Latest News
Saturday, February 23, 2019

Sania Nabila Afifah: Remaja Dan Bahaya Liberalisasi

Sania Nabila Afifah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Sangat memprihatinkan betapa banyak kejadian yang bisa kita lihat saat ini di media sosial. Tentang maraknya kerusakan remaja,  seperti kenakalan remaja, miras, narkoba ,pacaran ,hingga remaja hamil diluar nikah menjadi suguhan setiap hari di media sosial. 

Direktur Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) , Dwi Hafshah Handayani mengungkapkan temuan mengejudkan terkait sebuah SMP di Lampung. Di mana satu SMP ada 12 siswinya hamil. Yang mana masih duduk dikelas VII, VIII, IX. Selain itu dirinya juga melakukan survei ke apotek di daerah kos-kosan dan sekitar kampus, dari survei tersebut diketahui ada 100 kondom terjual dalam satu bulan, sehingga hal tersebut sangat memprihatinkan (TribunLampung.co.id) .

Kenapa generasi saat ini rusak?

Kejadian seperti ini tak lepas dari kelalain dari pihak tertentu, baik orang tua, guru, sekolah, juga negara. Allah SWT berfirman dalam alquran ; " Dan janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya zina adalah perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk" (al Isra' 32) .

Dari ayat di atas, zina atau yang serupa seperti hal-hal yang mendekatkan kepada zina dilarang oleh Allah SWT. Ada pepatah mengatakan jika ada asap pasti ada api.  Begitu pula dengan perzinahan juga bisa terjadi jika ada penyebabnya. 

Penyebab utamanya terjadinya perzinahan adalah rangsangan dari luar. dimana saat ini bertebaran konten-konten pornografi dan pornoaksi. Yang bisa menimbulkan munculnya hasrat seksual seseorang. Juga kondisi mayoritas perempuan saat ini tak menutup aurat, akibat terbawa arus liberalisme. Yang mengundang para lelaki tergoda.

Karena masyarakat  sudah dijauhkan dari Islam. Disebabkan diterapkannya  sekulerisme, yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Karena sudah meniadakan peran agama dalam kehidupan menjadikan manusia bebas dalam melakukan apa saja. Bahkan sesuai dengan keinginannya tanpa adanya batasan. 

Di satu sisi pornografi dan pornoaksi ditumbuh suburkan bahkan dirawat. Bahkan mudah sekali di akses oleh semua kalangan. Baik anak-anak maupun dewasa.  Yang mudah sekali diakses melalui HP atau yang lainnya.

Begitu juga sistem pendidikan saat ini yang meniru sistem pendidikan barat. Yang mana ilmu pengetahuan dan tsaqafah yang diberikan kepada para pelajar juga berasal dari pemikiran barat. Termasuk kurikulum yang diterapkan saat ini tak lepas dari campur tangan barat. Bisa jadi juga pesanan barat. Yang tujuannya tidak lain adalah untuk merusak generasi kaum muslim. 

Karena orang-orang kafir barat tak akan rela jika generasi dari kaum muslim bangkit dan menyaingi mereka. Hingga mereka melakukan segala hal untuk merusak generasi dengan cara menyebarkan ide-ide, pemikiran , budaya, termasuk gaya hidup mereka.


Allah berfirman di dalam alquran, "an orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka " (al Baqarah 120).

Jadi budaya kebebasan yang selama ini disebarkan masif kepada generasi kita, melalui media juga kurikulum adalah bentuk penjajahan pemikiran. Agar generasi kita jauh dari tuntunan agama Islam. Yang mana Indonesia adalah berpenduduk mayoritas muslim.

Bagaimana peran kita saat ini untuk menyelamatkan generasi?

Dalam Islam peran utama dalam keluarga adalah kedua orang tua, keduanya harus sama-sama mengupayakan agar seorang anak dibentuk menjadi pribadi yang sholih dan sholihah. Karena anak adalah aset menuju kehidupan dunia dan akhirat utamanya. Orang tua juga sebagai teladan bagi seorang anak. Perbuatan atau kebiasaan baik dan buruk juga akan mereka tiru.

"Setiap anak dilahirkan diatas fitrah, kedua orang tuanya lah yang akan menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. Sebagai pemisalan hewan yang dilahirkan oleh anak hewan, apakah kalian melihat ada anak yang terpotong telinganya?" (HR Bukhari)

Nash ini adalah patokan awal dalam pembinaan anak dalam keluarga.

Begitu juga peran guru disekolah, peranannya sangat penting dalam membentuk generasi. Sebab guru juga sebagai orang ke dua yang berperan dalam mendidik murid-murid ketika disekolah. Guru sebagai orang yang diguguh dan ditiru, itu harus ada dalam diri para pendidik. Apa yang mereka katakan akan berpengaruh pada murid-muridnya. Kontrol guru terhadap murid, evaluasi terhadap kesulitan murid dalam belajar, termasuk kontrol pemahaman-pemahaman yang dapat merusak pemikirannya.

Jadi tugas guru tak hanya sekedar mentrasfer ilmunya, tanpa ada pendampingan dan arahan khusus dari pelajaran yang diberikan. Padahal belum tentu semua ilmu yang diajarkan didalam kurikulum itu, sesuai dengan kebutuhan dan juga sesuai dengan Islam. 

Peran sekolah juga ikut andil yang mana berkewajiban memberikan perlindungan kepada murid dan para guru dalam mencetak generasi, dengan menetapkan aturan-aturan yang mana bisa menjamin keberlangsungan kegiatan belajar dan mengajar dengan baik. Sesuai dengan visi dan misi dari pihak sekolah.

Sekolah harus menetapkan aturan agar tidak terjadi kasus-kasus seperti pergaulan bebas, pacaran, seks bebas, narkoba, miras, merokok, tawuran, kenakalan  dan lain sebagainya. 

Untuk meminimkan adanya pacaran pihak sekolah harus menetapkan aturan agar memisahkan kelas murid laki-laki dan perempuan, agar tidak terjadi campur baur dan khalwat (berdua-duaan). 

Untuk meminimkan adanya pelecehan seksual sekolah harus menetapkan aturan menutup aurat secara sempurna bagi murid perempuan.

 Juga agar dapat membentuk kesadaran pada diri para pelajar untuk menjauhi kenaksiyatan maka bisa membuat kajian rutin, seperti memberi siraman rohani dengan membina para pelajar dengan cara menguatkan aqidah dan akhlaq mereka dengan kegiatan kajian Islami. 

Yang tak kalah pentingnya adalah peran negara. Dalam mencetak generasi dengan memberikan sistem pendidikan yang berbasis Islam, dengan kurikulum yang berasal dari aqidah dan Tsaqafah Islam. Bukan menggunakan  kurikulum yang lahir dari sistem kapitalis yang saat ini diterapkan. 

Karena kurikulum adalah alat yang efektif untuk membentuk kepribadian pelajar. Yaitu membentuk pola pikir dan pola sikap. Serta memberikan fasilitas pendidikan yang baik, para guru yang handal dan pintar dibidang sain dan teknologi juga faqih fiddin.

Itu semua adalah kewajiban Negara dalam hal memberikan pelayanan pendidikan. Jika kurikulum pendidikan dan tsaqafah Islam juga sistem yang menaungi kita adalah berasal dari aturan Islam maka InsyaAllah tak akan terjadi masalah seperti saat ini.

Semua masalah yang terjadi karena kita telah berpaling dari aturan Allah. Wallahu a'lam bish-showab.[]

Penulis adalah anggota komunitas muslimah perindu jannah, Jember
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Sania Nabila Afifah: Remaja Dan Bahaya Liberalisasi Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com