Latest News
Friday, February 1, 2019

Sania Nabila Afifah: Infrastruktur Untuk Rakyat Seharusnya Gratis Bukan Berbayar

Sania Nabila Afifah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Siapa sih, yang tidak mendamba jalan bagus, mulus dan tanpa hambatan. Tentu semua orang dalam benak nya sama, sebagai rakyat kecil, juga bagi penguasa. Rampungnya pembangunan jalan Tol Trans Jawa yang menghubungkan  Jakarta sampai Surabaya yang kabarnya akan memudahkan rakyat untuk melakukan perjalanan, hemat waktu, uang dan lebih aman karena bebas kemacetan dan kecelakaan. Semua itu adalah poin plus bagi pemerintah saat ini.

Sebagaimana ungkapan Mentri Perhubungan RI Budi Karya Sumadi kepada Tribun.News.com beliau menyatakan itu adalah salah satu prestasi yang luar biasa yang berhasil dicapai pada tahun 2018 lalu, yakni rampungnya Jalan Tol Trans Jawa yang menghubungkan Jakarta dan Surabaya. Yang pada 20 Desember lalu telah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo.

Pria yang pernah menjadi Direktur Utama  PT Angkasa Pura II itu berkata "saya ke bandara (lalu) Clomplain, 'wah turun (jumlah) penumpangnya (lewat) Jalan Tol semuanya", jelas Budi saat membeberkan pengalamannya. Antara Solo-Surabaya. Selain itu juga tidak ada yang mengalami kecelakaan diruas Jalan Tol itu.

Budi karya juga menyatakan kepada para Direksi dan karyawan PT Jasa Raharja yang hadir, dengan tidak adanya kecelakaan dikawasan tersebut maka jumlah santunan darinperusahaan asuransi pelat merah itu berkurang. Seusai mengikuti kegiatan 'Fun Walk HUT ke-58 Jasa Raharja' dikawasan Car free Day. (6/1/2019).

Begitu pula dengan Pengamat Trasportasi Djoko Setijowarno mengatakan, dengan beroprasinya Jalan Tol dari Jakarta ke Surabaya akan menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat yang hendak berkendara menuju IBU Kota Provinsi JawaTimur tersebut.

Terkait masalah tarif tol dari Jakarta ke Surabaya yang mencapai Rp 600.000 menurut saya itu tidak membebankan masyarakat, karena tol ini sebagai alternatif dari jalan alternatif kata Djoko saat dihubungi koran Sindo di Jakarta. Tarif dikisaran  Rp 600.000, waktu yang ditempuh masyarakat dari Jakarta ke Surabaya menjadi lebih cepat. Hal ini jelas mereka bayar oprasional para pengguna jalan dibandingkan menggunakan Jalan Nasional yang biasanya mempunyai estimasi waktu lebih lama dan terdampak kemacetan disejumlah titik.

Opini-opini seperti ini sepertinya merupakan salah satu penyesatan dalam mengelola Infrastruktur karena jika kita ketahui pembangunan Infrastruktur ini nantinya hanya bisa dilalui oleh para konglomerat dan pebisnis. Rakyat kecil tak akan bisa melewatinya tanpa ada mobil. Pendapat-pendapat diatas seolah-olah lebih menyuarakan agar masyarakat ramai-ramai melewati Jalan alternatif dibanding dengan Jalan Nasional.

Hal ini sepertinya ada unsur promosi agar semua masyarakat jika melakukan perjalanan Jakarta hingga Surabaya lewat Jalan Tol saja, Jalan Tol sudah ibarat dagangan. Hal seperti ini menunjukkan sifat asli penguasa kapitalis. Dimana keuntungan adalah hal yang dinanti-nanti. Karena kebahagiaan bagi kapitalis adalah meraup sebanyak-banyaknya materi. 

