Latest News
Wednesday, November 7, 2018

Wa ode Fela Sari, A.Md : Mahalnya Logika Di Negeri Alfateka

Wa ode Fela sari, A.Md
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Geger pembakaran bendera Tauhid oleh (oknum) Banser yang terjadi saat peringatan hari santri senin tanggal 22 oktober 2018 lalu rupanya berbuntut panjang. Semua elemen masyarakat bereaksi, tak terkecuali para petinggi di negeri ini. 

Menteri Koordinasi Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto menyatakan agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh informasi yang tidak benar atau hoax dari sumber yang tidak jelas (BERITAMUSLIM, selasa 23 oktober 2018), bahkan wiranto menyebut bahwa yang dibakar adalah bendera HTI sebuah Ormas yang telah dicabut BHPnya. Pernyataan serupa juga muncul dari Polda Jawa Barat dan Polda Banten, serta PBNU, tak ketinggalan juga pernyataan dari ketua Banser yang mengklaim bahwa yang dibakar adalah bendera HTI. 

KOREKSi NALAR

Pernyataan Wiranto tersebut jelas saling bertolak belakang, sebab di awal dikatakan untuk jangan percaya berita yang belum jelas tetapi di akhir dia justru mengambil kesimpulan prematur bahwa yang dibakar adalah bendera HTI yang artinya dia menentang pernyataan awalnya sendiri. 

Mereka sejak awal sengaja membangun narasi yang sama yaitu yang dibakar adalah bendera HTI bukan bendera Tauhid. Padahal dengan jelas dan gamblang Ustadz Ismail Yusanto (eks) Jubir HTI mengatakan dalam klarifikasinya bahwa itu bukan bendera HTI tetapi bendera Tauhid Bendera Rasulullah SAW sebab faktanya HTI tidak punya bendera, Muhammadiyah dan PERSIS juga menegaskan bahwa yang dibakar adalah bendera Tauhid, bahkan MUI melalui konferensi persnya telah mengeluarkan pernyataan resmi yang memastikan bahwa yang dibakar itu adalah bendera Tauhid. Tetapi para petinggi negeri ini dan Banser tetap mengatakan bahwa itu adalah bendera HTI.

Sungguh logika kita seolah menjadi tumpul. Tidak sedikit pernyataan Ulama termasuk UAS yang mempertegas kebenaran tentang bendera Tauhid Bendera Rasulullah SAW yang dibakar. Lembaga sekelas MUI pun tak lagi mereka percayai, sebab mereka sibuk membela diri dan menolak kebenaran dengan logika absurd untuk menyelamatkan muka. Terseok-seok bersilat lidah hanya demi kepentingan diri dan kroni. 

Lalu Ummat Islam dikejutkan lagi dengan tindakan aparat terhadap pelaku pembakaran. Pembakarnya dibebaskan karena tidak ada niat jahat sedangkan pembawa bendera Tauhidnya ditersangkakan sebab menjadi wasilah terjadinya pembakaran. Hal ini menjadi lebih aneh lagi sebab betapa sibuknya pemerintah dengan penjelasan-penjelasan kepada media untuk kasus ini, terlihat jelas oknum Banser yang melakukan pembakaran, tetapi pemerintah dan aparat yang sibuk klarifikasi sana sini. Nalar makin hancur, hukum jadi amburadul.

Mereka dengan lancang dan tanpa malu memutar balikkan logika umat Islam dengan narasi sepihak yang sesat berharap simpati dan pegakuan dari masyarakat yang jelas-jelas tak lagi peduli. Justru dijawab oleh umat dengan aksi bela Bendera Tauhid diberbagai daerah dan tuntutan bubarkan Banser. Akhirnya narasinya gagal total!.

