Latest News
Sunday, February 10, 2019

Siti Rahmah: Ketika Cinta Bicara

Siti Rahmah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Memasuki bulan Februari nuansa dan aroma cinta begitu melekat. Bahkan bulan Februari dinobatkan sebagai bulan cinta (The month of love). Bagi pasangan muda-mudi tentu mereka tidak akan mau melewatkan momen di bulan ini. Bulan yang dianggap paling tepat untuk menyatakan cinta, untuk memulai hubungan dengan orang tersayang dan bulan untuk mempersembahkan bukti cinta terindah. Begitulah remaja memaknai bulan Februari. 

Bagi mereka yang memiliki "gebetan" Februari adalah bulan yang tepat untuk meningkatkan status, menjadi pacaran. Prosesi "penembakan" (menyatakan cinta) dipersiapkan dengan begitu maksimal. Setting tempat dibuat menarik, nuansa pun romantis, rangkaian kata yang puitis. Semua dibuat istimewa agar tercipta momen yang mengesankan, berharga dan tidak bisa dilupakan. 

Begitupun dengan pasangan muda-mudi yang sudah menjalin hubungan asmara dengan kekasihnya, yang mereka sebut dengan ikatan pacaran. Mereka pun tidak mau kalah dalam memanfaatkan momen Februari ini, mereka membuat perayaan (party) romantis, khusus buat sang kekasih. Bunga, cokelat, barang berharga sudah dipersiapkan sebagai hadiah. Bahkan lebih dari itu kehormatan, virginitas rela diserahkan demi memberi hadiah terindah dan berkesan untuk sang kekasih. 

OMG..what? Segitunyakah? Emang apa istimewanya bulan Februari? Yups memang begitu para remaja memperlakukan bulan Februari, mereka menjadikan Februari bulannya cinta karena di sana terdapat hari yang mereka sebut dengan hari kasih sayang atau ngetrend dengan istilah Valentine Day. Momen ini senantiasa diperingati pada tanggal 14 Februari di setiap tahunnya. Lantas bagaimana asal mulanya Valentine day?

Awalnya, di zaman kekaisaran Romawi kuno. Pada masa itu orang memperingati tanggal 14 Februari adalah hari libur, guna menghormati juno yang merupakan ratu mitologis dewa-dewi Romawi. Orang Romawi juga menganggap juno sebagai dewi perkawinan. Perayaannya dimulai pada tanggal 15 February, pada  hari itu diadakan festival lupercalia yang umum disebut dengan festival kesuburan.

Pada hari itu semua wanita menuliskan namanya lalu disimpan disebuah wadah, setelah itu lelaki boleh mengambil salah satu nama wanita tersebut, yang dijadikan sebagai pasangan malam itu. Pasangan hanya untuk pemuas nafsu syahwat lelaki semata dan hanya untuk malam itu saja. Lupercalia sendiri adalah moment untuk menyucikan kota dari roh jahat, melepaskan kejahatan dan mencegah kemandulan. Itulah sejarah singkat awal mulainya peringatan hari Valentine day, yaitu pesta penyerahan kehormatan perempuan untuk laki-laki dengan cara permainan.

Kalau kita berfikir jernih, sebenarnya tidak ada korelasi antara perayaan valentine day dengan kasih sayang dua insan. Hanya saja remaja muslim saat ini latah, mudah baper dan terkesan lebih senang membebek. Menjadi pengikut budaya yang dia sendiri tidak memahami asal muasalnya, atau bahkan tidak mengerti arah dan tujuannya. Tapi karena ini terus dicocokan, dipromosikan dan terus gencarkan pada remaja sehingga akhirnya membudaya. Bahkan bisa dipastikan remaja muslim saat ini sudah menjadikan Valentin day sebagai ritual yang wajib dilaksanakan.

Hal ini terlihat dari euforianya remaja dalam mempersiapkan acara tersebut. Apalagi ditunjang dengan kebiasaan yang sudah terlanjur merebak dimasyarakat, seperti halnya menjelang tanggal 14 Februari, kita bisa saksikan semua acara TV sudah dikonsep dengan program-program cinta. Begitupun dengan area perbelanjaan mulai dari Mall, minimarket, outlet-outlet dan semua pusat perbelanjaan di setting dengan nuansa pink yang memberi kesan kasih sayang. Begitupun dengan pernak-pernik valentin day tidak luput menghiasi dan menyuguhkan semua kebutuhan yang bisa digunakan dalam perayaan Valentine day

Cokelat dengan bentuk hati dan berbagai hiasan yang menarik, rangkaian bunga yang indah nan menawan,  boneka yang dikemas menarik semua laku keras. Tidak hanya itu, penjualan alat kontrasepsi berupa kondom pun meningkat drastis menjelang perayaan Valentine day. Bahkan yang lebih tragis pembeli kondom tersebut rata-rata dilakukan oleh anak mulai dari usia 13 sampai 20 tahun.

