Latest News
Sunday, February 10, 2019

Dwi Endang Lestari S. ST: Negeri Kaya SDA Tapi Prevalensi Stunting Masih Tinggi

  Dwi Endang Lestari S. ST
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Hari Gizi Nasional (HGN) yang diperingati pada tanggal 25 Januari 2019 bulan lalu, mengingatkan kembali tentang status gizi masyarakat di Indonesia. Indonesia dengan beragam kekayaan alam dan keberagaman tanaman pangan yang dimiliki, ternyata masih dirundung masalah gizi yang belum berujung hingga detik ini, yaitu status gizi stunting dan obesitas merupakan 2 masalah yang menjadi fokus utama diantara masalah gizi lainnya. Masalah gizi tersebut dikatakan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI drg. Oscar (iNews.id, 25/01/2019). 

Menurut data pemantauan Status Gizi (PSG) yang dilakukan oleh Kemenkes RI selama 3 tahun terakhir, bahwa balita pendek memiliki prevalensi tertinggi dibandingkan dengan masalah gizi lainnya seperti gizi kurang, kurus dan gemuk, dimana prevalensi balita pendek mengalami peningkatan dari tahun 2016 sebanyak 27,5% menjadi 29,6% pada tahun 2017. Sedangkan menurut Riskesdas angka presentase balita stunting memang mengalami penurunan dari 37,2% pada Riskesdas 2013 menjadi 30,8% pada Riskesdas 2018. Meskipun mengalami penurunan, namun masih diatas angka toleransi World Health Organization (WHO) yaitu sebanyak 20%, artinya masalah stunting masih menjadi fokus utama permasalahan gizi. 

Stunting (kerdil) adalah kondisi anak usia 0-59 bulan, dimana tinggi seorang anak tidak sesuai dengan usianya yang disebabkan kurangnya asupan gizi dalam waktu lama. Biasanya karena asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting termasuk masalah gizi kronik yang disebabkan oleh banyak faktor seperti kondisi sosial ekonomi, gizi ibu pada saat hamil, kesakitan dan kurangnya asupan gizi pada bayi, tidak terlaksananya Inisiasi Menyusu Dini (IMD), gagalnya pemberian ASI Ekslusif, pemberian Makanan Pendamping ASI (MP ASI) yang kurang memperhatikan kualitas, kuantitas dan keamanan pangan, serta penyakit infeksi yang disebabkan oleh higien sanitasi yang buruk misalnya diare dan kecacingan dapat mengganggu penyerapan zat-zat gizi pada proses pencernaan. 

Tingginya angka stunting akan berpengaruh pada kualitas generasi dimasa yang akan datang. Padahal generasi adalah aset yang paling berharga untuk memegang kemajuan suatu bangsa dan peradaban, namun balita yang mengalami stunting menimbulkan dampak buruk jangka pendek dan jangka panjang hingga menghambat kualitas dan produktifitasnya. Menurut WHO, balita stunting dimasa yang akan datang akan mengalami kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal, misal mengurangi kapasitas untuk berpendidikan, pada usia dewasa akan berpotensi menjadi gemuk (obese) dan berpeluang menderita Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes, kanker dan penyakit degeneratif lainnya. 

Melihat prevalensi stunting yang masih tinggi tadi, dan dampak yang ditimbulkan juga membahayakan generasi, maka pemerintah mencanangkan berbagai macam program untuk menurunkan pervalensi. Misalnya pada tahun 2010, Scaling Up Nutrition (SUN) diluncurkan sebagai gerakan global dengan prinsip dasar semua penduduk berhak mendapatkan dana memperoleh akses ke makanan yang cukup dan bergizi. Dua tahun berikutnya pemerintah Indonesia bergabung dalam gerakan tersebut melalui program Intervensi Stunting. Dengan harapan melalui program yang berasal dari WHO ini mampu menurunkan angka prevalensi. Akan tetapi pada kenyataannya penderita stunting tidak kunjung terselesaikan. 

