Latest News
Tuesday, February 12, 2019

Sania Nabila Afifah: Hilangnya Sosok Guru Sebagai Pendidik

Sania Nabila Afifah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Akhir-akhir ini banyak kasus guru diperlakukan secara tidak hormat oleh anak didik menjadi fenomena buruk dunia pendidikan. Peserta didik berani melawan hingga membunuh. Peristiwa dan fenomena yang sangat tidak rasional. Bagaimana hal ini terjadi?  Di kala manusia sudah jauh dari tuntunan agama, makasemua catatan buruk itu bisa saja terjadi.

Dilansir sindonews Gersik, perbuatan kurang terpuji dilakukan seorang siswa SMP PGRI Wringianom kepada gurunya. Di mana salah satu siswa SMP tersebut ditegur karena merokok oleh gurunya malah menantang dan memegang krah baju dan leher sang guru. Prilaku siswa SMP PGRI itu terekam video berdurasi 51 detik. Video itu di unggah pemilik akun twiter@cakKhum. Puluhan ribu nitizen melihatnya.

Memang prilaku siswa tersebut tidak layak. Guru yang disebut bernama Kalim itu awalnya memperingatkan si siswa agar tidak merokok. Sang guru mendekatinya namun sang murid ngomel-ngomel, hingga tangan kirinya berani memegang krah leher baju sang guru. Sejurus kemudian tangan kanan bergantian berusaha memukul. Hal seperti itu tak pantas dilakukan murid kepada gurunya. Ironisnya siswa yang lain hanya cuek. Bahkan terdengar tawa. Juga di antara siswa ada yang mengambil gambar.

Menyikapi itu pihak kepolisian turun tangan, melakukan penyelidikan kebenaran video tersebut "Masih kami lakukan penyelidikan " , ujar Kanit Reskrim Wriginamon Ipda Joko Suprianto.

Seiring dengan banyaknya kasus guru dilabrak, dituntut ke pengadilan karena memberikan hukuman kepada anak didiknya, bahkan yang lebih parah lagi sampai dibunuh muridnya sendiri. Padahal sang guru melaksanakan tugasnya sebagai seorang pendidik. Gurupun tak berdaya mencegah anak didiknya ketika mereka melakukan kenakalan-kenakalan. Pasalnya sang guru bisa terancam hukuman karena melanggar HAM atau delik hukum melakukan tindak kekerasan pada anak. 

Akibatnya, anak didik semakin berani. Banyak yang bersikap tidak sopan dan arogan kepada gurunya karena mereka tahu bahwa kebebasan dilindungi oleh hukum. Jika dikembalikan, penyebab terjadinya kasus seperti ini adalah karena sistem negara yaitu kapitalisme sekuler, yang memisahkan agama dalam kehidupan yang dijadikan sebagai aturan hidup dalam memecahkan segala problematika ummat. Dari sanalah akar segala masalah karena sekuler dengan asasnya fasluddin 'anil hayat yang memisahkan peran agama dalam kehidupan itu menjadikan guru dan siswa kehilaangan fitrahnya.

Sebab pendidikan agama saat ini dibatasi sepekan hanya dua jam pelajaran. Dengan waktu yang sangat terbatas tersebut tidak akan mampu membentuk pola sikap dan pola pikir Islami. Jadi wajar jika siswa saat ini banyak yang terjerumus ke dalam jurang kemaksyiatan serta berakhlaq buruk. Kenakalan semakin menjadi-jadi saja. 

Begitu pula peran guru saat ini hanya sebatas mentrasfer ilmu saja atau sekedar mengajar saja tanpa harus bersusah payah mendidik. Peran agama sebagai pembentuk akhlaqul karimah diberikan saat mata pelajaran Agama Islam saja. Tapi guru agama pun enggan mengambil peran sebagi pendidik. Agama hanya disampaikan hanya sebagai materi yang harus dikuasai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar yang termaktub dalam kurikulum. Materi agama hanya sekedar dikuasai sebagai pengetahuan tetapi tidak memiliki efek dalam pembentukan prilaku dan karakter anak didiknya. 

Dalam Islam, guru harus menjalankan perannya sebagai pengajar sekaligus pendidik. Apapun bidang ilmu yang diajarkan, setiap guru harus bertanggung jawab untuk membentuk kepribadian Islam pada peserta didik. Para guru harus memiliki nafsiyah dan 'aqliyah yang islami. Akidah Islam harus menjadi landasan berfikir mereka sekaligus standar dalam bertingkah laku. Guru harus memastikan bahwa hanya tsaqafah Islam yang membentuk pemikiran mereka. Tsaqafah asing yang bercokol di pemikiran mereka harus ditinggalkan.

Pemikiran asing saat ini memang sengaja dimasukkan lewat sistem pendidikan dan kurikulum sebagai tool untuk menyebarkan tsaqafah atau budaya asing. Inilah cara dan jalan yang sangat efektif untuk merusak pemikiran dan aqidah ummat dan generasi Islam.

Sedangkan menghukum dalam rangka mendidik dalam Islam dibolehkan. Rasulullah saw pernah memerintahkan orang tua untuk memukul anak mereka yang tidak mau shalat ketika mereka sudah berumur 9 tahun. Hukuman diberikan agar mereka memahami bahwa shalat 5 waktu itu adalah sebuah kewajiban dan tidak boleh ditinggalkan. 

Hukuman diberikan atas dorongan kasih sayang agar anaknya selamat tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat. Hukuman yang diberikan untuk menghentikan perbuatan tercela agar tidak diulangi lagi. 

Tentu hukuman tidak boleh menyakiti apalagi dipicu oleh emosi yang menyebabkan anak tersakiti. Hukuman diberikan bukan karena benci dan dendam, namun karena rasa cinta yang tidak ingin melihat mereka terjerumus ke jalan sesat.Wa-Allahu a'lam bish-sowab.[]

Penulis adalah seorang guru dan anggota Komunitas Muslimah Rindu Jannah

  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Sania Nabila Afifah: Hilangnya Sosok Guru Sebagai Pendidik Rating: 5 Reviewed By: radarindonesia news