Latest News
Saturday, March 23, 2019

Arin RM, S.Si: Pendidikan Mahal, Haruskah Cita-cita Kuliah Gagal?

Arin RM, S.Si
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Melanjutkan pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi adalah impian dari kebanyakan pelajar. Namun faktanya, biaya masih saja menjadi salah satu penghalang bagi sebagian rakyat untuk mengakses pendidikan. Riset yang dilakukan Haruka Evolusi Digital Utama (HarukaEDU) di 2018 menyebutkan, 79% lulusan SMA/SMK yang sudah bekerja tertarik untuk melanjutkan kuliah lagi. Namun 66% responden di antaranya urung kuliah karena mengaku terkendala biaya. Hanya 8,15 persen dari total penduduk usia 15 tahun ke atas yang berhasil menyelesaikan pendidikannya ke tingkat perguruan tinggi (medcom.id, 24/12/2018). Kendati dalam hal ini sudah disiapkan bea siswa pendidikan tinggi, namun kemampuan sebagian orang untuk ke bangku kuliah masih belum bisa terwujud karena dinilai masih tetap mahal.

Biaya mahal adalah fenomena ketimpangan klasik yang bertaburan di masyarakat kita.  Ketimpangan ini terus terpelihara selama urusan pendidikan tidak sepenuhnya dikendalikan negara. Pendidikan akan terus berpotensi mahal jika diberlakukan layaknya perdagangan antara rakyat dan penguasa. Khas pengelolaan publik ala kapitalis. Padahal, dalam pandangan Islam, pendidikan termasuk dalam hak dasar rakyat, sehingga pemenuhannya harus dijamin. Pendidikan tidak boleh dilepaskan mengikuti “selera pasar” layaknya kebutuhan akan barang mewah dan membiarkan yang mampu bayar leluasa menikmatinya sementara yang tidak mampu harus rela berpangku tangan. 

Pendidikan itu penting dan seluruh rakyat haruslah terdidik, sebab pendidikan pada dasarnya adalah salah satu metode untuk mendapatkan ilmu. Ilmu diperlukan untuk menjalankan kehidupan. Ilmu pula yang menjadi pembeda kualitas antarbangsa. Bangsa berilmu/berpendidikan tinggi akan bisa menguasai dunia, begitupula sebaliknya. Oleh karena itu, Islam memandang bahwa ilmu (dalam konteks kekinian biasa dinamakan pendidikan) adalah hak dasar bagi rakyat yang tidak boleh diabaikan oleh kaum Muslim. 

Nash-nash syariah telah menetapkan pendidikan sebagai hajah asasiyyah (kebutuhan dasar) yang harus  dijamin ketersediaannya di tengah-tengah masyarakat, seperti halnya keamanan dan kesehatan.  Di antara nash-nash syariah yang menetapkan pendidikan sebagai kebutuhan dasar adalah sabda Nabi SAW: “Permisalan hidayah dan ilmu yang Allah SWT sampaikan kepada diriku bagaikan air hujan yang menimpa sebidang tanah….  Ini juga perumpamaan orang yang menolak hidayah dan ilmu dan tidak mau menerima hidayah Allah SWT yang dengan itulah aku diutus (HR al-Bukhari dan Muslim).

Di dalam hadits tersebut dinyatakan bahwa penerimaan dan penolakan manusia terhadap hidayah dan ilmu diidentikkan dengan sebidang tanah dan air hujan.  Air hujan  termasuk kebutuhan dasar bagi manusia, yang jika tidak dipenuhi akan menyebabkan kebinasaan lantaran sebab kekeringan dan sebagainya. Pengidentikan ilmu dan hidayah dengan air hujan menunjukkan, bahwa ilmu dan hidayah merupakan kebutuhan dasar sebagaimana air hujan.  Riwayat di atas juga diperkuat nash lain, seperti hadits-hadits berikut ini: “Di antara tanda-tanda datangnya Hari Kiamat adalah berkurangnya ilmu dan tampaknya kebodohan” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas menunjukkan bahwa lenyap dan berkurangnya ilmu merupakan  ancaman atau bahaya bagi kehidupan manusia.  Bahaya ini hanya bisa dihilangkan dengan cara menyelenggarakan pendidikan berkesinambungan di tengah-tengah masyarakat.  Sebab, ilmu dan hidayah hanya bisa dipelihara dan dijaga ketika keduanya dipelajari dan diajarkan secara terus-menerus di tengah-tengah masyarakat.  Dengan demikian, pendidikan merupakan kebutuhan dasar yang harus dijamin ketersediannya di tengah-tengah masyarakat oleh Negara.

