Latest News
Wednesday, November 7, 2018

Rosmiati, S.Si: Mata Uang Dinar Dirham Atasi Krisis Moneter

Rosmiati, S.S
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Alat tukar akan selalu ramai menjadi perbincangan khalayak ramai. Sebab uang merupakan alat yang dipertukarkan untuk memenuhi hajat hidup setiap orang. Akhir-akhir ini media geger dengan pemberitaan terkait melonjaknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Dilansir dalam media Tempo.com Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan nilai tukar bahkan bisa menembus Rp 15.200 hingga akhir tahun. 

Sementara itu, Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengatakan potensi dolar AS kembali menguat masih terbuka menyusul defisit anggaran pemerintah AS tahun fiskal 2017/2018 yang melebar. Beliau pula menambahkan bahwa melebarnya defisit itu membuat AS menarik utang lebi besar yang membuat reversal dana-dana asing dari negera lain dan membuat penguatan terhadap mata uang dolar AS. 

Meskipun pada sambutannya Sri Mulyani Indrawati pada Pertemuan Tahunan IMF - World Bank Group 2018 di The Laguna Resort Nusa Dua Bali beberapa pekan lalu mengatakan bahwa Postur APBN Kita sampai September 2018 menggambarkan APBN 2018 masih sangat baik posisinya dan lebih baik dari 2017. Namun hal ini perlu diwaspadai sebab potensi penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih akan terus terjadi. 

Hal ini senada dengan apa yang disampaikan Anggota Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat Ecky Awal Mucharam bahwa pemerintah tak bisa serta merta mengajukan revisi kurs nilai tukar rupiah begitu saja. Menurutnya, perlu ada diskusi mendalam lantaran komponen nilai tukar banyak mempengaruhi jeroan dalam APBN seperti belanja kementerian, subsidi, hingga suku bunga. 

Olehnya itu maka perlu untuk diwaspadai. Disisi lain utang luar negeri yang cukup tinggi ditambah lagi dengan subsidi nilai bunganya yang tidak sedikit menjadi lampu merah harusnya bagi pemerintah. Hal ini dapat terjadi akibat alat tukar (uang kertas) yang saat ini beredar, keberadaannya tak ditopang oleh logam mulia yakni emas dan perak. Maka peluang untuk terjadinya peristiwa-peritiwa krisis moneter sangatlah mungkin terjadi. 

Keberadaan Logam mulia (emas dan perak) menjadi sangat penting. Hal ini berhubungan dengan proses eksplorasi dan produksi. Maraknya kasus inflasi dikarenakan mudahnya alat tukar diproduksi dan tersebar di masyarakat. Disebabkan oleh bahannya yang mudah dan biaya produksinya juga yang terjangkau.

Untuk mencetak lembaran satu uang dolar AS biayanya 4 sen dolar. Jika 1 dolar senilai 10.000 maka nilai 4 sen dolar hanya Rp 400 (1 dolar=100 sen dolar). Akibatnya Bank Sentral AS sangat leluasa untuk mencetak dolar sampai berlebihan sehingga menimbulkan inflasi permanen. Begitu pula dengan uang kertas lainnya, Namun untuk mencetak uang emas senilai 1 dinar diperlukan 4.25 gram emas (Hamidi, 2007:37). Biaya eksplorasi dan produksi emas bisa terbilang tinggi dan tidak semudah uang kertas sebab untuk proses pembuatannya perlu melihat stock emas dan perak dari negara tersebut. Maka pastinya alat tukar ini tidak dengan mudahnya tersebar seluas-luasnya di tengah-tengah masyarakat. 

Sejarah mencatat bahwa selama penggunaan uang emas dan perak jarang dijumpai krisis-krisis moneter yang sebagaimana ramai dijumpai hari ini. Prof Dr Muhammad seorang guru besar pada STIES Hamfara menggambarkan bagaimana keunggulan penggunaan mata uang tersebut. Bahkan beliau menuturkan bahwa nilai kedua mata uang tersebut selalu naik dari tahun ketahun. Pada tahun 2000 nilai 1 dinar emas sebesar 38 Dolar AS. Dan 11 tahun kemudian tepatnya januari 2011 nilai tukar 1 dinar emas terhadap Dolar AS sebesar 190. Bisa dibayangkan berapa nilai tukar dinar dan dirham ditahun 2018 kini. Pastinya akan meningkat. Beliau pula menambahkan bahwa nilai mata uang emas dan perak ini stabil tidak berubah sepanjang masa. Jika harga 1 ekor ayam dizaman nabi sebesar 1 dirham perak maka diera saat ini 1400 tahun kemudian harga 1 ekor ayam tetap 1 dirham perak juga. 

Olehnya itu sangat jelas perbedaan antara uang kertas dan uang emas ataupun perak ini. Maka selama kita masih menggunakan uang kertas sebagai nilai tukar maka selama itu pula kita akan mengalami masalah dalam hal perekonomian. Hal ini juga akan mempengaruhi kehidupan masyarakat pada umumnya. Dimana daya beli masyarakat akan berkurang dikarenakan tingginya harga-harga barang. Ditambah lagi pendapatan masyarakat yang yang masih berada dibawah rata-rata. Maka Fenomena kemiskinan akan semakin meningkat. Keterbelakangan dalam segalah bidang kehidupan pun akan masih terus bersabahat dengan masyarakat di negeri ini. Alhasil kita akan semakin jauh dari yang namanya kesejateraan dan kemakmuran dalam hidup.

Negara kita dimasa silam pernah menggunakan alat tukar (emas dan perak) ini. Dan kini Indonesia jelas menghadapi permasalahan dalam hal mata uang. Olehnya itu perlu dipikrikan oleh para pemangku kebijakan agar bisa kembali menggunakan alat tukar dinar dan dirham yang telah terbukti bebas dari krisis moneter sebagai solusi untuk kesejateraan ummat pada umumnya. Wallahu ‘alam bishowab.[]
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Rosmiati, S.Si: Mata Uang Dinar Dirham Atasi Krisis Moneter Rating: 5 Reviewed By: radarindonesia news