Latest News
Friday, January 11, 2019

Ratna Munjiah: Islam Menjaga Keutuhan Keluarga

Ratna Munjiah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Membangun bahtera rumah tangga adalah impian setiap jiwa. Banyak hal yang dibayangkan pada saat ingin membina sebuah rumah tangga, segala rencana tertulis dengan rapi, harapan dan cita-cita terencana dengan baik. Tentu tidak ada satupun pasangan yang menginginkan akan berakhir dengan sebuah perceraian. Namun, menyedihkan saat ini justru cita-cita dan impian yang direncanakan pada kenyataannya berakhir dengan perceraian.

Banyak kasus  perceraian terjadi, bukan saja dikalangan selebritis namun dikalangan masyarakat umum. Seperti yang diberitakan (tribunkaltim.co, Tanjung Redeb, 3/1/2019) memperingati Hari Amal Bhakti ke-73 Kementerian Agama. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyoroti tingginya kasus perceraian. Melalui sambutannya yang dibacakan oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Berau, Muhammad Gazali saat memimpin upacara peringatan itu, menyinggung soal meningkatnya kasus perceraian, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan perikahan dini yang semakin meningkat.

Sepanjang tahun 2018 saja, pengadilan agama telah memutus 637 perkara rumah tangga. Jumlah tersebut meningkat jika dibanding tahun 2017 yang hanya 580 perkara. Dari 637 perkara tersebut, 509 kasus atau 65 persen dari perkara persidangan merupakan kasus perceraian.

Maraknya perceraian yang terjadi  saat ini, dikarenakan banyak Pasutri (Pasangan Suami Isteri) yang tidak paham tujuan berumah tangga, ditambah lagi dengan lemahnya iman antara pasangan, kebahagiaan dunia menjadi poros kehidupan.

Saat ini harapan bahwa negara mampu menjamin kehidupan keluarga rasanya bagai impian yang entah kapan terwujud. Sistem kapitalis telah menciptakan batasan antara mana yang harus diurus oleh negara mana yang tidak. Asas manfaat menjadi satu-satunya landasan dalam mengurus rakyatnya. Permasalahan  rumah tangga atau keluarga tidak akan diurus karena tidak ada manfaat yang dihasilkan atasnya maka negara tidak akan mau peduli “selesaikanlah sendiri”.

Berbeda dalam Islam. Islam mampu mengatasi segala problematika kehidupan, dalam Islam tidak ada batasan problematika yang harus diurus. Karenanya, maka Islam dikatakan sebagai agama yang Rahmatan Lil ‘Alamin.

Islam mengajarkan kasih sayang, tak terkecuali dalam urusan rumah tangga. Tujuan dalam berumah tangga yakni dapat merasakan kasih sayang dan ketenangan. Allah SWT telah menjelaskan bahwa pernikahan adalah tempat ketenangan bagi suami-istri (QS. ar-Rum(30):21).

Ketenangan dan kasih sayang tercipta dari pergaulan yang baik diantara suami-istri. Mereka menempatkan pasangan sebagai sahabat satu sama lain. Masing-masing menyertai pasangan saat suka dan duka, saling memenuhi kebutuhan masing-masing, memahami keinginan dan harapan masing-masing. Lebih dari itu, Sesungguhnya terdapat hubungan timbal balik yang secara prinsip telah Allah tetapkan pada diri mereka sebagai hak yang dimiliki masing-masing yang wajib dipenuhi oleh pasangannya (Lihat: QS. al-Baqarah (2):228).

Dalam kehidupan Rasulullah SAW, ketenangan dan ketentraman rumah tangga diberi perhatian penting oleh beliau. Dalam khutbah haji Wada Rasulullah SAW berpesan agar para suami berlaku baik kepada istri-istrinya.
”Bertakwalah kepada Allah dalam perkara perempuan. Sungguh, kalian telah mengambil mereka dengan amanah Allah, pada mereka ada hak rezeki (makanan) dan pakaian yang baik.

