Latest News
Wednesday, December 19, 2018

Eli Marlinda: Milenials dalam Pusaran Gawai

 Eli Marlinda
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Saat ini gawai dikalangan remaja tidak hanya digunakan sebagai media komunikasi saja, gawai dikalangan remaja sudah mejadi alat multi fungsi. Kamera salah satunya dapat dimanfaatkan oleh para pengguna gawai untuk mengabadikan moment – moment pribadinya. Selain itu fasilitas social media juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para remaja untuk bersosialisasi atupun menunjukan kreatifitas yang mereka punya. 

Gawai dan Remaja

Menurut Wikipedia Gawai adalah suatu peranti atau instrumen yang memiliki tujuan dan fungsi praktis yang secara spesifik dirancang lebih canggih dibandingkan dengan teknologi yang diciptakan sebelumnya seperti smartphone dan komputer tablet.

Tidak bisa dipungkiri di era milineal sekarang ini sangat sulit lepas dari gawai bahkan menjadi candu bagi masyarakat Indonesia terutama kalangan remaja. Dominasi pengguna media sosial adalah para remaja, yang usia bawah umurpun sudah memiliki akun media social pribadi baik itu facebook, Twitter, Instagram, Bbm, WhatsApp dan banyak lagi yang lain.

Padahal remaja merupakan generasi muda yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan yang akan datang, bangkit mundurnya suatu bangsa tergantung di tangan mereka. Jika remajanya berprestasi, masa depan suatu bangsa akan bersinar namun jika miskin prestasi bangsa suram pun menanti.

Berdasarkan laporan e-Marketer, pengguna aktif smartphone di Indonesia akan tumbuh dari 55 juta orang pada tahun 2015 menjadi 100 juta orang tahun 2018. Dengan jumlah tersebut, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah China, India, dan Amerika. (economy.okezone.com, 17/02/2018).

Hasil riset UNICEF bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika yang dipublikasikan pada 2014 menyebutkan, 30 juta anak dan remaja Indonesia intensif menggunakan internet. Mereka secara intens lima jam sehari menggunakan internet, sehingga apabila mereka kurang pemahaman soal penggunaan internet, dapat saja anak-anak tersebut menjadi korban dari kejahatan di internet.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa gawai ibarat pisau bermata dua yang dapat memberi manfaat dan juga berdampak buruk bagi siapapun yang tidak bijak menggunakannya. Keberadaan gawai sering memudahkan kita dalam mengakses informasi dan menjalin komunikasi jarak jauh, serta memanjakan kita dengan berbagai layanan aplikasi hiburan. 

Namun sayangnya juga, konsekuensi keberadaan gawai. di ranah kehidupan remaja boleh dibilang sangat berpotensi mengancam keberlangsungan program edukasi menuju generasi manusia yang paripurna.

Direktorat Reskrimsus Polda Metro Jaya mengungkap 6 kasus kejahatan di dunia maya yang melibatkan anak di bawah umur selama periode Mei 2016. Dalam kasus ini, ada beberapa anak di bawah umur yang merupakan pelaku kejahatan. "Ada 6 kasus yang diungkap tim Direktorat Reskrimsus Polda Metro Jaya selama kurun Mei 2016. 

Keenam kasus itu adalah perkara hacking Instagram, pornografi, penipuan online, penghasutan via Facebook, pengancaman bom hingga prostitusi online. "Dari 6 kasus ini ada 5 orang anak di bawah umur sebagai pelaku dan 2 orang anak di bawah umur sebagai korban," imbuhnya. (news.detik.com, 03/06/2016).

Fakta tersebut menjadi dasar kekhawatiran kita terhadap masa depan generasi saat ini yang hidup di zaman serba digital. Lihatlah tradisi remaja sekarang di rumah maupun di tempat-tempat umum, tidak jarang di antara mereka asik bercengkrama dengan yang namanya gawai. 

Tanpa pendampingan atau edukasi yang memadai terkait pemanfaatan gawai itu sendiri, sudah barang tentu anak-anak tersebut kapan saja dapat tergelincir dan menjadi korban cyber crime.

Wajar jika seorang dokter anak asal Amerika Serikat Cris Rowan mengatakan, perlu ada larangan untuk penggunaan gawai pada usia terlalu dini, yakni anak di bawah 12 tahun. Alasannya, sudah banyak penelitian yang membuktikan dampak negatif gawai pada mereka.


Pendidikan Remaja di Era Gawai

Sangat benar apa yang di tulis oleh ulama sekaligus pendidik yang di akui oleh Universitas Al-Azhar Syekh Taqiyuddin An-Nabhani bahwa menurut beliau bangkitnya seseorang itu karena pemikirannya. Orang bisa jadi baik karena kemungkinan banyaknya informasi yang positif menjadikan dia memiliki pemahaman akan sesuatu dan menggerakan dalam bentuk perbuatan yang positif pula, begitupun sebaliknya.

Dalam hal ini remaja adalah orang yang umur antara 12 sampai 21 tahun. Masa ini seseorang itu ibarat gelas kosong sedang mencari jati diri sehingga segala informasi baik itu yang positif maupun negatif masuk semua di gelas kosong tersebut. Disinilah pentingnya peran orang tua, guru bahkan negara dalam memberikan pendidikan terhadap remaja.

