Latest News
Monday, March 18, 2019

Dania Puti Rendi: Gagal Paham! Istilah Kafir

Dania Puti Rendi
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Suatu kewajaran bila seorang muslim menyebut orang yang tidak beriman kepada rukun iman itu kafir.Tetapi faktanya, hal ini dipersoalkan sehingga menimbulkan pro-kontra di berbagai kalangan.

Usulan penghapusan sebutan kafir ke nonmuslim Indonesia tercetus dalam sidang komisi bahtsul masail maudluiyyah Musyawarah Nasional Alim Ulama NU. Sidang itu mengusulkan agar NU tidak menggunakan sebutan kafir untuk warga negara Indonesia yang tidak memeluk agama Islam. Karena dianggap mengandung unsur kekerasan teologis.

Penyebutan ini hanya berlaku dalam penyebutan dalam konteks sesama warga negara. Bukan konteks istilah dalam Al-Qur'an secara keseluruhan(nasional.tempo.co/read/1181384/nu-akan-sosialisasikan-pengapusan-sebutan-kafir-untuk-nonmuslim).

Meskipun disebutkan di dalam Al Quran, juga Alkitab, kata kafir tersebut dalam implementasinya bisa berujung pada tindakan yang diskriminatif, bahkan juga dapat menimbulkan stigmatisasi.

Bagi PGI (Persekutuan Gereja Indonesia), rekomendasi PBNU itu bukanlah sesuatu yang luar biasa. Sebab, PBNU dalam praktik ke-Islam-annya memang mengedepankan hubungan antarmanusia tanpa mengabaikan hubungan dengan Allah(nasional.kompas.com/read/2019/03/05/14154221/ini-kata-pgi-soal-keputusan-nu-tak-sebut-umat-non-muslim-kafir#).

Menelisik dari penghapusan sebutan kafir, telah tercium aroma gagal paham terkait istilah Kafir itu sendiri. Kata "kafir" berasal dari bahasa Arab كفر-يكفر-كافرyang berarti orang-orang yang menutup diri dari beriman dan berislam. Bahkan diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi kata "cover".

Sedangkan, Istilah non muslim, berasal dari kata "سلم-يسلم berarti selamat. Jadi, muslim artinya orang-orang yang selamat. Dengan kata lain istilah " non muslim" adalah orang-orang yang tidak selamat.
Maka, dari perbedaan istilah di atas mana yang memiliki unsur menyakiti? 

Pada, akhirnya menjadi logika absurd jika menjadikan istilah kafir mengundang tindakan diskriminatif. Malahan, perkara diskriminatif bukan berdasarkan istilah, namun lebih bagaimana intonasi, adab dan akhlak seseorang dalam berbicara.

Anehnya, sebutan orang-orang diluar  Nasrani, Budha, Hindu, dan Yahudi tak pernah dipersoalkan. Padahal, sebutan "domba-domba yang tersesat" sebagian sebutan orang-orang non nasrani jauh lebih mengandung unsur kekerasan teologis pasalnya menyamakan manusia dengan hewan. Apalagi sebutan bagi non yahudi dan non hindu, diibarat sesuatu hal yang keji lagi menjijikkan. Dilain sisi,bisa kita amati adanya unsur nasionalisme atau "ashobiyah". Kenapa?

Menjunjung tinggi rasa persatuan dan toleransi dengan salah satu caranya penghapusan sebutan Kafir sebagai bentuk rasa menghargai agar tidak seolah-olah memperlakukan orang yang tidak memeluk Islam.

Padahal, tanpa adanya penghapusan istilah tersebut Islam memperlakukan orang-orang kafir dengan lemah-lembut dengan harapan mereka khususnya yang tunduk pada syari'at Islam dan menginginkan keamanannya dijamin negara mau memeluk Islam karena melihat keindahan Islam sebenarnya, tanpa adanya revisi penyebutan seperti sekarang. 

Karena,aturan Islam telah khatam dan sempurna menyikapi orang-orang diluar Islam. Tanla perlu penghapusan.

Islam Rahmatan lil 'Alamin


Semua hanya ada dan dirasakan apabila aturan Islam diterapkan secara KAFFAH (QS. Al Baqarah: 208). Dan aturan Islam, penerapannya dengan cara komprehensif hanya akan  bisa bilamana adanya institusi berupa negara.

Ibarat bakso akan enak dinikmati dan tidak akan berserakan apabila ada wadahnya berupa mangkok. Begitu juga syari'at Islam tanpa negara. Mudah saja dalil-dalil Al-Qur'an dipelintirkan. Umat tak paham agama dan banyak upaya menjauhkan umat dari berIslam (sekuler).

Nasionalisme sebuah bentuk penjajahan, karena, umat dipecah-pecah dalam bentuk Ikatan negara bangsa. Mampu menimbulkan sikap enggan dan kurang bersimpati serta berempati dengan saudaranya sesama muslim. Karena, berbeda negara, menghalangi kaum muslim menolong saudaranya yang sedang ditindas oleh sekutu barat.

Bahkan, anggapan dan pemahaman nasionalisme dapat menimbulkan fanatisme kelompok dan meremehkan ayat-ayatNya ada karena perasaan berlebihan kepada non muslim dan dorongan rasa kelompoknya yang paling baik tak perlu ikut campur dengan urusan negara orang lain, walaupun mereka umat Islam.

Inilah akibat tidak adanya penerapan Islam, maka halnya upaya kita ialah mengembalikan kegemilangan Islam dimana dirasakan Islam Rahmatan lil Alamin, tanpa takut adanya perpecahan dan diskriminatif yang terjadi antar umat beragama. 

Allah lebih tahu dari pada kita, apa yang terbaik, sedangkan kita sebaliknya. Maka, tidak bisa kita menukar istilah yang diberikan oleh karena berlandaskan nafsu dan perasaan semata

Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah : 255 yang artinya "Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mahahidup, yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Mahatinggi, Mahabesar."[]


  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Dania Puti Rendi: Gagal Paham! Istilah Kafir Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com