Latest News
Friday, December 28, 2018

Anna Ummu Maryam: Dilema Potensi Tsunami Dan Mahalnya Alat Deteksi

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Terjangan tsunami yang terus menghantui masyarakat di pesisir pantai indonesia terus dirasakan sampai hari ini. Kekhawatiran ini disebabkan terjadinya tsunami di Banten dan Lampung secara tiba-tiba tampa adanya potensi gempa besar seperti yang terjadi di Aceh dan Palu.

Tentunya hal ini harus diperhatikan oleh pemerintah. Mengingat indonesia sangat rawan akan bencana karena letak geografi indonesia yang strategis. Harusnya pemerintah memiliki pemikiran serius dalam memaksimalkan informasi dan alat deteksi dini agar diketahui oleh masyarakat, guna menghindari banyak jatuhnya korban.

BNPB menyebut ada 22 buoy tsunami di perairan Indonesia sudah lama tak beroperasi. Bagaimana solusi pemerintah bisa mendeteksi tsunami?

Kepala Bagian Humas BMKG Taufan Maulana mengatakan pihaknya selalu memberikan informasi terkait potensi terjadinya tsunami saat gempa tektonik. Menurut dia, alat pedeteksi gempa yang dimilikinya masih berfungsi dengan baik. 

"Sejauh ini BMKG selalu memberikan infomasi terkait potensi tsunami saat gempa tektonik terjadi. Kalau tidak bisa peristiwa-peristiwa kemaren nggak diinfo dong, terbukti alatnya berfungsi dengan baik," kata Taufan saat dihubungi, Rabu (26/12/2018).
(DetikNews. Com 27/12/2018).

Mahalnya Biaya Alat Deteksi

Adanya peringatan dan informasi yang akurat akan potensi bencana dan penanganan yang memadai guna keselamatan masyarakat, Inilah yang menjadi harapan masyarakat saat ini dalam menanggapi banyaknya bencana yang melanda negeri. 

Deputi Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa BPPT, Wahyu Widodo Pandoe menyebut ada 12 buoy yang tersebar di Laut Sumatera, Jawa, Flores, Maluku dan Banda. Dari 12 buoy, ada 9 buoy yang terbuat dari Indonesia, 2 buoy terbuat Amerika dan 1 buoy terbuat dari Malaysia. 

"22 buoy sebenarnya tidak pernah ada, ini cuma misleading, yang kita pasang hanya 12 buoy tersebar di Sumatera, Jawa, laut Flores, Maluku, laut Banda, ini yang buatan Indonesia hanya 9 buoy dan tiga buoy buat Amerika dan Malaysia," kata Wahyu saat dihubungi terpisah.

"Karena program (buoy) itu dihentikan karena tidak ada anggaran, 1 buoy tidak mahal, yang mahal sensor ratusan juta. Sensor tsunami sekitar Rp 200 juta. Instalasi mahal harus gunakan kapal riset, sehari Rp 120 juta kalau kita pasang ujung Sumatera sudah pulang pergi 10 hari, biaya pasang saja pun mahal, sayang sampai dirusak," jelas Wahyu.
(DetikNews.Com,  27/12/2018).

Terjawab sudah mengapa alat - alat mahal ini tidak berfungsi dan rusak. Namun seyokyanya pemerintah sebagai penjaga dan pemimpin rakyat harus memiliki alternatif cepat dalam merespon bencana yang akan dihadapi yang berkualitas namun tidak menyedot terlalu besar anggaran pemerintah.

Dan itu bisa saja dilakukan,  namun yang terjadi adalah sebaliknya. Bahwa indonesia sebenarnya telah memiliki alat deteksi namun tak pernah dirawat bertahun tahun sehingga alat menjadi rusak tampa fungsi.

Hal Ini dikuatkan oleh Kepala Pusat Data dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebut 22 Buoy tsunami di perairan Indonesia sudah lama tak beroperasi sejak tahun 2012. Ada solusi lain mendeteksi tsunami tanpa buoy. Sutopo mengungkap dalam InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System), buoy tsunami hanya menjadi salah satu bagian dari peringatan dini tsunami.

