Latest News
Thursday, March 21, 2019

Anisa Fitri Mustika Bela: Teroris Brutal di Newzealand, Umat Butuh Prisai

Anisa Fitri Mustika Bela
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA  - Kabar duka datang dari saudara se-iman yang ditembak secara brutal di dua masjid di Christchurch, New Zealand (Selandia Baru). Mike Bush, Komisioner Kepolisian Selandia Baru menyebutkan bahwa korban tewas berjumlah 49 orang dengan rincian 41 orang tewas dalam penembakan di Masjid Al Noor, Deans Ave kemudian 7 orang lainnya tewas di sebuah masjid di pinggiran Linwood dan 1 orang tewas saat dirawat di rumah sakit. Kepolisian Selandia Baru menyebut penembakan brutal itu ‘direncanakan sangat matang’, (m.detik.com, 15/03/2019). Kabar tersebut menambah daftar kelam kondisi umat Islam. 

Sebelumnya, kabar duka datang dari Muslim di Uighur yang dipaksa masuk ke dalam kamp-kamp re-edukasi karena memegang teguh Islam, kondisi Muslim di Rohingya sungguh miris akibat genosida yang dilakukan Pemerintah Militer Myanmar, Palestina masih berduka dijajah bangsa Israel, dsb. Benarlah pernyataan Imam Al-Ghazali bahwa “Kekuasaan dan agama adalah saudara kembar. Agama adalah pondasi/pokok-nya (ushul) sedangkan penguasa adalah penjaganya. Dan apa-apa yang tidak ada pondasinya maka dia akan runtuh, sedangkan apa-apa yang tidak memiliki penjaga maka dia akan lenyap.” 

Manifesto Pelaku Teror Bermotif Anti-Muslim 

Brenton Tarrant (28), diidentifikasi sebagai pelaku terror di dua masjid di kota Christchurch (New Zealand) telah dijerat dakwaan pembunuhan. Pelaku juga diyakini bertanggung jawab atas terror mematikan selama 36 menit di dua masjid tersebut. Perdana Menteri (PM) Jacinda Arden menyebut Tarrant sebagai ‘pelaku utama’. Dakwaan yang dijeratkan kepada Tarrant masih bisa bertambah. Pengadilan setempat menyatakan Tarrant akan ditahan hingga April mendatang. PM Arden menyatakan bahwa Tarrant mendapatkan senjata-senjata yang dipakainya dalam terror secara legal. Izin kepemilikan senjata api di dapatkan Tarrant sejak November 2017, (m.detik.com, 17/3/2019). 

Bila Islam dijadikan sebagai landasan dalam sebuah pemerintahan sebagaimana yang dituturkan Imam Ghazali, maka manusia akan terjaga darah, harta dan kehormatannya. Sungguh Allah menegaskan di dalam firmannya, “Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al Maidah: 32) menunjukkan betapa berharganya darah seorang manusia dalam Islam, sehingga pemerintahan yang berlandaskan Islam tentu akan sangat menjaga darah manusia dari tindakan pembunuhan. Saking indahnya penjagaan Islam terhadap darah manusia, Rasulullah saw. bersabda “Siapa menjadi keluarga korban terbunuh maka ia memiliki dua pilihan: bisa memilih diyat, dan bisa juga membunuh (meminta qishash).” (HR.al-Jama’ah). 

Namun, keindahan ini hanya dapat terlihat ketika Islam diterapkan secara Kaffah karena bila hanya diterapkan setengah-setengah tidak nampak keindahannya, bak pelangi hanya akan indah tatkala terlihat seluruh warnanya sedangkan bila hanya ada satu warna saja tidak nampak keindahannya. 

