Latest News
Monday, February 11, 2019

Etti Budiyanti: Pudarnya Listrik di Kota Tape

  Etti Budiyanti
RADARINDONESIANEWS,COM, JAKARTA - Siapa yang tak kenal dengan kota tape di Jawa Timur? Sebutan Kota Tape untuk kota Bondowoso demikian terang namun tidak demikian dengan kondisi listriknya yang redup dan pudar. Padahal listrik adalah kebutuhan vital bagi rakyat. Kiranya bukan jamannya lagi hidup tanpa aliran listrik. 

Faktanya masih banyak daerah di Kabupaten Bondowoso yang belum terjamah terangnya listrik. Dikutip dari TIMESINDONESIA, BONDOWOSO , sebanyak 39 ribu lebih rumah di Kabupaten Bondowoso belum dialiri listrik. Maka dari itu, Pemkab setempat meminta kepala desa segera mendata dan menvalidasi calon penerima untuk mendapatkan bantuan KWh gratis. 

Pj Sekretaris Daerah Agung Trihandono menjelaskan, bahwa sebelumnya angka tersebut berada di 49 ribu. 

Namun, kata dia, Pemkab Bondowoso telah mengintervensi pada 10 ribuan rumah tangga mulai tahun 2017 lalu. “Sehingga tadi kita hitung-hitungan, kita tinggal sekitar 39 ribuan lebih sedikit,” katanya saat Kunker Bupati di Aula BLK, Kamis (31/1/2019). 

Ia mengaku, bahwa pihaknya beberapa waktu lalu, melakukan rapat untuk verifikasi dan validasi jumlah calon penerima bantuan, untuk pemasangan listrik gratis. Mengingat, pada 2019 ini, Bondowoso mendapatkan bantuan pemasangan listrik gratis sebanyak 26.531 titik. 

“Sehingga tadi betul yang disampaikan oleh Pak Wabup, masih ada sekitar 13 ribu sekian. Kemarin informasinya sudah ada jawaban, yang 14 ribu kekurangannya bisa diselesaikan di 2020,” terangnya. 

Jika demikian adanya, kata Agung, maka kasus rasio elektrifikasi di Bondowoso bisa diselesaikan pada tahun 2020. Oleh karena itu, pihaknya meminta setiap Kepala Desa untuk secepatnya melakukan verifikasi dan validasi data penerima bantuan pemasangan listrik KWh 450 gratis tersebut. Sehingga nantinya, 39 ribu lebih rumah di Kabupaten Bondowoso, yang belum dialiri listrik bisa semakin berkurang. 

Solusi Islam terkait Listrik 

Islam adalah agama yang tidak pernah memisahkan urusan agama dengan kehidupan termasuk urusan politik, pemerintahan dan kebijakan ekonomi. Di bidang pemerintahan dan kebijakan ekonomi, Islam telah mewajibkan negara untuk mengelola urusan umat dan berkhidmat pada mereka. 

Nabi SAW bersabda : " Imam (Kepala Negara) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang ia urus." (HR. Bukhari) 

Begitu pula halnya dengan listrik. Listrik adalah kebutuhan masyarakat di saat ini, pemenuhan kebutuhan ini harusnya merupakan kewajiban pemerintah. 

Dalam Islam pemimpin adalah Ro'in dan fungsi utamanya adalah melayani rakyat. Hal demikian telah dicontohkan oleh Rasulullah saw saat menjadi kepala negara di Madinah. Beliau melayani masyarakat dan menjadi penanggung hidup mereka. 

Negara dalam Islam tidak boleh berlepas diri dari kewajiban mengurus rakyat. Tidak boleh dengan alasan untuk menghemat kas negara, lalu negara mengurangi kewajiban mereka, misalnya mengurangi anggaran dan pelayanan di bidang kesehatan dan pendidikan, atau mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari BBM, listrik atau gas dengan cara menjual semua itu kepada rakyat. 

Rasulullah bersabda : " Kaum muslim berserikat (memiliki hak yang sama) dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api." (HR. Abu Dawud, Ahmad) 

Oleh karena itu dalam hal kelistrikan yang merupakan kebutuhan hidup orang banyak, negara mempunyai kewajiban untuk memenuhinya. Listrik harus dikelola dan dibiayai oleh negara secara keseluruhan baik dari kabel-kabel, tiang penyangga, serta turbin-turbinnya. Kas negara atau baitul maal sudah memiliki pos tenaga pembangkit listrik. Wallahu a'lam bshshowwab.[]

Penulis adalah anggota Akademi Menulis Kreatif, Jember
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Etti Budiyanti: Pudarnya Listrik di Kota Tape Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com