Latest News
Thursday, November 8, 2018

Sitti Komariah, S.Pd. I: Antrean Eksekusi Mati TKI, Rezim Sekuler Tak Punya Hati

Siti Komariah,S.Pd.I
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Tuti Tursilawati, Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Majalengka, Jawa Barat kembali menambah daftar panjang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang dieksekusi mati oleh Arab Saudi dengan tuduhan membunuh majikannya, padahal sejatinya ia hanya ingin melindungi diri dari perilaku bejak majikannya yang kerap melakukan pelecehan terhadapnya. Sebelum Tuti Tursilawati, ada beberapa TKI yang juga telah mengalami hal serupa, yakni eksekusi mati oleh Arab Saudi, TribunManado.co.id, (31/10/2018).

Yang sangat disayangkan, dalam kasus Tuti Tursilawati ini dilakukan tanpa ada pemberitahuan lebih terhadap pemerintah Indonesia. Sebagaimana dilansir kompas.com, (31/10/2018), presiden Joko Widodo pun menyesalkan tindakan eksekusi mati yang dilakukan oleh Arab Saudi terhadap TKI asal Majalengka, Tuti Tursilawati. Namun presiden Joko Widodo pun tak menampik bahwa ini bukanlah pertama kalinya Arab Saudi mengeksekusi mati WNI yang bekerja di sana tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu, Tribunnews.com, (31/10/2018).

Maraknya buruh migran perempuan yang bermasalah di luar negeri tak akan pernah muncul jika ada jaminan kesejahteraan dari negara  di dalam negeri. Karena mereka tidak perlu mencari kesejahteraan di luar negeri dengan meningalkan keluarga mereka, terlebih bagi seorang wanita yang harus meningalkan tangung jawabnya sebagai ummu wa robatul bait.

Pemerintah telah gagal menjamin kesejahteraan rakyatnya karena sistem yang diterapkan merupakan sistem hidup yang salah, dan rusak, serta tidak sesuai dengan fitrah manusia. Sistem yang hanya bersandar pada aspek manfaat saja, di mana apabila suatu aktivitas tidak memiliki manfaat terhadap mereka (para penguasa), maka aktivitas tersebut tidak akan dipedulikan lagi, dan begitu sebaliknya. Bahkan mereka rela mengorbankan kesejahteraan rakyatnya demi menggapai apa yang mereka inginkan dengan membuat kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan segelintir orang.

Sebagaimana yang kita rasakan bersama, banyak kebijakan yang dilahirkan oleh sistem saat ini terbukti telah menyengsarakan rakyat, dari mulai impor beras di tengah meluapnya ketersediaan beras di dalam negeri, semakin melemahnya rupiah, bahan-bahan pokok terus naik, biaya pendidikan tinggi, biaya kesehatan yang mahal, sehingga muncul slogan “orang miskin dilarang sakit”, hutang yang terus bertambah, dan lain  sebagainya, yang semua itu menambah beban hidup di negeri yang kaya akan sumber daya alam ini makin rumit dan sulit.

Sistem kapitalisme memang tak bisa diharapkan mampu mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya karena sistem ini tegak di atas asas dan pilar yang batil. Di mana kapitalisme menjadi biang kerok dari segala permasalahan yang ada di negeri ini. Kapitalismelah yang justru melahirkan kemiskinan, gap sosial, bahkan eksploitasi wanita, di mana wanita dituntut harus bekerja di luar rumah untuk mencari tambahan nafkah keluarga, bahkan tak sedikit dari mereka menjadi tulang pungung keluarga, dan mengabdikan dirinya di luar negeri dan mempertaruhkan nyawanya demi tercukupinya kebutuhan hidup keluarganya.

Hal ini jelas berbeda dengan Islam yang telah terbukti mampu menjamin kesejahteraan rakyat secara keseluruhan, dengan memberikan pelayanan pendidikan murah bahkan gratis, kesehatan gratis, dan terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat. Islam juga melindungi kaum perempuan dari segala bentuk eksploitasi, dengan mengembalikan kiprah sejati mereka yaitu menjadi ummu wa rabatul bait, pencetak generasi unggul, dan cerdas.

