Latest News
Sunday, March 10, 2019

Alvi Rusyda*: Feminisme Tidak Semanis Realita

 Alvi Rusyda
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Setiap tanggal 8 Maret, setiap tahunnya adalah hari perempuan sedunia, semua perempuan merayakannya, dengan berbagai acara, melakukan aksi menuntut kebebasan perempuan, lantas apakahn memperingati setiap tahun akan membawa perubahan bagi kaum perempuan yang mengusung ide feminisme?

Feminisme bukanlah sekadar feminisme. Karena di setiap negara berbeda tentang hak-hak perempuan, DW berbicara dengan para aktivis dari India, AS, Jerman dan Guatemala tentang situasi perempuan saat ini di negara asal mereka. Bagaimana mereka menilai situasi? Di mana keluhan terburuknya? Dan apa yang bisa lakukan untuk melawan?[tribbunenews]

Banyak perempuan di luar negeri menjadi korban dari feminisme, berikut laporan tokoh perempuan diberbagai dunia:

Penelope Kemekenidou, 31, Jerman

Situasi perempuan di Jerman tidak sebaik yang ingin diakui kebanyakan orang. Dua hari sekali seorang wanita dibunuh oleh pasangannya. Sementara di Spanyol atau Amerika Selatan jutaan orang telah turun ke jalan karena pembunuhan semacam itu, kemarahan kolektif masih belum terasa di sini.

Karena kekerasan terhadap perempuan juga ada hubungannya dengan penggambaran mereka di media, pada 2015 saya mendirikan perhimpunan "Gender Equality Media e.V.". Kami prihatin bahwa pembunuhan terhadap wanita, serangan seksual atau upaya pemerkosaan oleh media tidak disepelekan dengan bahasa tertentu, sehingga pembunuhan juga disebut pembunuhan dan bukan sekadar "drama pasangan yang cemburu". Bagi mereka yang meremehkan kekerasan dalam bahasa juga turut melegitimasinya, karena ini menggeser sistem nilai kita.

Tujuan kami adalah mengembangkan kode konkret untuk dan dengan jurnalis di masa depan untuk mengakhiri berita yang diskriminatif dan memfitnah perempuan. http://m.tribunnews.com/amp/internasional/2019/03/08/feminisme-di-dunia-apa-yang-kini-diperjuangkan-aktivis-perempuan

Akar Masalah

Ide feminisme ini merupakan ide dari barat, Feminisme (tokohnya disebut Feminis) adalah sebuah gerakan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak dengan pria. Feminisme berasal dari bahasa Latin, femina atau perempuan. Istilah ini mulai digunakan pada tahun 1890-an, mengacu pada teori kesetaraan laki-laki dan perempuan serta pergerakan untuk memperoleh hak-hak perempuan. 

Secara luas pendefinisian feminisme adalah advokasi kesetaraan hak-hak perempuan dalam hal politik, sosial, dan ekonomi. Paham ini lahir karena penerapan sistem Kapitalis sekuler, dimana aturannya memisahkan agama dengan kehidupan. Dalam sistem Kapitalis ini, perempuan dijadikan sebagai alat untuk meraih keuntungan materi oleh pemilik modal, mereka menganggap bahwa perempuan harus berkecimpung dalam urusan publik, tentu menunt harus berpenampilan yang menarik, menjadi wanita karir, dan menjadi pemuas bagi laki-laki, mereka harus bekerja di sektor yang juga dikerjakan oleh laki-laki, tentu akan menghilangkan fitrah mereka sebagai ibu bagi anak-anaknya. Maka wajar perempuan menjadi korban kebejatan laki-laki di luar, korban pemerkosaan, terjadinya penganiayaan kepada perempuan dan pembunuhan, keretakan rumah tangga, anak-anak terlantar, dan masih banyak kasus lagi, semuanya bermuara karena kebusukan feminisme yang membelenggu perempuan.


Perempuan Mulia Dalam Islam

Islam adalah agama yang memuliakan perempuan, sejak Rasulullah SAW diutus Allah membawa risalah Islam, kedudukan perempuan pada masa jahiliyah menjadi mulia dan Istimewa. Perhatikan Allah berfirman tentang bagaimana seharusnya memperlakukan kaum perempuan dalam ayat berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An Nisa [4]: 19)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sering mengingatkan dengan sabda-sabdanya agar umat Islam menghargai dan memuliakan kaum wanita. Di antara sabdanya:

اِسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita.” (HR Muslim: 3729)

begitu mulia kedudukan perempuan dalam Islam, kedudukan nya sama dengan laki-laki. Sebagaimana laki-laki, hak-hak wanita juga terjamin dalam Islam. Pada dasarnya, segala yang menjadi hak laki-laki, ia pun menjadi hak wanita. Agamanya, hartanya, kehormatannya, akalnya dan jiwanya terjamin dan dilindungi oleh syariat Islam sebagaimana kaum laki-laki. 

Dalam Islam perempuan memiliki peran yang sangat besar dan berkontribusi terhadap kemajuan kaum muslimin, yaitu: pertama: Menjadi wanita shalihah, yaitu sebagai seorang wanita harus memiliki pemahaman Islam, mengamalkannya serta menyampaikan Islam, kedua: menjadi Ibu generasi penakluk, seorang perempuan Muslimah harus bercita-cita demikian, karena tugas utamanya adalah menjadi Ummul warabbatul bait, ibu pengatur rumah tangga dalam keluarga nya, generasi penakluk hanya lahir dari kaum Ibu muslimah yang visioner juga bercita-cita kepemimpinan, merekalah kaum muslimah yang paham betul bahwa kesuksesan peradaban nya, masyarakat, dan generasi yang lagi dari tangannya. 

Pada masa kejayaan Islam ini muncul dari perempuan hebat, mereka bukanlah wanita karir, seperti hari ini yang mengejar kesuksesan dengan capaian materi, hanya memikirkan kesuksesan diri sendiri dan keluarga, atau mereka yang duduk di bangku parlemen, namun merekalah para Intelektual peradaban, penggerak opini dakwah dan ibu generasi penakluk, kita kenal Aisyah binti Abu Bakar, perawi hadits perempuan, Khairuzan ibu dari Khalifah Musa al-Hadi dan Harun Ar-Rasyid, Ibu Salahuddin Al-ayyubi, ibu Muhammad al-Fatih, dll. Ketiga, perempuan berperan penting dalam politik Islam, yaitu mengurus urusan umat, mampu memberikan solusi bagi permasalahan yang terjadi di negeri ini, walaupun tidak bergabung dengan politik parlemen hari ini, dan tidak menjabat di bangku kekuasaan. 

Tentu kita merindukan kemuliaan perempuan dalam Islam, semuanya bisa diwujudkan dengan menerapkan sistem Islam. Wallahua’lam.[]

*Mahasiswi Pascasarjana UIN Imam Bonjol Padang
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Alvi Rusyda*: Feminisme Tidak Semanis Realita Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com