Sudah bukan sesuatu yang mengagetkan jika bangun tol tetapi berbayar, aktivitas penguasa dan rakyat dalam sistem kapitalis, ibaratkan penjual dan pembeli. Jika infrastruktur yang selama ini dibangun memang murni untuk kepentingan rakyat, tak akan mungkin berbayar walau dengan dalih apapun itu. Karena memberikan infrastruktur yang layak bagi rakyat adalah kewajiban. Penguasa haruslah memberikan pelayanan terbaik sebagai bentuk pelayanan publik negara, tanpa embel-embel bayar segala macam.

Dalam sistem kapitalisme, mustahil rakyat bisa menikmati Infrastruktur gratis. Karena paradigma berfikir pemerintah dalam pengolaan infrastruktur adalah bisnis. Setiap bisnis pasti berorientasi pada keuntungan materi. Adanya tarif  tersebut akan membebani rakyat. Sebagai imbas dari ekonomi kapitalisme yang rusak. Konsep bisnis yang diadopsi oleh sistem ekonomi kapitalisme menjadikan sebagai target marketnya. 

Dari proyek-proyek infrastruktur sangat diganderungi oleh para investor karena pasar  Indonesia sangat menjanjikan. Salah satunya adalah jalan tol trans Jawa ini. Yang disinyalir menyubang pemasukan terbesar pada musim mudik lebaran atau hari libur biasa.

Bagaimana agar infrastruktur dapat dinikamati seluruh rakyat tanpa harus bayar mahal? Ini yang kemudian muncul pertanyaan ditengah masyarakat, sebenarnya pembangunan infrastruktur untuk siapa? Untuk rakyat atau konglomerat?

Berbanding terbalik dengan siatem Islam, Infrastruktur dibangun memang untuk kepentingan rakyat dan gratis, karena midsed penguasa dalam islam atau khalifah dan para pejabat negara dalam menjalankan tampuk kekuasaannya adalah keimanan dan ketaqwaan. Khalifah sebagai pelaksana hukum-hukum aturan Allah (syariah) sudah tentu orientasinya kepemimpinannya  bukanlah untuk mendapatkan untung sebesar-besarnya, namun semata-mata karena ingin meraih ridho Allah Azza waJalla saja.

Dengan begitu khalifah dan para pejabat negara menjalankan setiap tugas dan fungsinya untuk mensejahterakan rakyat. Sebab Khalifah adalah pelaksana dan pengatur seluruh urusan rakyat dan perisai bagi rakyat.

Sebagaimana dijelaskan dalam hadits bahwa Rasulullah bersabda; " Imam atau khalifah laksana perisai, tempat dimana orang berperang dibelakangnya dan berlindung kepadanya" (HR Muslim).

Seorang Khalifah adalah  pelayan bagi rakyatnya karena kelak akan dimintai pertanggung jawabannya diyaumil hisab atas apa yang telah diurusnya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW ; " Imam atau Khalifah adalah pengurus ; ia bertanggung jawab atas (urusan) rakyatnya." (HR Muslim).

Sebagai contoh ketika pada masa Umar bin khattab tidak membiarkan satu lubang hingga seekor keledai terperosok. Beliau lebih mengutamakan sifat wara' ketika hendak bertindak. Umar pernah berkata bahwa jikalau ada kondisi jalan di daerah Irak yang rusak karena penanganan pembangunan yang tidak tepat  kemudian ada seekor keledai yang terperosok kedalamnya maka ia  (Umar) bertanggung jawab karenanya.

Terlihat bahwa Umar dalam cuplikan kisahnya sangat memperhatikan kebutuhan ummat hingga dalam lingkup yang terkecil sekalipun. Jika keselamatan hewanpun diperhatikan, apalagi keselamatan manusia.

Coba kita bayangkan jalan-jalan dikota atau didesa, yang kondisi saat ini masih banyak jalan berlubang, menjadi 'Pr'  pemimpin seharusnya bisa memenej mana yang lebih dahulu  diutamakan. Membenahi jalan atau membangun jalan tol? Sebaik-baik pemimpin dialah yang paling takut terhadap Allah. Wa Allahu a'lam bish-showab.[]


  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Sania Nabila Afifah: Infrastruktur Untuk Rakyat Seharusnya Gratis Bukan Berbayar Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com