Latest News
Friday, January 11, 2019

Sri Nurhayati, S.Pd.I: Prostitusi Semakin Laris dalam Sistem Kapitalis

 Sri Nurhayati, S.Pd.I
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Sungguh miris! Itulah kata yang menggambarkan kondisi moral negeri ini. Awal tahun 2019 ini kita kembali disodorkan dengan pemberitaan kasus prostitusi online yang melibatkan seorang artis. Ini bukanlah kasus pertama terbongkarnya prostitusi online ini. Karena melibatkan artis yang menjadi wanita penghiburnya, kasus ini menjadi sorotan tajam. Tetapi yang harus menjadi perhatian kita akan kasus prostitusi ini bukan karena adanya artis atas public figure yang terlibat di dalam. Tetapi karena maraknya kasus prostitusi ini menunjukkan moral negeri ini yang mengalami kerusakan.

Terungkapnya kasus prostitusi demi prostitusi adalah sebuah tanda begitu murahnya sebuah kehormatan seorang wanita. Begitu rendahnya mereka rela memberikan kehormatan mereka pada laki-laki yang bukan suami mereka demi sejumlah uang. Tak hanya kehormatan wanita yang semakin murahnya. Tetapi bagi seorang laki-laki pun begitu murahnya. Mereka rela memberikan sejumlah uang kepada seorang wanita yang bukan istrinya demi kenikmatan semu. 

Negeriku Sayang yang Malang

Ungkapan ini bukan hanya sebuah rangkaian kata yang tak bermakna. Jika kita amati kondisi negeri kita saat ini sangat memprihatinkan. Kerusakan moral yang terjadi sesungguhnya menggambarkan sebuah kemalangan bagi kondisi negeri kita saat ini. Betapa tidak, kondisi saat ini tidaklah memberikan gambaran yang baik bagi kehidupan kita, terutama bagi generasi kita yang akan menjadi pewaris kita kelak. Kerusakan diberbagai lini telah mengantarkan berbagai permasalahan untuk kita.

Maraknya prostitusi telah mengantarkan kepada kerusakan sebuah keluarga. Hal ini memicu perceraian. Dari tahun 2015, hasil dari penemuan Kemendag, Indonesia dalam lima tahun terakhir angka perceraian terus meningkat, khususnya di Indonesia meningkat 59 persen sampai 80 persen (dream.co.id)

Waspadai Virus Penyubur Prostitusi

Tumbuh suburnya praktek prositusi baik dilakukan secara langsung atau melalui media online telah membawa kepada keresahan bagi kita yang perduli akan kondisi moral negeri ini. Pembongkaran demi pembongkaran praktik prostitusi tidak membuat praktik ini hilang. Tetapi justru semakin tumbuh subur dengan berbagai media, mereka bisa bebas melakukan tindak tercela ini. 

Hal ini tidak lain karena akibat dari semakin kuatnya virus liberalisme yang masuk ke dalam tubuh umat ini. Virus yang melahirkan adanya kebebasan berperilaku ini menjadi biang kerok terhadap maraknya perilaku yang menyimpang yang dilakukan mereka.

Masuknya virus liberalisme telah membawa umat pada pola pikir dan perilaku yang buruk. Melalui berbagai bentuk propaganda, liberalisme telah mengarahka kita untuk berperiaku konsumtif, pemisif dan hedonis. Maraknya kasus prostitusi yang ada menunjukkan kepada kita, bagaimana kondisi negeri kita mengalami kerusakan moral yang tak bisa dianggap enteng. Merasuknya liberalism, terutama terkait kebebasan berperilaku telah membawa mereka menjual kehormatan mereka. Hal itu mereka lakukan bukan karena kebutuhan ekonomi, tetapi karena tuntutan gaya hidup mereka dan kebutuhan seks mereka. Tuntutan gaya hidup mereka yang hedonis membawa mereka menjadi pelayan seks laki-laki bejat yang tak punya harga diri dan kehormatan. 

Selain semakin merasuknya virus liberalisme, semakin marak dan larisnya praktek prostitusi ini, karena tidak adanya efek jera bagi para pelakunya. Seperti yang sering terjadi pada terbongkarnya kasus ini. Yang menjadi tersangka atau yang dihukum, mereka yang menjadi mucikari. Tetapi mereka yang melakukan perzinahannya tak tersentuh sedikitpun. Hanya sebagai korban. Padahal mereka adalah pelaku utamanya. Sehingga mereka bisa terus melakukannya tindak prostitusi ini melalui para mucikari ataupun tanpa mucikari.

Sungguh semua ini tak bisa lepas dari semakin mengakarnya sekulerisme atau pemahaman yang menganggap agama harus terpisah dari kehidupan termasuk di dalamnya dalam mengurusi Negara, menjadi cikal bakal liberalisme tumbuh di tengah umat. Ketika agama dijauhkan dalam mengatur urusan kita, inilah yang terjadi, kerusakan moral di tengah-tengah kita semakin menjadi. Bukannya berkurang, tapi malah semakin bertambah dari hari ke hari dan mengundang murka sang Pencipta. Nau’dzubillah.

Selamatkan Negeri dari Kerusakana Moral

Melihat kondisi negeri kita yang begitu memprihatinkan, lantas apakah kita hanya diam saja dan membiarkan moral negeri ini hancur? Tentu tidak! Kita sebagai bagian dari umat ini, memiliki kewajiban untuk memperbaiki kondisi ini. Namun perlu kita ketahui permasalahan ini sesungguhnya muncul karena kelalaian dari berbagai pihak. 