SALAH URUS NEGARA MENGUNDANG MALAPETAKA

Bukan kali ini saja logika kita dipermainkan. Rentetan persoalan yang menimpa rakyat akibat salah kelola Negara terus menerus bertambah kian menyesakkan dada. Rakyat mengeluhkan persoalannya tetapi jawaban yang didapat malah makin menambah derita. Dan masih banyak lagi sikap dan pernyataan mereka yang sesungguhnya tak patut dilakukan oleh pihak dengan level dan posisi serta fungsi mereka sebagai representase Negara. Kelakuan tak pantas yang lari dari tanggung jawab atau bahkan tidak tahu bagaimana cara urus Negara. Hingga seolah-olah sama saja ada dan tiadanya mereka. Rakyat sibuk jungkir balik mempertahankan hidup tanpa sempat memikirkan tentang kesejahteraan sementara pemerintah sibuk menjungkir balikkan logika hanya demi mempertahankan posisi dan jabatan. Yang benar mereka katakana salah dan yang salah mereka klaim benar. Yang paling hot adalah pernyataan bahwa itu bukan urusan saya. Akal sederhana kita akan bertanya, jika bukan urusanmu, lalu urusan siapa?

Belum juga hilang rasa terkejut atas sikap dan pernyataan-pernyataan tersebut, muncullah alfateka. Entah apa maksud sebenarnya. Apakah hendak mengacaukan akal umat Islam yang telah sama mafhum akan AlQur’an ataukah salah penyebutan saja? Tetapi sayangnya semua kejadian demi kejadian itu hanya menambah keyakinan rakyat bahwa ada sesuatu yang salah. Sebab seawam-awamnya Muslim, tidak akan pernah salah menyebut nama surat dalam kitab sucinya.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran terhadap dampak kesalahan-kesalahan yang terus dipertontonkan. Tidak hanya kesengsaraan sebab hidup yang tak terurus oleh penguasa tetapi peristiwa bencana Lombok, palu, dan daerah lainnya susul menyusul adalah ikutannya sebagai peringatan bukan lagi hanya sekedar teguran apalagi ujian. Tetapi kejadian demi kejadian itu tidak juga menyadarkan mereka, bahkan dengan angkuhnya mereka tetap bertahan dalam kesalahan hingga mencari-cari dalih pembenarannya. Logika minggat, akal sakit, dan narasi sesat lagi menyesatkan. Siapa yang mencoba meluruskan akan kena delik berujung pidana. Paling ringan adalah ancaman bagi yang mencoba membantah.

Maka tunggulah malapetaka akan datang tanpa diduga-duga. Sebab undangannya sudah disebar melalui dosa dan kesalahan yang dibangun di atas logika yang juga salah lalu diperkuat dengan narasi sesat menyesatkan. Bagi yang tetap bertahan dengan akal sehatnya tetapi tetap diam tak bersuara, akan kena akibatnya juga. Ditambah tajamnya mata pemilik kuasa yang akan mengawasi gerak geriknya bahkan untuk berpendapat pun menjadi susah. Maka bagi yang masih lurus, semua jadi serba salah. Bersuara akan mendapat pidana, diam pasti akan menuai malapteka yang tidak hanya akan menimpa para pemerkosa logika dan fakta tetapi juga kepada orang beriman yang tak bersuara. So, Bersuaralah walau rezim kapitalis sekuler pasti akan berusaha dengan segala sumber daya yang mereka punya untuk meredamnya. Bersuaralah dan tetap jaga kewarasan walaupun mahal resikonya.

ISLAM MENDUDUKKAN LOGIKA

Logika atau akal dalam Islam harus tunduk kepada Syari’at. Apa yang dikatakan benar oleh syari’at maka benarlah dia dan apa yang dikatakan salah oleh Syari’at maka berarti salah. Akal berfungsi untuk memikirkan dan mengujinya dengan mengkomparasikan bersama dalil-dalil Syara’ juga fakta dan bukti-bukti. Sesederhana itu. Tanpa harus repot mencari-cari dalih mengklaim kebenaran hanya milik mereka sendiri dan menentang fitrah bahkan hati nurani.[]



  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Wa ode Fela Sari, A.Md : Mahalnya Logika Di Negeri Alfateka Rating: 5 Reviewed By: radarindonesia news