Latest News
Tuesday, March 19, 2019

Desi Wulan Sari, S.E, MSi: Demokrasi Rusak Ciptakan Ruang Korupsi

Desi Wulan Sari, S.E, MSi
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Mendengar kata korupsi saja sudah membuat telinga kita memerah, hati serasa mendidih, hati kesal tidak karuan menyimpan amarah. Korupsi di Indonesia sedang marak-maraknya terjadi bahkan tidak tanggung-tanggung nilai korupsi yang dilakukan pun mencapai nilai yang fantastis. 

Perasaan siapa yang tak hancur melihat kerusakan seperti itu? Tentunya rakyatlah yang merasa dikhianati oleh para pejabat dan penguasa negeri yang telah diberi amanah oleh rakyat sebagai pengurus negara.

Di Indonesia korupsi berkembang secara sistemik. Bagi banyak orang korupsi bukan lagi merupakan pelanggaran hukum, melainkan sekedar suatu kebiasaan yang telah mengakar turun temurun dalam lingkaran kekuasaan negeri. 

Menurut asal katanya, korupsi atau rasuah (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok) adalah tindakan pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, serta pihak lain yang terlibat dalam tindakan itu yang secara tidak wajar dan tidak legal menyalahgunakan. 

Sepatutnya sebuah sistem menghasilkan para politisi yang bersih, amanah dan berintegritas. Harapannya para politisi terpilih, baik yang menjadi Bupati, Gubernur, Presiden maupun anggota legislatif mau mencurahkan segala daya dan upaya dalam membangun negeri ini sehingga terbebas dari kemiskinan dan keterbelakangan. Sayangnya demokrasi meniscayakan adanya korupsi. Pemilu dan Pilkada yang berbiaya tinggi akan memaksa pejabat terpilih untuk mengembalikan dana yang telah dikeluarkan dalam kampanye. Alhasil sunat sana sunat sini terhadap dana pembangunan sudah jadi tradisi.  

korupsi memiliki hubungan dengan hambatan pembangunan dalam suatu negara. Karena itu, kita kemudian berharap skala korupsi berbeda di antara pelaku yang baik dan buruk, atau tipe korupsi berbeda di antara yang terjadi di berbagai negara. Adalah tidak mudah mengukur skala korupsi secara tepat, tetapi adalah jelas bahwa korupsi tidak terbatas pada negara yang disebut gagal. Praktek-praktek korupsi yang substansial pada sektor publik karena berdampak sangat luas.

Jika dirunut, masih banyak masalah korupsi di negara ini yang dalam proses hukumnya berhenti di tengah jalan dan menjadikan permasalahan tersebut sebagai penghambat pembangunan. 

Baru-baru ini Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan OTT terhadap ketua umum partai PPP Romahurmuziy, tidak hanya mengagendakan penggeledahan di kantor Kementerian Agama, Senin (18/3/2019). KPK akan kantor PPP terkait kasus korupsi yang menjerat mantan Ketum PPP ini. 

KPK menetapkan tiga tersangka dalam operasi tangkap tangan di Surabaya.
Pada operasi tersebut, KPK menetapkan mantan Ketua Umum PPP Romahurmuziy (RMY), mantan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur Haris Hasanudin (HRS), dan mantan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gresik Muhammad Muafaq (MFQ) sebagai tersangka.

KPK menduga ada transaksi yang dilakukan oleh HRS dan MFQ kepada RMY. Transaksi tersebut diduga terkait seleksi jabatan di lingkungan Kementerian Agama. Diduga, HRS sebelumnya telah menyerahkan uang sebesar Rp 250 juta kepada RMY untuk memuluskan langkah HRS menjabat Kepala Kanwil Kemenag Jatim. Dalam penanganan perkara tersebut, KPK mengamankan uang hingga Rp 156 juta (tirto.id, 18/3/2019).

