Latest News
Thursday, December 20, 2018

Dania Putri: Persatuan Umat Butuh Wadah, Khilafah

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Reuni 212 adalah bukti konkrit harapan umat untuk mewujudkan persatuan kaum muslimin. Persatuan takkan terwujud jika tiada kemauan yang kuat dari masing-masing dan itu suatu keniscayaan yang pasti. Siapa yang tidak menginginkan persatuan, kecuali orang yang punya kepentingan untuk dirinya.

Seiring dengan Pagelaran Reuni 212 berita yang membuat bulu kuduk begidik malah menjadi fakta baru sekaligus penampakan nyata dari kebobrokan sistem kapitalis ini. Tak ayal, telah diadakan Peringatan HUT ke 53 dari Operasi Papua Merdeka, merupakan kelompok separatime, yang dari awal berdirinya menginginkan pemisahan Papua dari Indonesia karena mereka merasa pemerintah seolah abai dari tanggung jawab dan menganak tirikan rakyatnya yang berada paling timur Indonesia ini.

Maka, berbagai tindakan dilakukan oleh OPM, yang dinamakan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), akhir-akhir ini. Sebelumnya, sebanyak 31 pekerja proyek jalan Transpapua yang sedang bekerja membangun jembatan di Kali Yigi dan Kali Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua, diduga dibunuh kelompok bersenjata, Ahad (2/12) malam. 

Polda Papua menduga sebanyak 24 orang dibunuh pada hari pertama, sementara delapan orang yang berusaha menyelamatkan diri di rumah anggota DPRD, tujuh di antaranya dijemput dan dibunuh KKB dan satu orang belum ditemukan(https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/pjdcef320#ampshare=https://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/18/12/07/pjdcef320-persatuan-mantan-tni-ad-aksi-opm-melebihi-teroris).

Motif tindakan sadis ini ialah rasa marah KKB kepada seorang pekerja proyek yang medokumentasikan kegiatan HUT KKB, Sabtu (1/12)(m.cnnindonesia.com).  

Sayangnya, pemerintah tidak menunjukkan upaya yang tegas dan nyata terhadap tindakan yang telah tergolong tindakan terorisme ini. Malah, hanya disebut sebagai Kelompok Kriminal Bersenjata atau Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata.

Apa yang membuat pemerintah seolah membiarkan? Bagaimana mungkin penanganan yang nyata-nyata tindakan terorisme dan separatime lebih ringan dari penanganan terhadap ormas Islam dan umat Islam yang menginginkan kehidupan dibawah naungan syari'ah Islam langsung dicabut BHP-nya dan dituding radikalis dan teroris?


 Dibalik Upaya Separatis 

Tampak sudah, sebenarnya julukan Terorisme itu hanya ditujukan pada umat Islam. Maka berbagai upaya dilakukan untuk membendung pertumbuhan dan kebangkitan Islam. Makar demi makar terus menerus digulirkan, ulama dipersekusi, reuni 212 dituduh ada muatan politik dan kampanye dari kubu oposisi.

Pemerintah beralasan, jika dilakukan penanganan ketat terhadap OPM, ditakutkan melakukan pelanggaran HAM. Ini menunjukkan ketakutan rezim terhadap ancaman para kapitalis yang sebelumnya mereka telah di dikte dan terdapat motif politik dan ekonomi. AS secara nyata menyebutkan bahwa mereka yang memasok bantuan senjata kepada OPM.

Secara jelas ini menunjukkan penegakan hukum yang sangat bias dan tidak independent. Penegakan hukum tidak berlaku kepada umat Islam, apalagi yang bersuara lantang menyuarakan kritik dan memdesak penerapan Islam. Inilah yang disebut perang ideologi dan pemikiran. 

Pemerintah tak mampu mengelola wilayah dan menjaga kesatuan rakyatnya. Selain AS berupaya mengusai Papua yang memiliki kekayaan alam melimpah dengan mengadu domba, juga keinginan memisahkan Papua dari Indonesia sehingga tak ada lagi penghalang mereka memeras semua sumber daya alamnya.

Lalu kemana orang-orang yang selalu menggaungkan NKRI harga mati, merasa paling Pancasilais dan menjaga kesatuan Indonesia?


 Khilafah Menjaga Keutuhan Wilayah 

Dalam Islam, upaya separatime merupakan tindakan Bughat dan menentang Khalifah dan penguasa wilayah khilafah. Separatime adalah hasil dari ikatan nasionalisme kesukuan, yang sangat lemah dalam mengikat umat. Sedangkan, Khilafah sangat menjaga wilayah dan memastikan ketakwaan individunya terjaga dan masyaarakat yang saling beramar ma'ruf nahi mungkar, sehingga memperkecil kemungkinan untuk melakukan tindakan bughat. Dan khilafah akan berupaya mencegah segala pengaruh tsaqofah yang akan memecah belah umat. Karena, Islam menjadikan halal haram, sebagai landasan dan tolak ukur dalam setiap tindakan.

Khilafah merupakan representasi kesatuan umat yang diikat dengan ikatan aqidah yang shohih yait aqidah Islam. Selain itu dibutuhkan kesatuan wilayah yang menjadi tempat bersatunya umat, yang dikomandoi satu pemimpin yaitu Khalifah.

Sebagaimana firman Allah dalam TQS. Ali-'Imran : 103, "Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk".

Dan persatuan menjadi hal yang paling vital, sedangkan perpecahan terjadi bilamana hukum manusia diterapkan seperti hari ini yang kekeh  tetap tidak mau diganti dengan sistem yang benar,telah dibuktikan secara historis dan empiris. 

Yang dilakukan khilafah jika terjadi prilaku bughat dengan memuhasabahi pelaku, namun mereka tetap melakukan Pemberotakan bahkan mengancam jiwa kaum muslimin, barulah mereka diperangi dalam rangka memberikan peringatan pada mereka bukan memusnahkannya.

Maka, khilafah itu tidak akan terwujud, bila Islam tidak terepresentasi pada diri setiap pejuangnya walaupun itupasti akan terjadi. Tinggal lagi, apakah kita sebagai umat muslim mau atau tidak memperjuangkannya. Karena, sesungguh jiwa dan harta kaum muslimin telah dibeli oleh Allah dengan Surga-Nya yang tak ternilai kenikmatan dan kekal di dalamnya. Wallahu a'lam bisshawwab.[]

Penulis adalah mahasiswi UIN Imam Bonjol Padang, Fak. Ushuluddin, semester III
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Dania Putri: Persatuan Umat Butuh Wadah, Khilafah Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com