Saat terjadi ketidakseimbangan dalam pemenuhan hak suami ataupun istri tentu akan memunculkan masalah dalam rumah tangga dan permasalahan tersebut muncul secara sistemik.

Selain situasi masyarakat yang dilanda berbagai krisis, suami maupun istri sering tidak memahami hak dan kewajiban masing-masing. Mereka jahil (bodoh) akan hukum syariah dalam berumah tangga yang harus mereka jalankan.
Untuk mewujudkan pergaulan yang makruf dan berlemah lembut antara suami istri, apalagi dalam situasi seperti saat ini, memang bukan perkara mudah. Namun, kita harus berusaha untuk mewujudkannya dan kemudian memeliharanya dengan terus menerus.

Rasulullah SAW telah memberikan banyak contoh, bagaimana berlaku antara suami-istri, yakni senantiasa mencintai karena Allah SWT. Mahabbbah fillah antara suami-istri harus senantiasa dipupuk sebagai perekat persahabatan di antara keduanya.

Sebagai pasangan suami istri hendaknya saling memahami. Kita ketahui bersama bahwa pernikahan adalah menyatukan dua orang yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Karena itu, suami istri harus saling memahami kekurangan dan kelebihan masing-masing. Saling memahami akan menjadikan suami-istri berempati terhadap pasangannya, sehingga tidak mudah saling berburuk sangka.

Hendaknya suami-istri saling memberi nasehat, karena nasehat merupakan wujud suatu hubungan yang saling mencintai karena Allah SWT. Sebab, tujuannya adalah dalam rangka menjaga ketaatan kepada Allah SWT, dan menjauhkan pasangan dari bermaksiat kepada Allah. Nasihat yang disertai dengan komunikasi yang tepat waktu dan tepat cara (lemah-lembut dan tidak menjustifikasi kesalahan) akan membuat pasangan yang dinasehati merasakan ketentraman dalam menerima masukan.

Kehidupan suami-istri tak luput dari berbagai kelemahan, kesalahpahaman dan pertengkaran. Tentu hal tersebut dapat merenggangkan hubungan persahabatan antara satu sama lain. Maka pada saat salah satu melakukan suatu hal yang menimbulkan kemarahan, yang harus dilakukan adalah menahan amarah dan memaafkannya. Karena saling memaafkan adalah kunci untuk memelihara pergaulan yang baik antara suami-istri.

Kehidupan suami-istri merupakan kehidupan yang berpeluang mengalami kesulitan-kesulitan seperti beban pekerjaan yang memberatkan, pemenuhan nafkah, pendidikan anak, dan lain-lain. Maka suami-Istri diharapkan dapat saling bekerjasama. Namun, perlu dipahami, saling bekerjasama bukan berarti kewajiban masing-masing bisa saling dipindahkan atau dihilangkan. Jika suami-istri saling bekerjama selain akan meringankan beban satu sama lain, juga akan melanggengkan kasih sayang dan sikap lemah lembut di antara keduanya.

Demikianlah Rasulullah SAW, telah menuntun kita untuk senantiasa bergaul dengan baik kepada pasangan. Dengan tuntunan Rasulullah SAW tersebut maka sejatinya suami akan menjalankan tugasnya sebagai pemimpin dengan penuh kelembutan dan kasih sayang kepada istri dan anggota keluarganya yang lain. Demikian pula istripun diperintah untuk hormat dan berlaku baik terhadap suaminya.
Dengan tuntunan tersebut maka terwujud keluarga Islami yang syarat dengan ketenangan dan curahan kasih sayang.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan kepada setiap pasangan suami istri untuk berprilaku sebagaimana fungsi masing-masing, karena dengan itu maka tentu kasus perceraian tidak akan terus berulang.  Wallahua’lam.[]
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Ratna Munjiah: Islam Menjaga Keutuhan Keluarga Rating: 5 Reviewed By: radarindonesia news