Latest News
Friday, May 29, 2015

Jalan Tak Berujung. Oleh Hari Ramadan Pratama

Sejak kecil, aku hanya dapat merasakan kasih sayang dari seorang nenek dan kakek bahkan sejak aku lahir pun tanpa didampingi oleh ayah kandung, karena ayah dan ibuku sudah bercerai sebelum aku lahir, pada saat itulah aku dirawat oleh kakek dan nenek yang aku panggil dengan sebutan bapak dan mamah. Aku beranggapan merekalah orangtuaku, hingga pada akhirnya setelah aku beranjak bisa membaca tepatnya pada umur 6 tahun, aku melihat isi raportku yang nama orangtuanya berbeda dengan orang yang telah merawatku, aku pun bertanya-tanya pada teman-temanku sebut saja namanya Mpi dan Dik. Dik tak tahu apapun sedangkan Mpi dengan polosnya dia menjawab pertanyaanku “mamah dan bapak kamu namanya Deden dan Rina” Deg aku tak mampu berkata apapun dan langsung memikirkan apa maksud dari perkataannya itu. Apakah Rina kakakku yang dimaksud itu adalah ibuku? Lalu siapa yang aku panggil dengan sebutan bapak dan mamah itu? No One Has Solid Answer. Di umur yang terbilang sangat kecil hatiku rapuh tergoncang memikirkan segala teka-teki hidup ini.

Aku pun naik ke kelas 2 SD, Mpi temanku selalu melontarkan perkataan yang membuatku ambigu. Aku bertanya “mpi emang bapak, mamah aku itu siapa?”

“Oh itu yang di rumah kakek dan nenek kamu, orangtua kamu udah cerai. Nah, mamah asli kamu kakak kamu kalau ayah kamu aku tahu tapi aku tak bisa kasih tahu kamu” jawab dia. Seketika aku merasakan sakit bercampur bingung tak percaya, apa yang harus ku katakan, apa yang harus kutanyakan untuk membuktikan semua ini. Ahh mungkin itu hanya omongan biasa saja, pikirku saat itu. ditambah aku yang masih kecil belum bisa berbuat apa-apa, hingga semua perkataan itu aku ingat aku bawa sampai aku berusia 12 tahun tepatnya kelas 7 SMP. Di usia inilah aku mulai memahami dan mencari arti itu semua. Tetapi aku tidak bisa bertanya ke mamah dan bapakku (kakek dan nenek) atau mungkin kakak yang katanya itu ibu kandungku, mungkin aku gengsi atau mungkin aku takut karena aku terbilang orang yang tak banyak bicara. Ahh sudahlah aku rasakan diriku sakit tak ada yang mengerti karena aku tutup rapat-rapat cerita ini semua dan tak ku ceritakan pada siapapun. Aku mengetahui diriku ini adalah seorang Anak Broken Home, sampai saat itu aku tetap saja bersikap biasa kepada bapak, mamah dan kakak. Seperti tidak mengetahui apapun, padahal aku tahu yang sebenarnya terjadi. Oh iya, satu hal lagi aku memanggil adik dari mamah (nenek) dengan panggilan ibu dan ayah karena aku menganggap mereka orangtuaku dan sebaliknya. Sungguh membingungkan memang kisahku ini terlalu banyak ibu dan ayah.

Pada kelas 8 hingga 9 SMP, aku ingin sekali mencari ayah kandungku yang tak kutahui dia dimana dan seperti apa meski aku benci dengannya tetapi jauh di lubuk hatiku aku ingin dan butuh sosok seorang Ayah, tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa karena aku tidak bisa bercerita pada siapapun bahkan sahabatku sekalipun. “BrokenHome All Alone” yaa itulah kata yang selalu merasuki pikiranku. Dan lagu LastChild – Diary Depresiku yang selalu membuatku menangis terisak di dalam kamarku.

Aku butuh sosok seorang ibu kandung dan ayah kandungku juga. Sering ku merasakan iri saat melihat teman bersama keluarganya terlihat begitu bahagia, Ingin rasanya bertukar posisi dengan mereka, jauh di lubuk hatiku tersisip asa untuk bisa kembali seperti dulu. So Tell How Could I Ever Be Normal Somehow?.

Keluargaku mengetahui diriku dengan sosok seorang yang pendiam dan mengurung diri di kamar, yaa aku menangis seakan hidup ini tak adil bagiku. Di SMP ini tak bisa aku percaya untuk ku ceritakan kisah hidupku jadi aku sering mengurung diri di kamar dan aku menikmatinya. I’m Walking In The Dark And Just Tell Me Apart.