Program - program yang dilakukan pemerintah tersebut belum sampai menuntaskan persoalan gizi stunting, pasalnya solusi yang diupayakan pemerintah hanya bersifat tambal sulam saja yang itu tidak sampai mensolusi masalah hingga akarnya. Hal ini dibuktikan masih tingginya data angka Stunting di Indonesia setiap tahunnya hingga detik tahun 2018. Padahal Stunting itu sendiri terjadi karena kekurangan asupan dalam jangka waktu yang lama. Sedangkan kalau kita melihat Indonesia memiliki sumber daya alam yang luar biasa kaya, tanah yang subur penghasil beragam tanaman pangan dan minyak, apabila dikonsumsi oleh rakyatnya secara merata, insya Allah rakyat tidak akan kekurangan asupan pangan dalam memenuhi hajat sehari-hari. 

Namun Sayangnya, negeri penghasil Sumber Daya Alam (SDA) melimpah ini mengadopsi sistem kapitalisme, dimana hasil kekayaan tidak terdistribusi secara merata. Kekayaan alam banyak dimiliki oleh pihak pemilik modal. Seperti dikatakan oleh pengamat energi Kurtubi, Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia yang ditemukan di perut bumi saja sebanyak Rp 200 ribu triliun. Karena adanya kerjasama Indonesia dengan sejumlah investor asing dalam penggalian SDA tersebut, kekayaan Indonesia ditaksir mencapai Rp 100 ribu triliun dengan asumsi porsi pembagian rata sebesar 50:50 (Liputan6, 28/01/2014). 

Menurut data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan bahwa investasi di Indonesia telah mencapai Rp 692,8 triliun pada 2017. Nilai kenaikan foreign direct investment (FDI) di Indonesia juga mengalami kenaikan drastis, yakni dari berjumlah Rp 99,7 triliun pada 2016 menjadi Rp 111,7 triliun pada 2017. Investasi penanaman modal asing (PMA) terbesar pada 2017 didominasi oleh Singapura sebesar US$ 8,4 miliar, disusul Jepang sebesar US$ 5,0 miliar, Tiongkok sebesar US$ 3,4 miliar, Hong Kong sebesar US$ 2,1 miliar, dan terakhir adalah Korea Selatan dengan nilai sebesar US$ 2,0 miliar (Berita Satu. 2/04/2018). Data tersebut membuktikan bahwa SDA malah digunakan untuk mensejahterakan negeri tetangga, sedangkan penduduk pribumi terancam stunting. 

Maka dari itu kita harus mencari solusi yang tepat untuk menuntaskan permasalahan gizi yang masih terbilang tinggi ini. Tentunya solusi tidak cukup hanya mengurangi masalah saja, namun solusi yang diharapakan adalah sampai memutuskan rantai masalah hingga akar-akarnya. 

Perlu kita sadari bersama, didalam islam sudah ditetapkan bahwa kebutuhan atas pangan, papan dan sandang merupakan kebutuhan setiap rakyat. Oleh karenanya dalam ketentuan islam, negara wajib menjamin pemenuhan kebutuhan pokok berupa pangan, sandang dan papan untuk setiap individu rakyat. Dengan cara mengontrol pemenuhan kebutuhan-kebutuhan rakyat, memastikan tidak ada satupun rakyat yang kelaparan hingga kekurangan gizi, setiap individu berhak menerima pelayanan kesehatan dan pendidikan termasuk pendidikan yang berkaitan dengan menjaga kesehatan tubuh. Oleh karenanya, sudah saatnya islam sebagai solusi paripurna untuk melindungi dan mensejahterakan seluruh umat. Sistem ini sesuai dg fitrahnya manusia sebagai hamba Allah, penebar rahmat bagi seluruh alam. Wallahu a’lam Bisshowab.[]

Penulis adalah lulusan fakultas Kesehatan prodi Gizi Klinik. dan kini mengajar di Jember
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Dwi Endang Lestari S. ST: Negeri Kaya SDA Tapi Prevalensi Stunting Masih Tinggi Rating: 5 Reviewed By: radarindonesia news