Latest News
Friday, March 15, 2019

Fitria Miftasani, M.Si: Menakar Nilai Kesetaraan Pada Hari Perempuan Internasional

 Fitria Miftasani, M.Si saat berkunjung ke Turki
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day yang dirayakan setiap 8 Maret ini mengusung tema baru, yakni Balance for Better. Alasan mengapa Balance for Better ini menjadi tema pada tahun 2019 karena pada saat ini dinilai keseimbangan atau kesetaraan antara laki-laki dan perempuan masih belum terjadi. Tema ini ditujukan untuk kesetaraan gender, kesadaran yang lebih besar tentang adanya diskriminasi dan merayakan pencapaian perempuan. Termasuk mengurangi adanya gap pendapatan antara laki-laki dan perempuan. Memastikan semuanya adil dan seimbang dalam semua aspek, pemerintahan, liputan media, dunia kerja, kekayaan dan dunia olahraga, hal tersebut yang menjadi penjelasan di situs resmi Hari Perempuan Internasional.

Meskipun Indonesia pernah memiliki presiden perempuan, namun tidak secara otomatis kondisi perempuan Indonesia menjadi lebih baik. Perlindungan terhadap perempuan dalam masalah nafkah serta perlindungan untuk menjalani peran pentingnya sebagai seorang ibu, masih jauh dari kata layak. Tuntutan perempuan sebagai ibu rumah tangga sangat tinggi, seorang perempuan harus bisa mengurus semua hal dari mulai memasak, mengurus dan merawat anak, mendampingi suami. Hal tersebut tidak memandang apakah dia sedang kepayahan saat mengandung, atau masih menahan luka bekas melahirkan. Terkadang peran ini juga menarik perempuan dari pergaulan dan banyak orang memandang rendah jika posisinya ‘hanya’ sebagai ibu rumah tangga yang bergantung kepada suami dari sisi materi. 

Banyaknya lapangan pekerjaan yang lebih membuka kesempatan kepada perempuan yang dinilai tidak banyak menuntut dengan upah dibawah laki-laki, juga memberikan masalah baru. Banyak perempuan yang akhirnya harus berperan ganda, berperan sebagai ibu yang pekerjaannya tiada henti, serta berperan sebagai tulang punggung ekonomi keluarga. Sayangnya, meski beban yang dipikul perempuan sedemikian berat, mereka masih saja dilihat dengan sebelah mata. Belum lagi masalah tenaga kerja perempuan atau TKI yang meski dinobatkan sebagai pahlawan pembawa devisa negara, pada kenyataannya masih lemah perlindungannya.

Islam yang sering dituding sebagai agama yang mengekang kebebasan kaum perempuan karena aturan Islam ‘klasik’ yang dianggap terlalu maskulin justru membawa angin segar bagi perlindungan perempuan. Islam memandang perempuan sama dengan hal nya laki-laki sebagai manusia dengan seperangkat potensi yang ada pada dirinya. Potensi tersebut berupa akal, naluri serta kebutuhan jasmani sebagai sarana untuk mengabdi kepada Sang Maha Pencipta. Oleh karena itu Allah memberikan hak dan kewajiban yang sama kepada laki-laki dan perempuan seperti kewajiban shalat, puasa, zakat, haji, beramar ma’ruf nahyi mungkar dan sebagainya.

Namun adakalanya syariat Islam menetapkan adanya pembedaan hukum (hak dan kewajiban) yang berbeda. Kewajiban mencari nafkah dibebankan kepada kaum laki-laki bukan perempuan. Demikian pula masalah kepempinan dalam negara secara langsung dibebankan kepada laki-laki. Sedangkan masalah kehamilan, penyusuan, pengasuhan anak, serta peran dan fungsi sebagai ibu dan pengatur rumah tangga dibebankan kepada perempuan.

Semua pembedaan di atas tidak bisa disebut sebagai bentuk diskriminasi atau ketidakadilan syariat Islam kepada kaun perempuan. Karena jika dicermati perbedaan tersebut memang berdasarkan perbedaan fisik dan potensi spesifik yang fitrahnya berbeda antara laki-laki dan perempuan. Pembedaan ini adalah cerminan dari ke Maha Adilan Sang Pencipta. Islam sangat melindungi dan menjaga kehormatan kaum perempuan, sehingga Islam memberikan ruang yang cukup untuk perlindungan perempuan dalam menjalankan aktivitas menjaga dan merawat generasi. Meskipun perempuan boleh ikut mencari nafkah, namun tetap tidak pernah menjadi sebuah kewajiban bagi dirinya. 

Adanya perbedaan ini tidak berarti yang satu lebih mulia yang lain tidak. Semua ini ditetapkan Sang Pencipta yang lebih tau tentang makhluk-Nya sesuai dengan fitrahnya masing-masing. Semata-mata untuk kebaikan manusia itu sendiri. Sebab, nilai kemuliaan seseorang di mata Allah tidak diukur dari jenis kelaminnya, tetapi karena ketakwaan dan ketundukkanya kepada-Nya. Dengan itulah manusia, baik laki-laki maupun perempuan, dapat meraih kebahagiaan yang hakiki di dunia dan akhirat. Wallâh a‘lam bi ash-shawâb.[]

Penulis adalah seorang dosen Fisika Dasar di Telkom University Bandung
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Fitria Miftasani, M.Si: Menakar Nilai Kesetaraan Pada Hari Perempuan Internasional Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com