Kantor PM Arden mengonfirmasi pihaknya menerima salinan ‘manifesto’ yang ditulis Tarrant kurang dari 10 menit sebelum terror dimulai pada Jumat (15/3). Selain Kantor PM Arden, 70 pihak lainnya yang menerima salinan manifesto itu sesaat sebelum terror terjadi diterima via email. Tarrant sebelumnya diketahui sempat memposting secara online sebuah manifesto setebal 87 halaman yang isinya menyebutkan alasannya melakukan penembakan brutal tersebut. Manifesto itu berisi pandangan anti-imigran, anti-muslim dan penjelasan mengapa serangan itu dilakukan. Mereka yang menerima salinan manifesto antara lain sejumlah politikus Selandia Baru, kemudian Ketua Partai Nasional Selandia Baru, Simon Bridges dan Ketua Parlemen Selandia Baru, Trevor Millard, serta media massa baik domestik maupun internasional, (m.detik.com, 17/3/2019). 

Fakta ini menjelaskan motif terror brutal tersebut dilakukan, yakni kebencian sang pelaku terror terhadap umat Islam. Benarlah firman Allah dalam Alquran bahwa “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS. Ali ‘Imran: 118). Sesungguhnya terror brutal itu sudah menghancurkan sesuatu yang sangat berharga, yang nilainya melebihi dunia dan seisinya. Rasulullah saw. bersabda “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani). 

Mirisnya lagi, si pelaku seolah tidak merasa bersalah sama sekali atas perbuatannya. Tindakannya seolah lebih rendah ketimbang singa yang kelaparan, bila singa hendak menerkam mangsanya maka yang diserang pertama kali adalah lehernya agar lebih cepat mati itupun dilakukan karena kelaparan, sedangkan Tarrant langsung menembak bagian kepala korban dan dilakukan atas kebencian. 

Opini umum yang berkembang di masyarakat yang menyebutkan bahwa Islam adalah inspirator terorisme sungguh tidak terbukti, karena faktanya Muslim kerap menjadi korban terorisme. Kejadian di New Zealand hanya satu dari beragam aksi terror yang menimpa kaum Muslim, sehingga sangat salah opini tersebut. Sebenarnya opini itu hanyalah sebuah propaganda yang sengaja disebarkan oleh Amerika pasca runtuhnya WTC dalam tragedi 9/11 demi menyudutkan Islam dan Umat Islam. 

Umat Butuh Prisai 

Kondisi umat Islam yang terus menjadi korban terorisme dari mulai pembunuhan sadis nan brutal hingga genosida di berbagai penjuru dunia, serta cap-cap intoleran, radikalisme, terorisme yang selalu digaungkan Amerika dan antek-anteknya demi menyudutkan Islam dan umat Islam demi mengokohkan hegemoninya di dunia serta menghalangi Islam dan umat Islam berjaya dimuka bumi. Apalagi pemimpin negeri-negeri Muslim saat ini tak sanggup melawan hegemoni itu dan hanya mampu mengecam tindakan keji yang terjadi, tetapi tidak pernah mampu menyelesaikannya dan menghalaunya terjadi, membuktikan bahwa umat Islam butuh prisai. 

Prisai yang akan menjadi pelindung umat dari hegemoni Amerika dan antek-anteknya. Prisai yang akan menjadi pelindung umat dari berbagai peristiwa keji terorisme yang menimpa mereka serta membunuhi mereka dan menjajah mereka. Prisai yang mampu menjaga darah, harta dan kehormatan mereka. Prisai yang akan mengalahkan hegemoni Amerika dan memimpin dunia. Yakni ketika Islam dijadikan landasan pemerintahan, ketika seluruh negeri muslim bersatu dalam satu kepemimpinan yang menegakkan syariat Islam, ketika seorang Khalifah sudah memimpin Daulah Islamiyyah dengan kedaulatan ditangan hukum syara’. Ketika itu pula Islam diterapkan secara Kaffah sehingga Allah ridho terhadap mereka dan menurunkan rahmat bagi seluruh alam. Wallahu’alam bishawwab.[]

Penulis adalah mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta

  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Anisa Fitri Mustika Bela: Teroris Brutal di Newzealand, Umat Butuh Prisai Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com