Latest News
Thursday, December 20, 2018

Witri Osman: Poligami Dan Serangan Terhadap Islam

Witri Osman
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA  -  Islam membolehkan seorang lelaki memiliki istri lebih dari satu, atau poligami. Hal ini menimbulkan berbagai hujatan, dari orang yang berpikiran dangkal, juga prasangka buruk dari pembenci Islam, yang tiada pernah lelah menyebarkan propaganda busuk menyesatkan, untuk menyerang syariat Islam. Mereka menyodorkan fakta yang salah, berdasarkan asumsi belaka, sekaligus mencari-cari dalih untuk membenarkannya. Penolakan itu bukan hanya menampakkan, ketidakpahaman mereka tentang poligami, tapi ada api kebencian besar yang mendendam.

"PSI tidak akan pernah mendukung poligami. Tak akan ada kader, pengurus, dan anggota legislatif dari partai ini yang boleh mempraktikkan poligami," kata Grace dalam pidato politiknya. Dia menyampaikan, berdasarkan riset LBH APIK tentang poligami, menyimpulkan bahwa pada umumnya praktik poligami menyebabkan ketidakadilan, yang mengakibatkan perempuan yang disakiti dan anak yang ditelantarkan.(Metrotvnews.com)

PSI menurutnya percaya memperjuangkan keadilan dan penghapusan diskriminasi harus dimulai dari keluarga dan rumah. Maka, untuk mewujudkan hal itu, pihaknya menentang praktik poligami. Hal itu lalu disambut baik oleh berbagai pihak, ada yang mengaitkan poligami dengan korupsi, bahkan lebih sadis lagi yaitu mengaitkan poligami dengan radikalisme.

Dalih bahwa syariat poligami itu memicu kekerasan terhadap perempuan dan anak, adalah logika absurd. Sementara banyak kasus kekerasan yang dialami perempuan dan anak, terjadi di luar pernikahan atau bahkan terjadi pada pernikahan tunggal (monogami). Artinya, soalan kekerasan ini tak layak dikaitkan dengan poligami atau monogami, bukan itu titik temunya. Seolah kaum pendengki sedang menyesatkan umat, untuk luput melihat dengan jernih, bahwa ancaman demi ancaman terhadap perempuan dan anak terjadi, karena penerapan sistem Kapitalisme Demokrasi memproduksi segala pemicunya persoalan.

Korupsi yang terjadi di negeri ini sudah sistemik, yang melibatkan negara sebagai penanggungjawabnya.  jadi, orang nekad melakukan korupsi bukan karena poligami. Tapi karena sistem demokrasi ini yang buruk. Sebaik apapun seseorang, ia akan cenderung menjadi buruk dalam sistem ini.  Lihat saja berapa banyak sudah anggota partai dan kepala daerah baru-baru ini yang terjaring OTT? Dan grafiknya cenderung meningkat saat musim Pilpres, Pilkada dan Pileg, karena Demokrasi berbiaya tinggi.

Penerapan sistem ekonomi kapitalisme jadi pemicu kasus- kasus perceraian. Selama 4 tahun rezim ini berkuasa, banyak kebijakan ekonomi yang tidak berpihak kepada keluarga, harga-harga kebutuhan pokok meroket. Sistem ekonomi yang eksploitatif yang memiskinkan. Rezim yang memberikan jalan kepada kapitalis global untuk menguasai perekonomian negeri. 
Sistem pergaulan yang rusak, dekadensi moral. Sistem hukum yang tidak berkeadilan. Tajam ke bawah, tumpul ke atas.
Sistem politik yang ambigu yang diterapkan oleh negara. Yang meng hilangkan kepercayaan kepada pemerintah. Hingga membuat kehidupan keluarga amburadul. Hilangnya keharmonisan dalam keluarga dan masyarakat , sehingga negaralah yang paling bertanggungjawab atas maraknya kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Negara mati fungsi, tak mampu mengurus dan menjaga rakyatnya. 

Sumber masalahnya adalah karena diterapkannya Demokrasi dengan jargon kebebasan, bebas bicara, mempersekusi,   menyerang islam, tanpa ada yang mampu menghentikannya apalagi menghukumnya. Karena kebebasan berpendapat  dilindungi oleh negara.

Termasuk serangan beruntun terhadap poligami. Sehingga harus ada upaya masif untuk membendung opini negatif yang menyerang syariat. Umat Islam tak boleh diam, apalagi termakan fitnah yang ada. Seluruh komponen umat harus bersatu dengan kesadaran politik Islam yang luhur, bergerak bersama untuk mewujudkan kekuatan politik Islam global yang akan menghentikan segala bentuk serangan terhadap Islam.

Wallahu a'lam.
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Witri Osman: Poligami Dan Serangan Terhadap Islam Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com