Pendidikan secara umum merupakan pranata kehidupan manusia, untuk membentuk jati diri dan membangun generasi umat yang lebih berkualitas. 

Keluarga menjadi institusi pertama dan utama dalam memberikan pendidikan bagi anak-anak, sedangkan sekolah sebagai institusi formal tempat buah hati menimba ilmu dan mengembangkannya. 

Proses pendidikan itu sendiri harus dapat mentransformasikan beragam ilmu pengetahuan, sikap perilaku dan pengabdian dalam kehidupan secara komprehensif termasuk langkah-langkah cerdas memanfaatkan buah karya dari kemajuan teknologi.

Tidak dapat dipungkiri, globalisasi zaman mendorong manusia untuk mengenal dan menguasai canggihnya teknologi, semisal Gawai. Kehidupan generasi gawai secara langsung maupun tidak langsung menuntut internet menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas sehari-hari. 

Oleh karena itu, sangat diperlukan ikhtiar untuk meningkatkan kesadaran, pengetahuan dan keterampilan orang tua dalam proses mendidik anak-anaknya yang kaitannya dengan keselamatan mengoperasikan gawai atau gawai. Jika tidak, semua rujukan dan guru mereka adalah apa yang ada di internet. 

Memang internet memudahkan, tetapi internet dan gawai tidak pernah bisa mengajarkan tata-krama, adab dan akhlaq. Sebab, hal itu hanya dapat diperoleh dengan melihat dan langsung bersentuhan dengan para guru, kiai dan ulama.

Pada lingkup keluarga, mendidik generasi gawai tidak lantas melakukan pembiaran terhadap anak-anak untuk bebas mengakses gawai dan sebaliknya melarang sama sekali, karena cepat atau lambat anak-anak zaman sekarang akan berkenalan juga dengan yang namanya gawai. 

Pihak orang tua harus hadir mendampingi anak-anaknya di saat mereka sedang membutuhkan aktivitas tambahan dan atau hiburan yang melibatkan gawai. Harus ada batasan dan aturan yang disepakati antara orang tua dan anak-anak sebelum perijinan pemakaian gawai dikeluarkan.

Psikolog anak Annelia Sari Sani mengatakan, aturan utama yang orang tua harus pahami dalam penggunaan gawai pada anak adalah anak-anak usia di atas dua tahun maksimal penggunaannya adalah dua jam. 

Sementara anak-anak di bawah dua tahun jangan dikenalkan sama sekali dengan gawai, termasuk televisi dan lainnya. 

Banyak penelitian-penelitian yang mengatakan bahwa anak di bawah dua tahun yang tidak dikenalkan dengan teknologi, kemungkinan adiksinya menjadi semakin kecil. Hal ini disebabkan anak usia ini mereka masih belajar dengan cara melihat dan mendengar atau audiovisual. (viva.co.id, 27/1/2017)


Solusi Tuntas di Zaman Milenial

Ibarat arus air, arus tidak bisa di lawan tapi kemudian bisa dibuatkan bendungan dan saluran irigasi sehingga arus air itu bisa mengalir mengairi sawah-sawah yang sangat berguna untuk kehidupan petani.

Gawai sama dengan arus air, tinggal Negara selaku kekuatan praktis untuk membuatkan sistem aturan agar gawai kemudian tidak diberikan ruang untuk hal-hal yang negatif misalnya semua konten yang tidak jelas baik aplikasi maupun konten yang merugikan tinggal di blokir agar tidak bisa di akses maupun di install di Sistem baik Windows,Android dan sebagainya. 

Negara harus memberikan pendidikan melalui KomInfo baik itu di media sosial maupun di TV tentang gawai yang aman misalnya di TV jangan hanya disajikan iklan-iklan Gawai yang secara konten berbau ekploitasi perempuan syarat menampakkan aurat dan hedonis saja. 

Begitupun peran orang tua seperti penjelasan sebelumnya agar mendampingi dan mengawasi anak-anak kita tinggal diberikan pemahaman yang utuh bahwa Gawai itu hukumnya mubah penggunaannya. 

Kalau gawai digunakan untuk berkomunikasi dengan orang tua, saudara yang jauh bahkan dipakai untuk membantu menghafal Al-Qur’an maka itu boleh dan diberikan apresiasi yang positif.

Tetapi kalau gawai justru melalaikan dari shalat dan belajar maka penggunanaan menjadi haram dan siap-siap dengan pertanggungjawabannya di yaumul Hisab. 

Dengan memberikan informasi dan pemahamahan kepada remaja dan anak-anak kita secara terus-menerus akan menjadi suatu pemahaman yang melahirkan perbuatan. Dan tentu gawai dengan sendirinya bisa digunakan ke hal-hal yang positif. Tinggal pertanyaannya, apakah kita sebagai orang tua sudah siap?[]

Penulis adalah Guru di Ponpes Al-Anwar, Bima


  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Eli Marlinda: Milenials dalam Pusaran Gawai Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com