Banyaknya perilaku-perilaku yang amoral, haruslah menjadi perhatian semua pihak, terutama peran orang tua dalam memberikan bekal hidup kita di masa depan. Untuk hal itu perlunya kita untuk kembali memperbaiki tatanan keluarga yang menjadi benteng utama bagi kita. Diantaranya, yaitu dengan:

Pertama, Mengokohkan akidah dan ketaqwaan umat terhadap Allah SWT serta senantiasa terikat terhadap syariat-Nya. Adanya keterlibatan seluruh umat dalam kegiatan dakwah untuk mengokohkan akidah umat dan memberikan pemahaman Islam untuk mendorong umat menyelesaikan semua permasalahan kehidupan sesuai dengan aturan Islam.

Kedua, Menggencarkan kembali aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar sesama anggota masyarakat. Hal ini menjadi salah satu pencegahan terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang ditengah-tengah umat.

Ketiga, menyerukan kepada umat untuk bersama-sama amar ma’ruf kepada penguasa. Aktivitasnya ini menjadi agenda yang harus senantiasa dilakukan agar aturan yang diterapkan penguasa yang bertugas melindungi umat mampu menjaga mereka dari kemerosotan. 

Ketiga upaya ini dilakukan pula dengan pengokohan juga fungsi keluarga umat, agar menjadi keluarga-keluarga yang tegak atas dasar ketaatan kepada Allah, menjadikan syariat Islam sebagai standar sehingga setiap keluarga umat mampu berfungsi sebagai madrasah dan sumber lahirnya para generasi pejuang dan pemimpin umat masa depan yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Yang menjauh diri mereka dari kemaksiatan yang mendatang ke jurang kemerosotan.

Namun, yang perlu kita ingat peran orang tua dan masyarakat saja tidaklah cukup. Peran yang terbesar adalah pihak yang memiliki kewenangan dalam menjaga dan mencegah secara menyeluruh dengan mengontrol terhadap hal-hal yang bisa merusak negeri ini seperti masalah prostitusi, peredaran minum keras, pornografi dan lainnya. Siapa lagi kalau bukan pemerintah.

Pemerintah sebagai pengatur rakyatnya memiliki peran yang penting dalam menjaga moral masyarakatnya. Karena mereka yang memiliki wewenang dalam menentukan setiap kebijakan dalam mengatur rakyatnya. Bagaimana mungkin kita bisa berkualitas, jika pemerintah sendiri tidak memperhatikan semua itu.

Islam dan Khilafah dari Kerusakan Moral

Islam adalah ad-din yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, mengatur hubungan manusia dengan dirinya, dan mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia. Hal ini termasuk masalah yang saat ini menimpa umat saat ini.

Termasuk dalam menyelesaikan permasalahan prostitusi yang semakin marak ini. Dalam Islam prostitusi termasuk pada perilaku perzinaan. Islam telah memberikan aturan yang tegas, yang terdapat dalam firman Allah SWT dalam surat An-Nur ayat 2 yang artinya, “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah.”

Dalam buku Sistem Sanksi dalam Islam yang ditulis oleh Abdurrahman Al Maliki disebutkan bahwa, hukuman bagi pezina dikhususkan bagi pelaku dengan dua macam, yaitu muhshan atau sudah menikah dan ghairon muhshan atau belum menikah. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah yang diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdullah: “Bahwa seorang laki-laki berzina dengan perempuan. Nabi SAW memerintahkan untuk menjilidnya, kemudian ada kabar bahwa ia adalah muhshan, maka Nabi SAW memerintahkan untuk merajamnya. Inilah hadits yang telah mengkhususkan untuk keumuman tentang ayat tersebut yang masih bersifat umum. 

Adanya aturan ini, akan membawa pada pencegahan sebagai salah satu sifat dari hukum Islam, aturan yang akan mencegah perilaku yang sama marak di tengah-tengah masyarakat. Dan semua aturan itu dibanguna atas dasar ketaqwaan individunya serta adanya control dari masyrakat dalam beramar ma’ruf nahi mungkar sebagai salah satu pilarnya. Dan juga adanya penerapan hukum oleh pelaku kebijakan, dengannya akan mampu menyelesaiankan permasalahan ini.

Namun untuk menyelesaikan permasalahan ini tidak hanya menyangkut pada pelaku kebijakan, tapi penyelesaian ini memerlukan adanya aturan yang mampu memberikan solusi yang mampu menjawab sampai kepada akar permasalahan ini. Pemerintah sebagai benteng yang menjaga setiap moral masyarakatnya, haruslah menerapkan aturan yang melahirkan kebijakan-kebijakan yang mampu menjaga dan melahirkan moral yang berkualitas. 

Sungguh Islam sebagai aturan yang datang dari sang Pencipta, memiliki jawaban akan setiap permasalahan yang ada dalam kehidupan umat manuisa. Namun aturan ini hanya bisa diterapkan ketika diterapkan dalam wadah yang lahir pula dari akidah Islam. Wadah itu tak lain adalah Khilafah ala minhaj nubuwah. Dengan diterapkan Islam dalam setiap aspek kehidupan inilah cahaya Islam dapat terlihat. Islam Rahmati lil’Alamin sesugguhnya dapat kita rasakan dalam kehidupan kita.. Wallahu’alam.[]

Penulis adalah mentor Keputrian SMAT Krida Nusantara
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Sri Nurhayati, S.Pd.I: Prostitusi Semakin Laris dalam Sistem Kapitalis Rating: 5 Reviewed By: radarindonesia news