Latest News
Tuesday, August 4, 2015

Tanah Kelahiran, Cita-cita, dan Arti Mencintai


Judul : Kaki Langit Talumae

Penulis : Wishnu Mahendra

Penerbit : Metamind (Tiga Serangkai)

Tahun : cet 1, 2014

Tebal : vi+290 halaman

ISBN : 978-602-9251-29-6


Tidak bisa dipungkiri, bagi siapa pun, tanah kelahiran selalu menyimpan banyak kisah dan kenangan. Masa kecil dan suasana dusun yang asri menjadi kenangan yang tak mudah dilupakan meski seseorang merantau dan pergi jauh ke kota dengan segala hingar-bingarnya.


Kampung halaman menyimpan kenangan akan cita-cita yang pernah didamba. Namun tak banyak orang bercita-cita membangun kampung halaman. Kebanyakan, orang memilih pergi ke kota dan membangun kehidupan baru dengan segala kemapanan. Wishnu Mahendra lewat novel Kaki Langit Talumae mempersembahkan kisah apik tentang pentingnya memberi manfaat atau sumbangan bagi kemajuan kampung halaman.

Cerita bergulir lewat angan seorang Ashdar, seorang anak desa Talumae, jauh di pedalaman. Meski kesehariannya di kebun dan menjual rambutan, tak membuat benak Ashdar kehilangan impian. Dengan dorongan dari kisah-kisah dan nasihat yang sering disampaikan seorang mantan pejuang bernama nenek Resse, Ashdar dan teman-temannya; Irdan, Tenri, Wawan, Daud, berkenalan dengan makna perjuangan, nasionalisme, sampai makna cinta yang sesungguhnya. Dari sini Ashdar bermimpi menjadi pengusaha sukses, dan kelak akan membangun dusun.

Keadaan desa yang tak memungkinkan untuk mewujudkan cita-citanya, membuat Ashdar merantau ke Kalimantan dan bekerja di perkebunan karet milik Haji Sulaiman. Ashdar meninggalkan kampung beserta segala kenangannya, termasuk seorang teman perempuan yang selama ini ada di hatinya; Tenri. Di Kalimantan, kehidupan Ashdar dipenuhi rutinitas pekerjaan di perkebunan karet. Hingga suatu ketika, ia bersama Anto rekan kerjanya, mendapat kepercayaan dari bosnya mengelola toko mebel (hlm 249). Beberapa tahun kemudian, toko mebel berkembang pesat dan kesuksesan akhirnya ia raih.

Dalam suatu kesempatan ketika pulang ke dusun, Ashdar bersama teman-temannya memutuskan membangun jembatan yang telah lama diidam-idamkan warga. Lewat dana hasil kesuksesan mengelola toko mebel, ditambah bantuan beberapa warg, sebuah jembatan dengan kualitas terbaik dibangun (hlm 286). Jembatan itu menjadi simbol rasa cinta Asdar, Tenri, Wawan, Daud, dan anak-anak dusun lain akan kampung halaman. Meski sukses di perantauan, mereka tetap ingat dengan kampung halaman tempat dulu mereka dilahirkan.

Di samping tentang rasa cinta tanah air, novel ini juga berkisah tentang kisah cinta remaja. Rasa yang tumbuh dalam hati Ashdar dan Tenri sejak kecil dan bersama di dusun, masih tersimpan hingga keduanya berpisah mengejar impian; Asdar merantau ke Kalimantan, sementara Tenri kuliah ke kota Makasar. Hingga mereka kembali bertemu di dusun dan keadaan sudah berubah; Tenri dijodohkan dengan seorang lelaki.

Rasa terpukul jelas menghampiri Ashdar. Upaya mengejar cita-cita dengan merantau, tak lepas dari rencana untuk hidup bersama Tenri suatu saat nanti. Namun kenyataan tersebut membuatnya tersadar akan arti cinta sebenarnya, sebagaimana pernah disampaikan nenek Resse padanya; Jika kamu mencintai seorang gadis, tugasmu hanyalah menjaga gadis tersebut, mengayomi dan menyayanginya. Bukannya rakus atau serakah untuk memilikinya. Sebab jika suatu saat ternyata ia adalah tulang rusuk pria lain, maka kembalikanlah. Kembalikanlah dengan keadaan yang sebaik-baiknya tanpa retak bahkan patah.

Tidak ada yang tahu siapa jodoh kita. Saat muncul rasa cinta pada sorang gadis, seorang lelaki hanya bertugas menjaganya, sampai suatu ketika terjawab siapa sebenarnya yang menjadi tulang rusuk lelaki itu sebenarnya. Jika ternyata bukan gadis tersebut, ia harus merelakannya pada pemilik tulang rusuk yang sesungguhnya, mengembalikan dalam keadaan yang sebaik-baiknya, tanpa luka dan noda sedikit pun.

Novel remaja peraih juara ke-dua dalam lomba novel yang diadakan penerbit Tiga Serangkai ini menyimpan banyak pesan penting bagi generasi muda. Tentang pentingnya rasa cinta Tanah Air atau tanah kelahiran, kerja keras mewujudkan impian, juga tentang begaimana seorang remaja memandang dan membawa rasa cinta yang tumbuh di dada. Di samping itu, latar novel yang banyak mengeksplorasi budaya masyarakat Bugis melalui keseharian masyarakat Talumae, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, juga menjadi daya tarik tersendiri bagi novel ini dalam menampilkan salah satu khazanah kebudayaan di Indonesia*


Diresensi oleh Al Mahfud, penikmat buku fiksi, tinggal di Pati.

Menulis esai dan resensi buku di berbagai media masa.
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Tanah Kelahiran, Cita-cita, dan Arti Mencintai Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com