Menodai Kesucian Cinta
Kalau sudah begini benarkah semua dilakukan demi cinta dan kasih sayang? Naif rasanya menyatakan cinta tapi tidak mengerti makna cinta yang sesungguhnya. Dengan melihat realita seperti diatas, perayaan Valentine  day tidak lebih dari sekedar pesta yang berujung pada free sex dengan melegitimasi kata cinta. Atas dasar cinta seolah wajib merayakan valentine day, atas nama cinta seolah wajar melanggar aturan bahkan atas nama cinta menodai kehormatan menjadi kesenangan. Naudzubillah. 
Benarkah itu cinta? Bukan kah cinta itu menjaga? Bukankah cinta itu akan membawa bahagia? Lantas kalau membuat sengsara layakkah disebut cinta? Dengan perayaan Valentine day  yang mengatasnamakan cinta sejatinya menodai kesucian cinta. Kenikmatan dan kesenangan yang dilakukan mungkin hanya bisa dinikmati semalam. Lantas bagaimana dengan setelahnya? Bagaimana dengan masa depan yang masih panjang? Bagaimana kalau sampai hamil? Sedangkan usia masih remaja, orangtua juga tidak akan nerima. Lebih jauh bagaimana dengan dosanya? 

Masihkah perayaan tersebut layak disebut hari kasih sayang dan pembuktian cinta? Sejalan lagi dengan  makna cinta yang sesungguhnya? Cinta adalah kata serapan dari bahasa Melayu cinta yang berasal dari bahasa Sansekerta cintā yang berarti “pikiran, kecemasan, kepedulian, pertimbangan” akan sesuatu. Tidak ada yang tahu kapan kata tersebut mulai digunakan, namun diperkirakan telah digunakan sejak zaman kerajaan Hindu di Indonesia. 
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia cinta merupakan ketertarikan antara laki-laki dan perempuan. Sedangkan para ulama menyebut cinta dengan istilah mahabbah. Artinya, kondisi dalam hati manusia yang muncul tanpa disengaja. Dalam dunia tasawuf, mahabbah merupakan bagian dari ahwal atau hal. Yaitu suatu kondisi yang muncul dalam hati manusia tanpa ada kesengajaan alias tanpa adanya upaya, seperti rasa sedih, rindu, rasa cemas dan lain sebagainya. Tentu saja rasa ini Tidak hanya terbatas pada cinta antara dua insan, tapi cinta memiliki makna yang luas. Cinta terhadap Tuhannya, cinta kepada orangtuanya, sesama manusia, cinta terhadap hewan dan lingkungan.

Hanya saja cinta yang sedang menggejala di bulan Februari ini bukanlah cinta biasa. Tapi cinta yang hanya terjadi antar dua anak manusia yang saling tertarik. Sehingga dengan ketertarikannya itu banyak yang lupa batasan. Padahal bagi remaja muslim harusnya mereka memiliki standar yang jelas dalam mencintai, bukan asal tertarik. Tapi benar-benar memahami, siapa yang harus dicintai, dasar apa yang harus melandasi dan bagaimana cara mengekspresikan cintanya. Hal ini harus clear agar tidak menjadi cinta buta, agar tidak terperosok dalam duka dan tidak menodai cinta.

Bicara Cinta
Banyak orang yang berpendapat, kalau cinta sudah bicara, logika tak dapat berkata, nalar tak dapat menyala. Tidak ada cacat dan keburukan semua menjadi indah. Jadi wajar kalau cinta itu tidak mengenal batasan dan aturan karena cinta buta sehingga tidak butuh alasan untuk mencintai. Itu sich bagi yang lagi jatuh cinta. Mungkin aja rasa bahagia itu memenuhi semua relung hati, sehingga tidak ada ruang untuk nasehat. Begitulah ketika cinta bicara, di dunia hanya ada aku kamu dan cinta kita. 

Tapi hati-hati ya rasa yang meledak seperti itu biasanya Tidak akan lama. Why? Karena itu hanya sekedar luapan rasa sesaat, tidak ada landasan, ikatan dan pengaturan. Terus bagaimana seharusnya? Rasa cinta yang sudah terlanjur berbicara biarlah ada, kalau kamu sudah siap menerimanya. Karena cinta itu adalah fitrah, yang pasti dimiliki oleh setiap manusia. Siapapun dia, dimanapun berada, apapun latar belakang dan agamanya, sebagai manusia, alaminya dia akan merasakan ketertarikan terhadap lawan jenis.