Fakta lain yang mengenaskan adalah adanya daftar caleg eks koruptor yang masih diikutsertakan dan diusung oleh partai-partainya. Seperti data yang disampaikan oleh merdeka.com (19/1/2019). Berikut 40 caleg mantan koruptor yang diusung 12 partai politik: 

1. Partai Golkar, 8 orang caleg DPRD. 
2. Partai Gerindra, 6 orang caleg DPRD.
3. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, 1 orang caleg DPRD.
4. Partai Garuda, 2 orang caleg DPRD. 
5. Partai Keadilan Sejahtera, 1 orang caleg DPRD. 
6. Partai Hanura, 5 orang caleg DPRD. 
7. Partai Amanat Nasional, 4 orang caleg DPRD. 
8. Partai Demokrat, 4 orang caleg DPRD.
9. Partai Berkarya, 4 orang caleg DPRD. 
10. Partai Perindo, 2 orang caleg DPRD. 
11. PKPI, 2 orang caleg DPRD. 
12. Partai Bulan Bintang, 1 orang caleg DPRD. 

Sementara, daftar 9 caleg DPD yang berstatus mantan koruptor diantaranya:
DPD (1 caleg). 
1. DPD Provinsi Aceh
2. DPD Provinsi Sumatera Utara
3. DPD Provinsi Bangka Belitung
4. DPD Provinsi Sumatera Selatan
5. DPD Kalimantan Tengah
6. DPD Sulawesi Tenggara
7. DPD Provinsi Sulawesi Tenggara
8. DPD Provinsi Sulawesi Tenggara
9. DPD Provinsi Sulawesi Utara

Eratnya ikatan antara Sistem demokrasi dan kelahiran bibit-bibit korupsi semakin terbukti dan memberikan cara pandang baru bagi setiap orang bahwa kerusakan dan kerugian negara terjadi karena sistem dan orang-orang yang menjabat dalam usungan demokrasi tersebut. 

Bahkan saat ini, Indonesia memiliki satu departemen yang khusus menangani masalah korupsi di Indonesia. Artinya Saat ini, korupsi di Indonesia bisa dikatakan sudah menjadi budaya dari mulai tingkat rendah sampai tinggi. Bahkan, Indonesia sudah menjadi salah satu negara terkorup di dunia yang tentunya sangat memilukan. Meskipun saat ini sudah didirikan lembaga anti korupsi yang baru yaitu Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK yang secara gencar memberantas para koruptor, akan tetapi korupsi yang sudah berubah menjadi budaya ini terasa sangat sulit untuk dihentikan dan diberantas. 

Saatnya umat memilih satu sistem penerintahan yang mampu melindungi, menjaga, amanah dan memilikki tujuan untuk kesejahteraan umat. Islam telah menwarkan dan mencontohkan selama 13 abad  Masa pemerintahan kejayaan Islam, oleh Rasulullah.  Yaitu sistem pemerintahan terbaik daulah 'ala minhaj  nubuwwah (kedaulahan sesuai manhaj kenabian).

Korupsi Dalam Pandangan Islam 

Islam sendiri juga membagi istilah korupsi dalam beberapa dimensi yakni risywah atau suap, saraqah atau pencurian, al gasysy atau penipuan dan juga khianat atau penghianatan.

Korupsi dalam dimensi suap atau risywah di dalam pandangan hukum Islam adalah perbuatan yang tercela dan juga menjadi dosa besar dan Allah sendiri juga melaknatnya.

Saraqah atau pencurian dilihat dari etimologinya memiliki arti melakukan sebuah tindakan pada orang lain dengan cara sembunyi. Namun menurut Abdul Qadir ‘Awdah pencurian diartikan sebagai tindakan mengambil harta orang lain dalam keadaan sembunyi-sembunyi dalam arti tidak diketahui pemiliknya.

Dalam hukum Islam disyariatkan Allah SWT demi kemaslahatan manusia dan diantara kemaslahatan yang ingin diwujudkan dalam syariat hukum tersebut adalah harta yang terpelihara dari pemindahan hak milik yang tidak menurut dengan prosedur hukum dan juga dari pemanfaatannya yang tidak sejalan dengan kehendak Allah SWT. Karena itulah, larangan merampas, mencuri, mencopet dan lainnya menjadi pemeliharaan keamanan harta dari kepemilikan yang tidak sah. Larangan memakainya sebagai taruhan judi dan juga memberikan pada orang lain yang diyakini akan dipakai untuk perbuatan yang maksiat, sebab penggunaan yang tidak sesuai dengan jalan Allah SWT jadikan kemaslahatan yang dituju menjadi tidak tercapai. Ulama fikih juga sepaham dan berkata jika perbuatan korupsi merupakan haram dan juga terlarang sebab menjadi hal yang bertentangan dengan maqasid asy-syariah.

