Latest News
Saturday, February 9, 2019

Aisyah, S.H: Tren Pembuangan Bayi, Di Mana Hati Nurani?

Aisyah, S.H:
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA -Warga Gampong Keude Birem, Kecamatan Birem Bayeun, Aceh Timur, Selasa (5/2/2019) pukul 22.00 malam mendadak heboh, karena menemukan bayi perempuan di salah satu rumah warga setempat. Bayi itu memang sengaja dibuang orang yang tak bertanggung jawab, dengan meletakannya di kursi samping belakang rumah milik pasutri di Dusun Pertanian, gampong setempat (serambinews.com).

Indonesia Police Watch (IPW) menyoroti banyaknya bayi baru lahir dibuang ke jalan. Sepanjang tahun 2017, ada 178 bayi baru lahir dibuang oleh orang tua. Jumlah ini naik 90 kejadian dibandingkan 2016. Dari 178 bayi, 79 bayi tewas dan 10 janin bayi  belum masa lahir digugurkan dan dibuang ke jalan. Bayi yang hidup karena diselamatkan warga, aparat desa, puskesmas dan kepolisian ada 89 bayi.

Wilayah hukum Polda Metro Jaya menempati posisi teratas jumlah bayi dibuang orang tua, di mana sepanjang tahun ada 27 kejadian. Artinya, Jakarta menjadi daerah rawan seks bebas dan pembuangan bayi ke jalan. Berada di posisi kedua, Jawa Timur sebanyak 24 kejadian dan Jawa Barat di posisi ketiga dengan 23 kejadian. Mengejutkan melihat Aceh dengan jumlah bayi yang dibuang orang tua di Serambi Mekkah itu jumlahnya ada 16 kasus. Artinya, Aceh merupakan wilayah di luar Jawa yang paling tinggi dalam kasus pembuangan bayi di jalanan. Sementara wilayah luar Jawa lainnya yang tinggi kasus pembuangan bayi adalah Sumut, dengan 8 kejadian.

Indonesia Police Watch (IPW) mengungkapkan pelaku umumnya wanita muda berusia antara 15 hingga 21 tahun. Mereka cenderung mengambil gampangnya dan mencari jalan pintas. Yakni dengan cara membuang bayinya ke jalanan, dengan kantong kresek maupun dus mi instan. Sehingga bayi yang dibuang di jalanan menempati posisi terbanyak. Urutan kedua tempat favorit membuang bayi adalah sungai, kali, selokan, atau parit, sebagian ditemukan mengapung. 

Kemudian sasaran  berikutnya adalah rumah warga, baik itu di halaman depan atau belakangnya, maupun diteras. Namun ada juga para orangtua yang sadis itu membuang jabang bayi ke tempat sampah atau bak sampah. Kamar mandi atau kloset dan emperan toko/warung/kios juga dijadikan tempat pembuangan bayi. Mushalla atau masjid sebagai tempat favorit pembuangan bayi. Sawah juga tak luput sebagai tempat pembuangan bayi. Para orangtua yang tidak bertanggung jawab itu juga memilih membuang bayinya di hutan, kebun, bak mobil, toilet pesawat, dan ada juga yang meracuni dan mengubur bayinya hidup-hidup.

Inilah wajah Indonesia kini. Negara dengan populasi muslim terbesar dunia. Para pelaku kejahatan pembuangan bayi itu rata-rata juga adalah muslim. Bahkan Aceh yang menempati posisi tertinggi pembuangan bayi diluar pulau Jawa adalah wilayah dengan pemberlakuan syariah Islam. Bagaimana kehidupan muslim yang seharusnya nihil dari fakta buruk ini justru berkubang dengan masalah kemerosotan moral ? Bukan hanya pembuangan bayi, angka kriminalitas di negeri jamrud khatulistiwa inipun terus bergerak naik dari waktu ke waktu. Apa yang salah ? siapa yang bertanggung jawab ? bagaimana menyelesaikan semuanya ?

Indonesia dengan segala potensi alam dan kekayaan yang luar biasa telah lama dibidik oleh negara-negara imperialis. Tak pelak Islam adalah momok yang dapat menjadi kendala bagi tangan-tangan serakah itu untuk menjarah negeri ini. Maka dimulailah strategi demi strategi pelemahan Islam dalam berbagai bidang. Tak cukup melalui strategi politik, pelemahan dan racunpun disuntikkan melalui pemikiran. Paham liberalisme dan sekularisme diperkenalkan secara halus dan massif melalui sarana dan prasarana yang menyenangkan. Konspirasi ini semakin mudah karena negara membuka kran seluas-luasnya bagi pengembangan ide rusak tersebut termasuk melalui bidang pendidikan dan hiburan. Mega proyek penghancuran kaum muslim ini dibiayai dengan dana raksasa dari berbagai organisasi dunia. Proyek ini terus dijalankan dan dikembangkan hingga hari ini.

Remaja yang  teracuni pemikirannya oleh sekularisme liberalis menjalani hidup bebas. Agama telah dicampakkan dan dirasa sebagai penghalang kemajuan. Gaya hidup mereka persis seperti gaya hidup penjajah Barat. Halal haram sebagai standar hidup telah lenyap, materi dan uang menjadi Tuhan baru dan kesenangan jasadiyah sebagai tujuan untuk melanjutkan kehidupan. Pun dalam memandang interaksi pergaulan, tak lagi memerlukan legalitas pernikahan. Keburukan yang luar biasa ini justru menjadi fenomena yang biasa dikalangan masyarakat. Karena masyarakat sebagai bagian dari sistem juga digiring kedalam pusaran yang sama. Sehingga wajar ketakwaan individu merosot, kontrol masyarakat lenyap, bahkan penjagaan dari negara tak didapatkan.

