə-ˈti-və-tē\
: the tendency to become upset about things that are done to you, are said about you, or relate to you
: the tendency to cause people to be upset
: an awareness and understanding of the feelings of other people

[4] Periksa: http://en.wikipedia.org/wiki/Phenomena_(philosophy), , terakhir diakses  pada hari Senin, 3 Februari 2014, pukul 10.14 WIB.

[5] Menurut Charles Sanders Peirce, logika harus mempelajari bagaimana orang bernalar, dan penalaran itu dilakukan melalui tanda-tanda. Alasannya, tanda-tanda itu dapat memungkinkan kita  berpikir, berhubungan dengan orang lain, dan memberi makna pada apa yang ditampilkan oleh alam semesta. Dengan demikian, secara harfiah dia mengatakan: “Kita hanya berpikir dalam tanda.”( Selengkapnya baca buku 7 Teori Sastra Kontemporer & 17 Tokohnya oleh Mohammad A. Syuropati dan Agustina Soebachman, Edisi Revisi, Yogyakarta: IN AzNa Books, halaman 67-92.)
[6] Periksalah isi Buku Puisi,Hartojo Andangdjaja, Jakarta: Pustaka Jaya, 1973.
[7] Lihat Thomas Hobbes, Leviathan, 1651 (New Edition, 1968), Pelican Books, page 82-85.
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Sensitivitas Fenomenologis: Esai Buku Puisi "Mesin Waktu" Karya Meitha KH Rating: 5 Reviewed By: radarindonesia news