Latest News
Wednesday, November 14, 2018

Siti Rahmah: Meneladini Rasul Mendidik Generasi Unggul

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - "Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah." (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 21).

Rasul sebagai uswah hasanah (teladan yang baik) memberikan teladan dalam segala hal. Bukan hanya sekedar dalam akhlak yang baik tapi dalam segala aspek kehidupan. Teladan bagi kepemimpinan, teladan sebagai suami, teladan sebagai pendidik. Pendidikan yang dicontohkan Rasululloh terbukti membawa pengaruh besar bagi perubahan masyarakat Arab.

Bangsa Arab, sebelum kedatangan Islam adalah bangsa yang tidak memiliki daya tarik di mata dunia. Baik dilihat dari sisi kehidupan sosial, budaya, ekonomi, letak geografis dan sumberdaya yang dimiliki. Realita ini menjadikan bangsa Arab sebagai bangsa yang tidak patut diperhitungkan dalam percaturan politik dunia. Kondisi ini persis seperti yang tergambar dalam Al Qur'an surat Al Jumu'ah ayat 2. Allah SWT berfirman:

"Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata," (QS. Al-Jumu'ah 62: Ayat 2)

Ayat ini jelas memberikan gambaran bagaimana kondisi masyarakat Arab sebelum hadirnya Islam. Dilihat dari sisi geografis pun wilayah Arab tidak terlalu menguntungkan. Kondisi padang pasir yang gersang tidak menawan dan tidak memiliki daya tawar ekonomi. Apalagi wilayah Arab terletak di tengah-tengah wilayah adidaya yang pada saat itu di sebelah barat ada Imperium Romawi yang begitu kuat, di sebelah timur ada kerajaan Persia yang tidak kalah hebatnya.

Di mata kedua negara adidaya itu Arab adalah bangsa yang tidak berarti dan tidak layak diperhitungkan. Pandangan negatif terhadap bangsa Arab ini bisa dilihat dari sikap yang ditunjukan oleh bangsa romawi ketika menerima utusan Rasuslulloh. Mereka mengganggap kedatangan bangsa Arab hanya untuk meminta sumbangan. Sehingga sebelum utusan itu menyampaikan tujuannya, Bangsa romawi dengan penuh kesombongan menawarkan bantuan makanan dan pakaian. 

Namun anggap bangsa Romawi itu terbantahkan ketika utusan Rasululloh itu menyampaikan tujuannya yaitu menyampaikan kebenaran Islam dan mengajaknya untuk mengimaninya. Seiring berjalannya waktu dakwah Islam mulai tersebar ke Jazirah Arab bahkan sampai akhirnya Islam mampu mengkoyak-koyak Kerajaan Persia. Dan di masa Turki Ustamani kekuasaan kekhilafahan Islam mampu menaklukan Romawi barat yaitu Konstantinopel di bawah pimpinan panglima terbaik yaitu Muhammad Alfatih. Sampai Akhir kekuasaannya Islam mampu tersebar sampai menguasai dua pertiga bagian dunia.

Tentu ini adalah prestasi tertinggi. Bangsa Arab yang tidak pernah masuk perhitungan akhirnya mampu membangun peradaban besar yang mengalahkan dua peradaban besar sebelumnya. Kekuasaan Islam menjadi mercusuar dunia. Tentu hal ini bukan karena kehebatan bangsa Arab, bukan pula karena bantuan negara adidaya seperti Romawi dan Persia. Tapi lahirnya peradaban besar itu karena bimbingan Islam, tuntunan wahyu dan ajaran yang dibawa oleh Rasululloh.

Dengan keistimewaan ajaran Islam, dengan methode pengajaran yang khas. Rasululloh mampu mencetak generasi yang berkualitas. Karena jika kita lihat dalam kitab karangan ulama-ulama besar, seperti kitabnya Imam Suyuthi mengatakan jumlah sahabat yang berjumpa dan berinteraksi dengan Rasululloh kurang lebih sebanyak 120.000 orang. Dari jumlah tersebut lahirlah sosok-sosok pemimpin yang mampu membawa umat menjadi generasi terbaik.

Prestasi seperti itu tentu bisa kita genggam kembali ketika dalam mempersiapkan generasi kita bisa mengambil pola seperti yang diterapkan oleh Rasulloh. Dalam menyiapkan generasi Rasululloh memadukan pembinaan dengan pilar yang akan mampu menopang kehidupan menuju kemajuan. Pola tersebut adalah pertama, peran keluarga dalam membentuk sosok manusia yang  memiliki jiwa kepimpinan. Keluarga sebagai pilar pertama membangun kepribadian yang unik, keluarga juga sebagai benteng terakhir pertahanan. Maka lahirnya sosok manusia bertaqwa yang mampu menjadi pemimpin bagi orang-orang bertaqwa bergantung kepada ketahanan keluarganya. 

Pribadi yang unik, kokoh memiliki jiwa kepemimpinan tinggi kelak akan mampu membawa bangsanya, membawa peradaban ke puncak kegemilanganya adalah keniscayaan. 

Pilar kedua adalah peran masyarakat. Kontrol yang tegas yang diberikan masyarakat bagi perkembangan pendidikan generasi akan berdampak signifikan. Jika masyarakat ini lahir dan terikat dengan perasan, pemikiran dan pelaturan yang sama. Masyarakat yang disatukan atas dasar itu akan menjadi masyarakat unik yang mampu menjadi kontrol terbaik dalam kelangsungan pendidikan generasi.

Pilar ketiga adalah peran negara. Tentu pilar ini adalah pilar terpenting, bagaimana tidak. Negara dengan kekuasaannya dengan kekuatannya akan mamapu membentengi, melindungi dan menjaga generasi dari virus-virus yang bisa merontokan visi dan misinya. Negara memiliki peranan penting dan sentral dalam melahirkan generasi unggul. 

Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasululloh dalam membina sahabat di Darul Arqom, kemudian Rasululloh pun mampu menyatukan sahabat dalam sebuah masyarakat, yang memiliki perasaan, pemikiran dan peraturan yang sama. Sehingga sudut pandang dan kontrol bisa berjalan sempurna. Yang terakhir Rasululloh yang juga sebagai Imamah menetapkan semua kebijakan yang mampu menghasilkan pemimpin dan generasi terbaik sepanjang abad kehidupan manusia.

Inilah pola yang digunakan Rasululloh dalam melahirkan generasi unggul yang menghantarkan peradaban kehidupan manusia berada dipuncaknya. Hari inipun kita akan mampu melahirkan generasi unggul dan berkualitas jika kita bisa meneladani Rasululloh dalam menyiapkan dan mendidiknya.[]
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Siti Rahmah: Meneladini Rasul Mendidik Generasi Unggul Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com