Latest News
Tuesday, February 12, 2019

SW. Retnani S. Pd: Gagalnya Rezim Neolib Dalam Meri'ayah Umat


SW. Retnani S. Pd
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Indonesia sebagai negara berkembang selalu menjadi incaran negara- negara maju, terutama di bidang ekonomi. Dari negara- negara berkembang seperti Indonesia inilah negara maju menggantungkan perekonomiannya. Mereka telah sengaja mendorong negeri ini untuk menjadikan sistem perekonomiannya berlandaskan hutang riba dari negara- negara maju. Maka tak heran ekonomi Indonesia dari tahun ke tahun mengalami kemunduran. Sebab, riba telah diharamkan Sang Maha Pencipta, Alloh azza wajalla. Allah SWT berfirman:


اَلَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبٰوا لَا يَقُوْمُوْنَ اِلَّا كَمَا يَقُوْمُ الَّذِيْ يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطٰنُ مِنَ الْمَسِّ ۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْۤا اِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبٰوا ۘ وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰوا ۗ فَمَنْ جَآءَهٗ مَوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّهٖ فَانْتَهٰى فَلَهٗ مَا سَلَفَ ۗ وَاَمْرُهٗۤ اِلَى اللّٰهِ ۗ وَمَنْ عَادَ فَاُولٰٓئِكَ اَصْحٰبُ النَّارِ ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

"Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri, melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal, Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Barang siapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barang siapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya."(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 275)

Rezim neolib memang sudah gagal mensejahterakan umat. Rezim ini, akan terus bertumpu pada hutang ribawi sehingga sulit untuk maju. Jeratan hutang riba akan semakin membengkak dari hari ke hari. Dan membuat perekonomian negara dalam kondisi tidak stabil.

Sebagaimana yang dilansir dari m.detik.com bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, suku bunga acuan dan infrastruktur juga menjadi poin yang dikritik oleh majalah ekonomi asal Inggris, The Economist. 

Majalah ini menyebutkan prospek 2019 tidak terlalu baik, karena bank sentral juga telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak 6 kali dalam 9 bulan terakhir untuk menahan penurunan mata uang. 

Staf khusus presiden, Ahmad Erani Yustika menjelaskan pada 2018 kondisi ekonomi dunia tidak berada dalam kondisi yang bugar. Hal ini membuat sebagian negara besar menggunakan kebijakan yang cenderung ketat agar stabilitas ekonomi terjaga. 

Misalnya, yang menjadi faktor pendorong adalah kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed), kenaikan harga minyak dan dampak perang dagang AS dan China.

Analisis the economist tentang kebijakan pemerintah Jokowi di bidang ekonomi hanya menguatkan fakta bahwa rezim neolib gagal membawa rakyat Indonesia menuju masyarakat sejahtera. Kondisi perekonomian negara yang tidak stabil akibat sistem ekonomi neo liberal, memaksa pemerintah untuk mencari alternatif tambahan penghasilan negara yaitu dengan cara memungut pajak dan mencari sumber ekonomi baru untuk diberi pajak. Selain itu, negara juga mengurangi anggaran serta ditetapkannya penghapusan berbagai subsidi khususnya yang bersangkutan dengan kebutuhan masyarakat. 

Akibatnya rakyat semakin sengsara, pertumbuhan ekonomi menurun dan konsumsi masyarakat pun ikut mengalami penurunan yang sangat drastis. Lemahnya perekonomian negara menggambarkan gagalnya pemimpin dalam mensejahterakan rakyat. Umat harus paham bahwa kesejahteraan tidak mungkin diwujudkan jika tetap mengukuhi sistem yang menjadi akar masalahnya. Yakni, sistem kapitalisme neoliberal yang tegak diatas asas sekulerisme dan pilar- pilar rapuh seperti prinsip liberalisasi ekonomi, ekonomi non riil, investasi asing dll.

Liberalisasi ekonomi bisa berakibat fatal karena dapat memicu berkembangnya hukum rimba. Yang kuatlah yang berkuasa, dengan kata lain sistem ini hanya berpihak kepada individu atau kelompok bermodal besar.

Selain itu menjamurnya ekonomi non riil yaitu investasi ke pasar saham berdampak tidak terlalu besar bagi pertumbuhan sektor riil. Artinya, tidak memberikan kontribusi langsung kepada masyarakat. Dalam sistem perekonomian Islam tidak mengenal bursa saham ataupun transaksi non riil lainnya. Bahkan Islam menetapkan adanya rukun jual beli yang terdiri dari ijab qabul, dua pihak yang berakad, barang yang dijual dan suka sama suka atau ridho. Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْۤا اَمْوَالَـكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّاۤ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْ ۗ وَلَا تَقْتُلُوْۤا اَنْـفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu." (QS. An-Nisa' 4: Ayat 29).

Kemudian semakin parah dengan adanya investasi asing. Penanaman modal asing sering menimbulkan dampak negatif misalnya: rusaknya lingkungan alam, diskriminasi pendapatan antara pegawai asing dan lokal serta semakin banyaknya utang negara. Contohnya, proyek Freeport di Papua dan Exxon di Aceh.

Sistem ekonomi neo liberal yang rusak dan mendzalimi rakyat harus diganti dengan sistem ekonomi Islam yang telah terbukti mampu mensejahterakan umat.

Tinta emas sejarah telah mencatat kehidupan rakyat yang makmur dan sejahtera pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Tergambar dari ucapan Yahya bin Zaid, seorang petugas zakat masa itu, "saat hendak membagikan zakat, saya tidak menjumpai seorang miskin pun. Khalifah Umar Bin Abdul Aziz telah menjadikan setiap individu rakyat pada waktu itu berkecukupan". 

Seperti inilah sistim ekonomi Islam akan menjamin kebutuhan pokok tiap individu rakyat, kekayaan akan merata sehingga tidak timbul ketimpangan ekonomi. 

Kekayaan alam akan menjadi penghasilan utama bagi negara dalam memenuhi kebutuhan umat. Tidak seperti rezim neolib yg menggantungkan penghasilannya pada hutang ribawi dan pajak yg melilit rakyat. 

Saatnya kita buang jauh sistem kapitalis -libralisme, kita kembali pada sistem Islam dalam seluruh pengaturan hidup termasuk ekonomi agar umat bangkit dari keterpurukan dan meraih kesejahteraan hidup dalam naungan keberkahan Sang Maha Kuasa, Allah azza wajalla.  Allah SWT berfirman:

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَـهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى

"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta."(QS. Ta-Ha 20: Ayat 124). Wallohu a'lam bish showab.
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: SW. Retnani S. Pd: Gagalnya Rezim Neolib Dalam Meri'ayah Umat Rating: 5 Reviewed By: radarindonesia news