Islam memandang wajib bagi setiap individu untuk menuntut ilmu. Artinya setiap rakyat haruslah terdidik dengan ilmu. Dengan ilmu, dunia dan akhirat bisa dikuasai. Generasi terbaik umat Islam terdahulu telah berhasil menguasai dunia, sekaligus mendapatkan kebaikan akhirat, melalui penguasaan mereka akan ilmu yang mereka peroleh melalui proses pendidikan/edukasi. Menyadari kebutuhan mereka akan ilmu, para sahabat pun terus menerus belajar tanpa mengenal usia. Hanya saja pada waktu itu belajar tidak harus dilakukan di sekolah sekolah formal, belajar bisa dilakukan di masjid atau di tempat lain yang memungkinkan ilmu bisa disampaikan.

Dalam konteks pendidikan, jaminan terhadap pemenuhan kebutuhan pendidikan bagi seluruh warga negara bisa  diwujudkan dengan cara menyediakan pendidikan gratis bagi rakyat. Negara juga wajib menyediakan fasilitas dan infrastruktur pendidikan yang cukup dan memadai seperti gedung-gedung sekolah, laboratorium, balai-balai penelitian, buku-buku pelajaran, dan lain sebagainya.  Negara juga berkewajiban menyediakan tenaga-tenaga pengajar yang ahli di bidangnya, sekaligus memberikan gaji yang cukup bagi guru dan pegawai yang bekerja di kantor pendidikan. 
  
Para Sahabat telah sepakat mengenai kewajiban memberikan  gaji kepada tenaga-tenaga pengajar yang bekerja di instansi pendidikan negara di seluruh strata pendidikan.   Khalifah Umar bin Khaththab ra. pernah menggaji guru-guru yang mengajar anak-anak kecil di Madinah, sebanyak 15 dinar setiap bulan.  Gaji ini beliau ambil dari Baitul Mal. Seluruh pembiayaan pendidikan di dalam negara diambil dari Baitul Mal. 

Terdapat 2 (dua) sumber pendapatan Baitul Mal yang dapat digunakan membiayai pendidikan, yaitu: (1) pos fai’ dan kharaj, jizyah, dan dharîbah (pajak); (2) pos kepemilikan umum seperti tambang minyak dan gas, hutan, laut, dan hima (milik umum yang penggunaannya telah dikhususkan). Adapun pendapatan dari pos zakat tidak dapat digunakan untuk pembiayaan pendidikan, karena zakat mempunyai peruntukannya sendiri, yaitu delapan golongan mustahik zakat. 

Biaya pendidikan dari Baitul Mal itu secara garis besar dibelanjakan untuk 2 (dua) kepentingan. Pertama: untuk membayar gaji segala pihak yang terkait dengan pelayanan pendidikan seperti guru, dosen, karyawan, dan lain-lain. Kedua: untuk membiayai segala macam sarana dan prasana pendidikan, seperti bangunan sekolah, asrama, perpustakaan, buku-buku pegangan, dan sebagainya. 

Dengan konsep pembiayaan di atas, pendidikan murah bisa diwujudkan. Cita0cita kuliah tidak harus gagal lantaran mahalnya biaya pendidikan. Terlebih, untuk negeri kaya raya seperti Indonesia ini, yang menjadi masalah sebenarnya bukan tidak adanya potensi pembiayaan, melainkan kepasrahan minimnya pemasukan negara karena kekayaan alam telah banyak yang dipegang pihak asing dan swasta. Birokrasi yang kurang transparan pun juga menyumbang seretnya pendanaan pendidikan. Dan inilah yang harus disudahi, harus distop agar setiap anak bangsa berkesempatan merasakan pendidikan tinggi.  []


Penulis adalah Pegiat TSC, Pengamat Sosial Media
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Arin RM, S.Si: Pendidikan Mahal, Haruskah Cita-cita Kuliah Gagal? Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com