Latest News
Wednesday, December 5, 2018

Rosmiati, S.Si: Menikah Itu Mencari Bahagia Bukan Nestapa

 Rosmiati, S.S
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Menikah ialah harapan segenap insan manusia. Didalamnya tersirat maksud, bersamanya akan menemui bahagia bahkan hasrat untuk bahagia itu diperluas, agar tidak hanya di dunia melainkan juga di akhirat. Namun, berbeda dengan nasib seorang anak asal indramayu berinisial Y. Melalui Media CNN Indonesia edisi 29/11/18, kisahnya dirilis. Y yang menikah ketika usianya baru 15 tahun itu, hidupnya harus berakhir tragis di tangan suaminya sendiri. 

Alkisah, sebelum menikah keduanya berpacaran. Karena tak ingin menanggung malu dan khawatir akan terjerumus ke kubangan dosa zina. Maka orang tua kedua bela pihak pun sepakat untuk menikahkan putra dan putri mereka. Meskipun usia sang putri masih belum genap 17 tahun. Nasib malang pun menimpah sang anak. Rupa-rupanya menikah bukan lah jalan terbaik. Alih-alih ingin melindungi sang anak. Puteri tercinta mereka malah merenggang nyawa dalam bantera rumah tangganya. Sang puteri ditemukan tak bernyawa dengan luka disekujur tubuhnya akibat tindak kekerasan sang suami.

Kisah ini pun menuai respon dari khalayak ramai. Dikarenakan isu agama dibawah-bawah. Dimana asal muasal pernikahan sang puteri adalah i’tikad baik dari orang tua agar anak-anak terhindar dari aktivitas perzinahan. 

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto pun angkat bicara akan hal ini. Beliau pun menjelaskan bahwa pemicu pernikahan di bawah umur cukup kompleks. Faktor budaya, patronase sosial, ekonomi, hingga pemahaman akan agama. Faktor agama kerap muncul dalam kasus perkawinan anak ketika alasan menghindari zina seperti yang terjadi di kasus Y menguat. Susanto menyebut hal itu bukan dalih yang tepat. Ia melihat ada jalan lain yang bisa digunakan untuk menghindari zina. "(Agama) tak boleh dijadikan dalih. Pastikan usia anak mengakses pendidikan secara maksimal. Jika ada kendala biaya, pemerintah daerah harus membantu," ucap Susanto kepada CNNIndonesia.com, Selasa (27/11).

Senada dengan itu, Anggota Komisi Nasional Anti kekerasan terhadap Perempuan, Magdalena Sitorus justru mempertanyakan balik apakah untuk menghindari zina pada anak harus diselesaikan dengan jalur perkawinan. Ia berpendapat ada banyak alasan yang perlu dicermati sebelum orang tua dengan gegabahnya menikahkan anak-anak di bawah umur, mulai dari kesiapan fisik, mental, kemandirian sosial dan ekonomi."Apakah ketika khawatir akan zina solusinya adalah melakukan pernikahan anak? Justru perzinaannya yang harus diselesaikan," (CNNIndonesia.29/11/18). 

Kasus kekerasan yang menimpah saudari Y hingga berujung pada kematian. Semakin menambah catatan kelam tragedi pilu kaum perempuan di negeri ini. Berdasarkan data yang dilaporkan oleh UNICEF pada 2017, Indonesia masuk pada urutan ke-7 di dunia dan ke-2 di tingkat regional Asia Tenggara sebagai negera dengan angka pernikahan dibawah umur. .(CNNIndonesia29/11/18).

Capaian ini tentunya tidak masalah jika dilihat dari sudut pandang agama. Sebab dalam Islam pun tidak ada ketentuan dan batasan untuk menikah. Bahkan ibunda Aisyah ra (semoga Allah merahmatinya) menikah dengan Rasulullah saw ketika usianya masih sangat belia. Bahkan ada riwayat yang menyebutkan saat itu Aisyah masih dengan memegang mainannya. 

Namun, ada perlakuan istimewa yang kala itu yang dilakukan oleh Nabi Saw. Dimana beliau tidak menyentuh Aisyah dalam hal pemenuhan naluri seksualnya sampai Aisyah baligh (dewasa). Jadi, selama itu, sang nabi memperlakukan Aisyah dengan baik, santun dan memuliakannya. Memahami akan sikap kekanak-kanakan. 