Perasaan ini adalah perwujudan dari naluri kasih sayang (gharizah Nau). Jadi tidak salah kalau kamu tertarik terhadap lawan jenis, berarti itu normal. Hanya saja tentu ada yang membedakan ketika seorang muslim yang jatuh cinta. Apa yang membedakannya? Dia punya batasan. Dia akan memahami siapa yang harus dia cintai? Kalau laki-laki maka dia akan mencari muslimah yang Sholehah, begitupun sebaliknya. Hal ini akan menjadi syarat mutlak ketika dia mencari pasangan. Sebagai seorang muslim dia akan sangat memahami sabda Rasululloh, bahwasanya Anas Radhiyallahu anhu (Sahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meriwayatkan hadits ini) mengatakan, “Kami tidak pernah merasakan kebahagiaan sebagaimana kebahagiaan kami ketika mendengar sabda Rasûlullâh , ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’

Kebersamaan dengan orang yang dicintai ini terlalu penting, karena bagaimanapun kita ingin disatukan dan senantiasa dikumpulkan dengan orang-orang yang kita cintai. Hanya saja kebersamaan itu bukan hanya sekedar kebersamaan sesaat di dunia yang fana ini, tapi kebersamaan yang kekal dan abadi yaitu di akhirat di Jannah Nya. Makanya seorang muslim akan sangat hati-hati dalam menjatuhkan hatinya, dia akan menjaga cintanya, hanya untuk seseorang yang layak membersamainya di dunia dalam ketaatan dan di akhirat dalam surga.

Dengan begitu rasa cinta yang merupakan fitrah ini, tidak dilepaskan begitu saja, tidak dibiarkan liar tanpa kendali. Tapi diberikan alas yang menjadi sandaran dan landasan, sehingga dengan begitu rasa cinta itu bisa menghantarkannya kepada kebahagiaan hakiki. Landasan itu adalah mencintai sumber cinta, mencintai sang pemberi cinta, dialah Allah. Jika cinta sudah semata-mata disandarkan pada Allah, maka manusia tidak akan tersiksa karenanya, tidak akan menderita dibuatnya dan tentu saja akan menjauhkan manusia dari segala dosa. 

Karena kecintaan kepada Allah itu keridhoan, ketundukan dan kepatuhan pada perintahNya. Sehingga ketika pun pada akhirnya, seorang muslim itu menemukan tambatan hatinya. Maka yang akan jadi standarnya adalah keislamannya, ketaatannya dan ketundukannya pada perintah Allah. Muslim seperti ini akan mencintai pasangannya semata-mata karena pasangannya mencintai Allah. Bukan semata karena keelokan wajahnya, keindahan tubuhnya, ketenaran namanya atau karena limpahan hartanya. Bukan karena semua itu tapi karena iman yang menghujam, maka cinta inilah yang akan merekat dengan kuat. 

Sehingga jika landasan itu sudah ada, maka cinta yang dirasa tak akan salah. Karena Allah yang akan memilihkannya. Cinta karena Allah ini juga yang akhirnya akan menjadi seleksi alami, siapa saja orang yang layak kita cintai, semua akan tersandar pada keridhoan Allah. Begitupun dalam mewujudkan kebersamaan untuk menjaga cintanya, seorang muslim tidak akan  menjalani hubungan yang serampangan, bukan juga sekedar komitmen untuk bersama. Tapi semua akan dijalaninya sesuai dengan aturan Allah.

Ketika muncul rasa suka itu dia akan mendatangi walinya untuk menghalalkannya. Prosesi ta'aruf dan khitbah akan ditempuhnya. Tidak perlu menunggu bulan Februari untuk mewujudkan cintanya dalam sebuah pernikahan. Karena cinta tidak mengenal waktu, tidak perlu ada hari khusus untuk membuktikan keseriusannya. Apalagi harus nunggu setahun sekali. Karena yang membuat istimewa itu bukan bersama dalam maksiat, tapi bersama dalam taat. Menikah adalah  cara istimewa bagi seorang muslim untuk menyatakan cinta, menyatakan keseriusan dan kesungguhan dalam mencintai. 

Ketika cinta bicara biarlah pernikahan menjadi ruang yang akan akan menyelamatkan kesucian dan menjadi penghantar lahirnya kebahagiaan. Remaja muslim jatuh cinta maka cinta itu cinta yang halal dalam pernikahan, belum siap untuk menikah maka tinggalkanlah untuk menjaga kesucian.[]

  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Siti Rahmah: Ketika Cinta Bicara Rating: 5 Reviewed By: radarindonesia news