"Idealnya dalam InaTEWS semua komponen itu tersedia, baik dari hulu hingga ke hilir. Namun memerlukan peralatan dan biaya operasional yang cukup besar setiap tahunnya," pungkasnya.

Sebenarnya hal diatas tidak menjadi kendala apabila negeri ini diurus dengan baik. Dimana setiap potensi negeri di urus sendiri oleh negara sehingga hasil alam yang melimpah dapat dirasakan mamfaatnya oleh masyarakat dan membantu APBN secara besar.

Namun yang terjadi adalah sebaliknya,  bahwa sumber pendapatan negara bertumpu sebagian besar pada pajak, sedangkan potensi sumber daya alamnya dikelola oleh badan swasta. Dan  aturan ini lahir dari sistem kapitalis yang dijalankan saat ini. 

Maka wajar kita dapati ketidaktuntasan dan teurusnya penanganan bencana di negeri ini. Masihkah kita merasa bahwa sistem kapitalis dapat menyelesaikan masalah bencana secara tuntas?.

Solusi Bencana Dalam Islam

Islam hadir sebagai Way Of Life atas segala masalah manusia. Kesempurnaan aturan ini tidak terlepas dari sumber pembuat ituran itu sendiri yang Maha Sempurna dan Maha Mengetahui segala yang menimpa manusia yaitu Allah swt.


سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al Qur`an itu benar. Dan apakah Rabb-mu tidak cukup (bagi kamu), bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu”. [Fushilat/41 : 53]

Maka semua yang terjadi pada negeri ini,  hendaknya kita fahami bahwa bukan hanya karena fenomena alam saja namun juga karena tidak mengambil aturan islam sebagai standar perbuatan.

Membentuk individu yang bertaqwa adalah kuncinya sehingga manusia tidak lupa pada Allah dan terjebak dalam kenikmatan dunia saja. Setiap manusia larut dalam logika berfikirnya tampa mau mengaitkan dengan agama. Padahal bumi dan seisinya Allah lah yang menciptakan dan mengaturnya.

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

“Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”. [asy Syuura/42 : 30]

Maka hendaknya, negara kita yang mayoritasnya adalah muslim patut untuk memahami hal ini. Sehingga tidak menjadi hamba yang sombong dan melapaui batas.

Negara dalam pandangan islam sebagai penjaga dan pengurus urusan individu warga negaranya agar menjadi hamba yang taat terhadap perintah Allah semata bukan lainnya. Karena yang memiliki peran amat pentig dalam pencegahan rusaknya alam dan moral manusia adalah negara itu sendiri.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. [al A’raaf/7 : 96]

Maka jelaslah peran negara sebagai amar ma'ruf terbesar pada warga negaranya. Karena kemurkaan alam semesta yang terjadi pada manusia adalah karena kema'siatan mereka,  maka wajar jika Allah juga menimpakan musibah yang juga merata pada kita atas ketidakpedulian kita.

وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنجِيلَ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْهِم مِّن رَّبِّهِمْ لَأَكَلُوا مِن فَوْقِهِمْ وَمِن تَحْتِ أَرْجُلِهِم

“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (al Qur`an) yang diturunkan kepada mereka dari Rabb-nya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka”. [al-Maidah/5 : 66]

Negara juga berperan dalam menjaga keberlangsungan manusia dari bahaya bencana alam,  maksudnya bahwa negara harus memperhatikan penanganan serius akan hal ini yang anggarannya di ambil dari pengelolaan sumberdaya alam yang melimpah di negeri ini. 

Bahkan, jika di urus dengan benar maka pajak tidak perlu diambil. Karena keuangan negara selalu dalam keadaan yang berlimpah. Terurusnya alam dan manusia hanya kita dapati dalam sistem islam saja. Sedangkan sistem selain islam telah nyata kerusakan dan ketidakmampuannya mengurusi urusan manusia.

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. [at-Taubah/9 :71].

Hanya dengan mengambil islam kaffahlah bencana di negeri ini akan terpecahkan dan terjauhkan dari kemurkaan Allah.[]


Penulis adalah Pemerhati Lingkungan Dan Masyarakat 
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Anna Ummu Maryam: Dilema Potensi Tsunami Dan Mahalnya Alat Deteksi Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com