Dalam Islam perlindungan perempuan difasilitasi dengan diterapkannya hukum-hukum Islam secara kaffah. Di dalamnya terdapat aturan-aturan terkait perempuan yang menjamin terjaganya kehormatan mereka, baik dalam ranah domestik maupun ranah publik.

Dalam ranah publik, interaksi perempuan dan laki-laki sangat dijaga, dengan tidak membiarkan perempuan dan laki-laki melakukan ikhtilat (campur baur), berboncengan dengan bukan mahram, dan sebagainya. Interaksi antara laki-laki dan perempuan hanya dibolehkan dalam hal-hal tertentu seperti, jual beli, pendidikan, dan kesehatan. Begitupun saat perempuan keluar rumah, mereka diharuskan untuk menutup aurat, dan mereka dilarang bertabaruj.

Dalam ranah domestik, Islampun menjaga kehidupan perempuan dengan baik, dan memerintahkan para suami untuk menafkahi mereka, serta melindungi dan mendidik mereka, serta memperlakukan dengan baik. “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya, (HR. At-Thirmidzi). Sehingga tanpa kewajiban mencari nafkah serta adanya penerapan sistem ekonomi Islam yang mensejahterakan rakyatnya, maka para perempuan berpeluang besar untuk hidup nyaman di dalam rumah mereka, tanpa bingung memikirkan kebutuhan yang tak terpenuhi, dan mampu menjalankan kewajiban mereka menjadi ummu wa rabbatul bait, pencetak generasi yang unggul demi peradaban yang lebih baik. Bahkan merekapun masih memiliki waktu luang untuk melakukan dakwah.

Kemudian bukan hanya itu saja, Islampun akan memberikan sanksi yang tegas dan keras terhadap semua jenis tindak kejahatan, termaksud tindak pelecehan terhadap perempuan. Sebagaimana kisah heroik pada masa kekhalifahan Al-Mu’tasim Billah, khalifah kedelapan dinasti Abbasiyah dalam membela kehormatan muslimah dan kehormatan Islam. Pada saat itu ada seorang muslimah dengan pakaian rapi dan menutup seluruh auratnya sedang berbelanja. Namun orang Romawi mengaitkan pakaian wanita tersebut kepada sesuatu, sehingga pada saat wanita itu bergerak, tersingkaplah auratnya. Kemudian wanita tersebut berteriak dan memangil, Waa Mu’tasimaah!, yang artinya “dimana kau Mu’tasim, tolonglah aku”.

Saat teriakan wanita tersebut sampai ketelinga khalifah Al-Mu’Tasim. Beliau langsung memerintahkan panglima perang untuk mengumpulkan pasukan untuk memenuhi panggilan wanita itu.

Beribu-ribu pasukan diturunkan, banyak sekali sehingga apabila saat pasukan itu berbaris, maka pasukan terdepan sudah sampai di kota Ammuriyah, sedangkan pasukan yang ada di belakang masih di perbatasan kota Baghdad. Sebegitu seriusnya khalifah Al-Mu’tasim dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang kepala negara yang harus melindugi rakyatnya. Dan masih banyak lagi kisah-kisah heroik yang tercatat oleh tinta emas dalam pemerintahan Islam guna mensejahterakan rakyatnya, karena kepemimpinan dalam Islam merupakan tangung jawab yang akan dimintai pertangung jawaban, dan seorang pemimpin merupakan perisai dan pelindung bagi rakyatnya “seorang imam (khalifah) memelihara dan mengatur urusannya terhadap rakyatnya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dengan mekanisme yang sempurna tersebut yang berlandaskan oleh syariah Allah, baik melalui pendekatan kolektif (oleh negara), maupun pendekatan individual (sistem penafkahan), serta penegakkan hukum secara konsisten oleh negara, Islam akan mampu mewujudkan kesejahteraan hakiki bagi seluruh manusia tanpa terkecuali, dan tidak akan membiarkan semua bentuk eksploitasi terhadap perempuan. Wallahu a’lam Bish-shawab. []

Penulis adalah anggota komunitas Muslimah Media Konda, Konawe Selatan


  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Sitti Komariah, S.Pd. I: Antrean Eksekusi Mati TKI, Rezim Sekuler Tak Punya Hati Rating: 5 Reviewed By: radarindonesia news