Latest News
Thursday, January 10, 2019

Etti Budiyanti: Ide Tes Baca Al Qur'an vs Kadar Keimanan Pemimpin

Etti Budiyanti
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Sebentar lagi, tepatnya hari Rabu tanggal 17 April 2019, rakyat Indonesia akan melaksanakan pesta demokrasi. Pemilihan Umum untuk memilih pemimpin Indonesia masa depan. Kompetisi antar capres cawapres mulai panas dengan isu keagamaan. Perang kata-kata selalu menyapa di beranda-beranda sosial media. Salah satunya isu ide baca Al Qur'an bagi calon Presiden dan calon Wakil Presiden.

Dilansir dari Tribunnews.com (30|12|18), Ikatan Da'i Aceh mengundang dua kandidat calon Presiden RI untuk tes baca Al Qur'an.  Rencananya acara akbar ini akan dilaksanakan tanggal 15 Januari 2019.

Selain itu usulan pendakwah dari Aceh ini bertujuan untuk mengakhiri polemik keislaman Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga. Pun, tes baca Al Qur'an dinilai untuk meminimalkan politik identitas yang sudah terlanjur dilakukan oleh pendukung kedua pasangan calon.

Berbagai respon muncul menanggapi usulan ide baca Al Qur'an tersebut. Anggota Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga, Ferdinand Hutahaean menghormati usulan itu, namun tak sepakat dengan alasan capres bukan pemimpin negara syariah. Partai Gerindra menolak undangan tersebut. Menurut Gerindra, hal semacam itu tak substansial dalam menentukan kualitas seorang capres.

"Yang sangat dan lebih penting adalah pemahaman terhadap isinya (Al Qur'an) dan bagaimana mengamalkannya secara demokratis dan konstitusional di NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945," kata Ketua DPP Gerindra Sodik Mujahid. Adapun Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Hajrianto Thohari mengatakan bahwa syarat dari Komisi Pemilihan Umum sudah cukup, tak perlu ditambah lagi.

Ide tes baca Al Qur'an untuk Capres dan Cawapres serta respon terhadapnya merupakan salah satu bukti bahwa dalam demokrasi Al Qur'an hanya jadi alat permainan politik untuk memenangi persaingan di satu sisi dan keberadaannya tidak penting di sisi lain.

Padahal Al Qur'an adalah wahyu Allah sekaligus petunjuk hidup yang wajib atas seluruh kaum
muslim untuk mengamalkan isinya dengan kaffah.

Kadar Keimanan Pemimpin
Islam  merupakan agama yang sempurna. Semua persoalan dalam kehidupan manusia telah diatur dalam Al-Quran, baik persoalan agama, politik, ekonomi maupun sosial. Dalam konteks politik misalnya, Islam telah mengatur segala persoalan yang berkaitan dengan politik, negara dan kepemimpinan, termasuk masalah memilih pemimpin. Pemimpin yang Islam, bukan kafir, sebagaimana   firman Allah dalam Surat Al Maidah 51yang artinya :

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim."

Pemimpin yang beriman pastilah pemimpin yang bukan hanya pandai membaca Al Qur'an tetapi  mau menerapkan apa yang ada dalam Al Qur'an karena Al Qur'an adalah petunjuk hidup umat Islam.
Al Qur'an sebagai petunjuk hidup, akan menunjukkan jalan yang benar dan bathil, perkara yang halal dan yang haram, yang diridhoi dan dimurkaiNya, dan yang akan mengantarkan ke surga ataukah ke neraka.

Sebagai layaknya petunjuk, maka Al Qur'an harus dibaca dan dipahami, juga wajib diamalkan dan diikuti segala ketentuannya. Bagi pemimpin, kewajiban paling besar baginya adalah menerapkan seluruh isi Al Qur'an. Sebab banyak ayat al Qur'an yang hanya bisa dijalankan oleh seorang pemimpin.

Ironinya, para politisi sekuler itu justru kerap mengeksploitasi agama untuk kepentingan politik mereka. Contohnya : memamerkan ibadah , memberi bantuan ke pesantren-pesantren. Tujuannya bukan memuliakan Islam, apalagi menerapkan Islam, tetapi sekedar mencari simpatik untuk mendulang suara saat Pemilu dan untuk menjatuhkan kubu lawan.

Begitulah tabiat politik sekuler. Menjauhkan agama dari kehidupan berpolitik dan bernegara. Namun di lain waktu, tanpa rasa malu sedikitpun, mereka mengeksploitasi agama demi memuluskan politik mereka.

Sudah saatnya umat mencampakkan sistem sekuler dan menggantinya dengan sistem Islam yang mensejahterakan muslim dan nonmuslim.

Karena itu, jangan hanya tantangan untuk membaca Al Qur'an. Yang lebih layak untuk dijadikan tantangan adalah : beranikah mereka menerapkan hukum - hukum Al Qur'an? Sebagaimana firman Allah Surat Al Maidah 50 :

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS Al Maidah ayat 50). Wallahu a'lam bishshowwab.[]


*Penulis adalah anggota Komunitas Muslimah Rindu Jannah dan Akademi Menulis Kreatif
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Etti Budiyanti: Ide Tes Baca Al Qur'an vs Kadar Keimanan Pemimpin Rating: 5 Reviewed By: radarindonesia news