Kondisi ini tentu tidak bisa disamakan dengan fakta kehidupan hari ini. Dimana masyarakat telah terjangkit virus sekuler (pemisahan agama dalam kehidupan) agama pun enggan dibawa didalam kanca pergulatan interaksi sehari-hari. Akibatnya pemahaman agama sangat jauh dari masyarakat. Hal ini pun teraktualisasi dalam visi dan misi pernikahan yang sangat jauh aroma agama bahkan amanahnya sebagai suami atau isteri itu tidak diketahui dan dipahami. Menikah pun hanya dijadikan sebagai ajang pemuasan nafus belaka. 

Maka sejurus dengan data UNICEF sebelumnya, KPAI pada 2011-2018 merilis sebuah data bahwa terdapat 101 anak korban pernikahan di bawah umur, 79 di antaranya adalah perempuan. Sedangkan ditahun 2018 ini, KPAI mencatat ada 12 korban dari fenomena ini.(CNNIndonesia29/11/18). Memperkuat realita bahwa memang dalih untuk menghindari zina dan lainnya tanpa dibarengi dengan pemahaman agama serta kesiapan mental itu tidak mampu menghasilkan sesuatu yang mulia dalam pernikahan. 

Oleh karena itu, orang tua pun harus paham akan kondisi sang anak. Bahwa ketika sang anak terlibat pacaran, cara untuk menghentikannya bukan dengan semata-mata menikah kan. Apalagi kondisi mental dan psikis sang buah hati belum matang. Bagus, jika anak memang sudah siap untuk membina bahtera rumah tangga. Maka solusi menikah itulah yang paling efektif.

Lagi-lagi peran orang tua untuk kembali memberikan dan menanamkan nilai-nilai agama sejak dini kepada anak menjadi penting dan utama. Mencegah lebih baik dari mengobati. Prinsip itu harus dipegang oleh setiap pendidik. Maka jauh sebelum anak mengenal istilah ketertarikan dengan lawan jenis. Hal ini sudah harus disampaikan, bahwa pacaran tidak diperbolehkan oleh syariat. Bahkan dilarang sangat keras. Sebab dari sanalah pintu zina itu berawal. Dan zina selalu menistakan pelakunya dan keturunannya.

Selain itu, perlu ada penyadaran kepada generasi bahwa menikah adalah ibadah yang akan dimintai pertanggung jawabannya oleh sang maha kuasa kelak. Karena ia ibadah, maka harus disertai dengan ilmu yang memadai. Sebab ibadah tak mampu berjalan tanpa ilmu. Selain itu, kesiapan mental, fisik dan psikis juga diperhitungkan. Sebab di dalam biduk rumah tangga terdapat setumpuk amanah dan peran yang harus dimainkan. Memacu ketangguhan serta kesiapan para pelakonnya. 

Seorang Suami harus paham akan tuganya sebagai pemimpin atas anak dan isterinya. Ia harus paham akan janji sucinya kepada wali/orang tua sang isteri dulu bahwa ia telah mengambil tanggung jawab ayahnya untuk kembali mendidik, melindungi dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik bukan malah menyakiti bahkan mencelakainya hingga nyawanya pun menjadi terancam ditangannya. Isteri pun harus paham akan perannya sebagai isteri, pengatur rumah, mengurusi suami dan anaknya. 

Untuk mencapi itu dibutuhkan peran negara. Dimana negara harus hadir memberikan edukasi yang memadai kepada rakyatnya. Baik dari sudut pandang Agama dan lainnya yang dapat menunjang kualitas kehidupan rumah tangga seluruh warganya. Negara pula harus memahami bahwa baiknya pilar-pilar dalam kehidupan keluarga akan berpengaruh pada baiknya kehidupan bernegara. Maka mengupayakan hal itu menjadi agenda yang masuk dalam skala prioritas untuk dilakukan. 

Wallahu’alam.[]
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Rosmiati, S.Si: Menikah Itu Mencari Bahagia Bukan Nestapa Rating: 5 Reviewed By: radarindonesia news