Dalil Quran Tentang Korupsi Dalam Islam

* QS An-Nisa’ 4:29
Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.

* QS Al-Maidah :42
Allah berfirman, “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Menurut Ibnu Mas’ud dan Ali bin Abi Talib, makna suht adalah suap.”

* QS Al-Maidah: 2
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”

Dalil Hadits Tentang Korupsi Dalam Islam

Hadits Sahih Riwayat Imam Lima Nabi bersabda, “Rasulullah melaknat penyuap dan penerima suap dan yang terlibat di dalamnya.” 

Bahaya Korupsi (Ghulul)
Allah sendiri tidak melarang sesuatu hal, namun dibalik itu terkandung hal buruk serta mudharat atau bahaya bagi pelakunya. Begitu juga halnya dengan korupsi atau ghulul yang juga tidak luput dari keburukan dan juga mudharat dan diantaranya adalah:

1. Pelaku korupsi Ghulul Akan Dibelenggu
Pelaku ghulul atau korupsi akan dibelenggu atau akan membawa hasil dari korupsi di hari kiamat seperti yang ditunjukkan pada ayat ke-161 Surat Ali Imran dan juga hadits ‘Adiy bin ‘Amirah Radhiyallahu ‘anhu. Sedangkan dalam hadits Abu Humaid as Sa’idi Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi (Allah), yang jiwaku berada di tanganNya. Tidaklah seseorang mengambil sesuatu daripadanya (harta zakat), melainkan dia akan datang pada hari Kiamat membawanya di lehernya. Jjika (yang dia ambil) seekor unta, maka (unta itu) bersuara. Jika (yang dia ambil) seekor sapi, maka (sapi itu pun) bersuara. Atau jika (yang dia ambil) seekor kambing, maka (kambing itu pun) bersuara …”

2. Korupsi Penyebab Kehinaan dan Siksa Api Neraka
Korupsi juga menjadi penyebab dari kehinaan serta siksa api neraka di hari kiamat. Pada hadits Ubadah bin ash Shamit Radhyyallahu ‘anhu, jika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dengan arti, “(karena) sesungguhnya ghulul (korupsi) itu adalah kehinaan, aib dan api neraka bagi pelakunya”.

3. Mati Saat Korupsi Akan Terhalang Masuk Surga
Seseorang yang mati saat membawa harta korupsi atau ghulul maka ia tidak mendapat jaminan atau terhalang masuk surga. Hal tersebut juga dipahami dari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa berpisah ruh dari jasadnya (mati) dalam keadaan terbebas dari tiga perkara, maka ia (dijamin) masuk surga. Yaitu kesombongan, ghulul (korupsi) dan hutang”.

4. Allah Tidak Menerima Shadaqah Korupsi
Allah SWT juga tidak akan menerima shadaqah seseorang dari hasil harta ghulul atau korupsi.

5. Hasil Korupsi Adalah Haram
Harta yang didapatkan dari hasil korupsi merupakan haram sehingga ia akan menjadi salah satu dari penyebab yang bisa menghalangi terkabulnya doa seperti yang dipahami pada sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ” Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang yang beriman dengan apa yang Allah perintahkan kepada para rasul. Allah berfirman,”Wahai para rasul, makanlah dari yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan“. Dia (Allah) juga berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari yang Kami rizkikan kepada kamu,” kemudian beliau (Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan seseorang yang lama bersafar, berpakaian kusut dan berdebu. Dia menengadahkan tangannya ke langit (seraya berdo’a): “Ya Rabb…, ya Rabb…,” tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dirinya dipenuhi dengan sesuatu yang haram. Maka, bagaimana do’anya akan dikabulkan?”. Naudzubillahimindzaliik.

Semoga masyarakat Indonesia bersatu dan memiliki pandangan yang lebih luas akan keinginan memiliki satu  sistem penerintahan yang amanah, sistem politik yang mampu meminimalisir celah korupsi oleh penguasa. Wallahu a'lam bishawab.[]
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Desi Wulan Sari, S.E, MSi: Demokrasi Rusak Ciptakan Ruang Korupsi Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com