Terlintas di pikiranku “aku ini anak siapa?” memasuki SMA, tepatnya aku masuk di kelas X-1 aku menemukan seorang yang bisa mengerti tentang kisah hidupku dia bernama Zazmi, yaa dia sahabatku. Barulah di SMA ini aku bisa share kisah hidupku padanya dan bisa terbuka dari sifatnya privasi aku curahkan padanya. Aku pun merasa seperti masih ada yang peduli padaku. Aku memberanikan diri untuk mencari Ayah kandungku dengan bantuannya dan ditemani juga dengan 2 sahabatku lainnya yaitu devi dan devrina. Sebelumnya aku cari-cari alamat tempat tinggal Ayahku di sebuah arsip-arsip di kamar bapakku (kakek) tanpa sepengetahuannya aku menemukan sebuah. Sebuah Akte Ceraiku yang membuatku tercengang membaca semua kenyataan-kenyataan dalam akte tersebut, aku tanpa sengaja air mataku jatuh menetes tanpa henti sungguh luka ini mencabik-cabikku.
Dan akhirnya aku bertemu dengan ayah kandungku yang selama 16 tahun ini aku tak tahu rupanya, sungguh kesal bercampur sedih menjadi satu. Aku memanggilnya dengan sebutan papah, aku senang sekali bisa bertemu dengannya. Papah menceritakan semua kejadian masa lalu dan aku pun tahu sekarang ternyata mpi temanku itu anak dari orang yang telah merusak rumah tangga papah karena mereka iri sama keluarga papah, jadilah mereka menghasut mamah dan bapak (kakek dan nenek) untuk memisahkan ibu kandungku dengan papah.

Aku bertemu dengan papah pun sampai sekarang aku rahasiakan dari keluarga karena jika ketahuan aku bisa dimarahi dan dijauhkan kembali.

Hari demi hari ku lalui, aku dengan papa dan keluarga besar papa lainnya aku kenal dan bisa akrab dengan mereka. Setiap aku ingin bertemu dengan papa aku selalu pulang malam dan aku beralasan kepada orang di rumah ada kerja kelompok. Ku pikir ini sudah menjadi happy endingku tetapi tidak, kini sosok seorang papa pun menghilang kembali sudah lama aku tak bertemu dengannya. Tetapi aku masih bertemu dan berkumpul dengan keluarga besar papa lainnya, entah kemana papa mungkin sibuk mungkin juga tidak atau mungkin dia tak menginginkanku sehingga ku diterlantarkan tanpa ia cari. Ahhh!!! Biarkanlah yang penting aku sudah bertemu papa selama 16 tahun ini walaupun aku tak bisa berkumpul kembali.

Dan aku pun tetap memanggil ibu kandungku dengan sebutan NAMA-nya dosa memang tapi keadaanlah yang membuatku tak bisa memanggil dengan sebutan ibu. Dia sekarang pergi tinggal bersama 2 anak dan suami barunya dan menetap di daerah ponorogo, aku tetap tinggal bersama nenek. Sebelumnya kakek sudah meninggal tepat 1 bulan setelah aku bertemu papah, aku sangat bersalah sekali dengan kakek karena aku tidak menceritakan pertemuanku dengan papa dan mencuri akte cerai dalam lemari kakek, aku sangat terpukul sekali saat itu mengingat semua kejadian-kejadian ini.

Mah, pah katakan padaku mengapa aku terluka? And we tell so far away from the way use to be. Hati ini sakit sekali mah, pah. Tapi SUDAHLAH!!! Biarkanlah ini menjadi realita hidup yang harus ku jalani yang mungkin tidak ada seorang pun sama seperti kisahku dan kisahku ini bagaikan sebuah jalan tak berujung yang entah sampai kapan aku merasakan luka ini mencabik-cabikku.

Terima kasih kakek, nenek yang telah membesarkanku dan membiayai semua kebutuhanku hingga aku sekarang telah beranjak dewasa dan terima kasih juga Tuhan yang telah memberiku masalah seperti ini yang membuatku bisa lebih kuat bagaikan pohon yang diterpa angin, bisa lebih kuat dari teman-temanku yang lain.

Terima kasih semuanya, semoga kisahku ini bisa menjadi motivasi untuk kalian agar bisa lebih mensyukuri hidup. Sayangilah orangtua kalian karena kasih sayang tidak bisa dibayar dengan harta berlimpah sekalipun, dan semoga bisa menjadi penyemangat hidup kalian bahwa menjadi anak broken home itu tidak menjadikan sebagai alasan untuk menghancurkan mimpi-mimpi kamu sendiri.

SEMANGAT!!!
Broken home doesn’t effect for my future
Broken home doesn’t mean broken child
Broken home doesn’t mean broken hope
Broken home doesn’t mean broken attitude
Dream, pray, believe and make it happen.
Keep Strong Keep Spirit Keep Smile Keep Calm
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Jalan Tak Berujung. Oleh Hari Ramadan Pratama Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com