Justru negaralah yang memberikan jaminan kebebasan tersebut melalui Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002  tentang perlindungan Anak. Tak cukup dengan itu, pemerintah juga mengeluarkan PP Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi, sempurnalah remaja terkondisikan untuk bergaul bebas. Negara mengaminkan dan meratifikasi perjanjian-perjanjian internasional, program-program feminisme termasuk agenda kontroversial yang sedang hangat saat ini yaitu RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

Buah dari pergaulan bebas ini adalah tingginya angka pembuangan bayi, tingginya angka kematian,  meningkatnya aborsi, merebaknya penyakit seksual termasuk HIV/AIDS, berkembangnya LGBT dan penyimpangan seksual lainnya, tingginya angka pembunuhan, tingginya angka prostitusi bukan hanya perempuan bahkan laki-lakipun terlibat aktif dalam melacurkan dirinya dengan menjadi gigolo baik offline maupun online. Belum lagi dampaknya dalam bidang sosial ketika raibnya rasa empati dan belas kasih berganti dengan egoisme, hedonisme, tidak peduli asalkan senang, dan menghalalkan segala cara untuk meraih apa yang diinginkan.

Maka rusaknya generasi menjadi sebuah keniscayaan. Fitrah ibu yang penyayang hilang. Sadisme demi untuk menutupi malu justru menjadikan orang tua membonsai nuraninya. Tangannya berlumuran darah dari darah dagingnya sendiri. Perilaku rendah dan tidak manusiawi melebihi hewan. Begitulah yang terjadi jika akal dan pemikiran telah rusak. Ridha manusia lebih mulia untuk dijaga sementara ridha Allah entah dimana posisinya.

Lalu, dengan gagah berani negara melalui aparaturnya menunjuk orang tua, guru, sekolah, ulama hingga tenaga kesehatan seperti bidan menangani berbagai kerusakan ini. Entah logika darimana, sungguh berat pertarungan yang  harus ditempuh, perlawanan ini bukan melawan individu namun melawan sistem dengan segala kapasitas yang dimilikinya bahkan melawan agenda global liberalisme yang diusung oleh negara-negara adidaya. Lalu dimana tanggung jawab negara ? Bagaimanapun selama sistem jahiliyah sekulerisme masih diusung, tren pembuangan bayi ini tidak akan turun malah akan semakin meningkat. Kerusakan akan melahirkan kerusakan berikutnya. Sekulerisme adalah akar maka apapun yang tumbuh dari akar yang buruk bahkan busuk tidak akan menghasilkan buah yang ranum.

Islam menjaga Akal dan Jiwa

Sistem Islam menutup semua pintu perzinahan. Seperangkat aturan telah diterapkan selama 13 abad menjaga kaum muslimin dengan paripurna. Adanya kewajiban menutup aurat, menjaga pandangan, larangan khalwat dan ikhtilat, pola pendidikan khas dengan basis Idiologi Islam dan sistem sanksi yang sangat keras bagi pelaku zina mampu menutup rapat pintu perzinahan.

Sejak dini anak-anak dipersiapkan dengan penanaman aqidah Islam langsung di tangani oleh para Ibu sebagai madrasatul ula. Madrasah dan sekolah melanjutkan penanaman identitas sebagai seorang muslim, tugas dan tanggung jawabnya sebagai generasi penjaga Islam. Pada usia pra baligh anak justru telah siap mengemban pribadi manusia dewasa bahkan siap memasuki medan jihad di usia balighnya. Masyarakat bahu membahu menjaga generasi sebagai tanggung jawab bersama yang kelak akan ditanya oleh Allah di Akhirat. Pemimpin negara dalam hal ini Khalifah memberdayakan segala sarana dan prasarana bagi lahir dan terpeliharanya generasi yang tangguh lagi unggul. Negara akan memproteksi masuknya ide-ide rusak, menghentikan penyebarannya dan menghilangkannya dari masyarakat. Tidak akan tersebar luas pornografi, khamr, narkoba, dan gangguan lainnya. Negara mengkondisikan kehidupan berjalan dengan suasana keimanan.

Dengan demikian sungguh tidak mengherankan lahir generasi-generasi gemilang. Seorang Usamah yang masih kanak-kanak merengek minta ikut berjihad, baru Rasulullah ijinkan di perang Khandak, usianya baru 15 tahun. Ia ikut dalam perang Hunain begitu pula dalam perang Mu`tah di usia 18 tahun dan  di usia yang belum genap 20 tahun ia menjadi Panglima seluruh pasukan melawan Rum. Para pemuda di era Khilafah, Seperti Atab bin Usaid, diangkat oleh Rasulullah SAW sebagai gubernur Mekkah pada usia 18 tahun. Zaid bin Tsabit diusia 13 tahun menjadi penulis wahyu, dalam 17 malam mampu menguasai bahasa Suryani sehingga menjadi penerjemah Rasulullah SAW. Hafal kitabullah dan ikut serta kodifikasi Al-Qur’an. 

Dan banyak lagi di antara para pemuda yang memiliki kontribusi besar bagi peradaban yang gemilang. Betapa matangnya mereka, di usia yang masih rata-rata belasan tahun. Kepribadian mereka yang tangguh dan menjadi pejuang serta pembela islam sangat menakjubkan di usia yang relatif masih belia. 

SistIm inilah yang harus dikembalikan ke tubuh umat ini, yang akan mengembalikan peran generasi muda, peran negara dan kegemilangan Islam.[]

Penulis dalah ASN di Langsa, Aceh
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Aisyah, S.H: Tren Pembuangan Bayi, Di Mana Hati Nurani? Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com