Latest News
Saturday, February 23, 2019

Etti Budiyanti*: Mencermati Korupsi dalam Al Qur'an

Etti Budiyanti

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Bicara korupsi dalam era demokrasi ini bukanlah sesuatu yang tabu lagi. Sejatinya, korupsi merupakan satu penyakit akut dan kejahatan dalam kehidupan. Mewabahnya penyakit korupsi telah merusak sendi-sendi dan tatanan sosial dalam segala aspek kehidupan. Sehingga seharusnya tugas memberantas korupsi adalah tugas kita bersama.

Dilansir dari JawaPos.com, kasus suap yang dilakukan oleh Bupati Kotawaringin Timur Supian Hadi dikecam banyak pihak. Bukan tanpa sebab, kader PDI Perjuangan itu diduga telah merugikan negara dengan angka yang fantastis dari praktik haramnya tersebut, yakni Rp 5,8 triliun.

Dalam UU Tindak Pidana Korupsi No.31 Tahun 1999 disebutkan bahwa yang termasuk dalam tindak pidana korupsi adalah “setiap orang yang dikategorikan melawan hukum, melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri, menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan maupun kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara”. Bermakna bahwa perilaku korupsi merupakan sebuah perilaku yang memenuhi unsur-unsur kecurangan, penipuan, penyalahgunaan wewenang, memperkaya diri atau golongan yang merugikan keuangan negara.

Oleh karena itu, jika menilik unsur-unsur korupsi dalam pengertian di atas, maka hakikatnya korupsi bukan hanya perilaku yang melanggar aturan perundangan, akan tetapi juga melenceng dari aturan agama.

Lalu bagaimana Al Qur'an membahas tentang korupsi?

Pandangan Al Qur'an tentang korupsi
Al Qur'an adalah kitab yang sempurna yang tidak ada lagi keraguan di dalamnya. Petunjuk hidup bagi muslim yang menginginkan surga sebagai tujuan hidupnya. Apapun problematikanya, diatur dalam Al Qur'an. Al Qur'an adalah peta hidup setiap muslim.

Secara terminologi, korupsi tidak ditemukan dalam Alquran. Tapi, jika menilik Alquran secara mendalam (holistic) dan komprehensif (syamil), ditemukan sejumlah larangan yang mengarah kepada perilaku koruptif di antaranya:

Pertama, mencuri (as-sariqu).
Firman Allah Swt, “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya sebagai pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (TQS. al-Maidah: 38).

Menurut Ibnu Katsir mencuri merupakan perilaku mengambil harta orang lain secara sembunyi-sembunyi tanpa kerelaannya. Sedangkan wa sebelum kata as-sariqu dalam ayat di atas merupakan taukid, yakni sebuah penegasan terhadap perintah potong tangan bagi pencuri laki-laki dan perempuan.

Jika dikaitkan dalam terminologi korupsi yang berlaku dalam perundangan, maka korupsi merupakan bagian dari as-sariqu, sebab merugikan keuangan negara. Maka seseorang yang berperilaku korupsi, bukan hanya layak disebut koruptor, tapi juga pencuri atau maling. Bahkan, pencuri atau maling uang negara yang mencapai miliaran dan triliunan itu lebih berbahaya. 

Sebab, keberadaannya dapat merusak perekonomian secara terstruktur dan massif. Lazimnya keuangan negara dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pemberdayaan ekonomi rakyat, perbaikan infrastruktur, menambah sarana dan prasarana pendidikan, membangun proyek monumental yang dapat menyerap tenaga kerja. Tapi, dirampas dan dicuri oleh oknum-oknum tertentu dengan cara menyalahgunakan wewenang dan jabatan.

Kedua, berkhianat (ghulul).
Firman Allah Swt, “Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan pembalasan setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.” (TQS. Ali Imran: 161).

Para ulama menguraikan bahwa ghulul merupakan sebuah perilaku mengambil harta di luar hak yang telah ditetapkan atau berkhianat. Dalam konteks ayat di atas yakni tentang harta rampasan perang (ghanimah). Sebab itu, ghulul merupakan bagian dari perilaku korupsi yang diancam azab bagi sipelakunya dalam Alquran.

Dari sana juga dapat dipahami bahwa korupsi bukan hanya dilakukan oleh seorang pejabat negara atau pegawai pemerintahan. Tapi, korupsi bisa saja dilakukan oleh pekerja zakat (amil) untuk menggelapkan uang zakat, pedagang yang mengurangi timbangan, penggelapan sedekah dan infak di masjid atau meunasah, dan lainnya. Sebab itu, perilaku korupsi bukan hanya ada di kantor-kantor pemerintahan, tapi bisa saja perilaku korup gentayangan di masjid, di lembaga amal dan zakat, di lembaga pendidikan, dan pasar. Banyak orang merasa tidak berperilaku korupsi karena tidak ditangkap KPK, padahal mereka sedang berperilaku korup. Korupsi miliaran dan trilunan diawali dari korupsi ribuan dan puluhan.

Ketiga, memakan harta orang lain secara tidak benar (bathil).
Firman Allah Swt, “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan janganlah kamu membawa urusan harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan jalan berbuat dosa, padahal kamu mengetahui.” (TQS. al-Baqarah: 188).

Sebab turunnya (asbabun nuzul) ayat ini berkenaan dengan Imril Qais yang berkelahi dalam perkara perebutan tanah dengan bersumpah di depan hakim, padahal tanah itu bukan haknya. Maka ayat ini diturunkan sebagai larangan untuk merampas (al-hirabah) dan memakan harta orang lain. Korupsi bagian dari memakan harta rakyat secara tidak benar.

Keempat, suap (risywah).
Firman Allah Swt, “Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan membawa hadiah, dan aku akan menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu. Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata: Apakah patut kamu menolong aku dengan harta? maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.” (QS. an-Naml: 35-36).

Risywah merupakan sebuah pemberian (hadiah) kepada hakim atau orang tertentu yang bertujuan untuk memenangkan perkara atau putusan dengan cara tidak dibenarkan.

Muhasabah
Rasulullah saw melaknat setiap orang yang terlibat penyuapan, sebagaimana sabdanya, “Laknat Allah atas pemberi suap, penerima suap, dan perantaranya yakni orang yang menghubungkan keduanya.” (HR. Ahmad).

Hadist di atas menunjukkan bahwa penyuapan merupakan bagian dari perilaku korupsi yang mewabah di negeri ini. Kasus bupati Kotawaringin Timur ini adalah salah satu contoh penyuapan yang merebak di era demokrasi. Hal ini karena demokrasi adalah sistem sekuler yang menafikkan peran agama dalam kehidupan.  

Banyaknya kasus korupsi yang dilakukan kader parpol pengusung demokrasi, justru menunjukkan hakikat demokrasi sebagai biang korupsi. Mahalnya biaya politik, ketakwaan individu yang sangat kurang serta tidak asanya hukuman yang membuat jera pelaku, merupakan sebab kebobrokkan demokrasi sebagai biang menjamurnya korupsi.

Kondisi ini seharusnya membuat umat sadar tentang kebobrokkan demokrasi dan muncul keinginan untuk mencampakkannya.

Hanya sistem politik Islam yang memiliki mekanisme canggih untuk meminimilisir celah korupsi. Dan umat mempunyai kewajiban syar'i untuk menegakkannya. Wallahu a'lam bisshowwab.[]

*Penulis adalah Anggota Akademi Menulis Kreatif

  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Etti Budiyanti*: Mencermati Korupsi dalam Al Qur'an Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com