Latest News
Sunday, March 10, 2019

Fitriani S.Pd: Ada Kampanye Kesetaraan Gender Di Balik Hari Perempuan Internasional?

Fitriani, S.Pd
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Hari Perempuan Internasional dirayakan di berbagai negara termasuk Indonesia setiap tanggal 8 Maret. Hal ini terlihat pada partisipasi para perempuan Indonesia dalam momen yang juga dikenal dengan istilah Women's March tersebut. 

Seperti tahun lalu, sebanyak 69 organisasi perempuan yang tergabung dalam Parade Juang Perempuan Indonesia menggelar aksinya di depan gedung DPR MPR RI. Dalam aksi tersebut, mereka membawa beberapa poin tuntutan yang disampaikan ke perwakilan anggota DPR. Adapun isi tuntutannya ialah mencabut segala kebijakan yang diskriminatif serta kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan, menghentikan persekusi, diskriminasi dan pemidanaan terhadap kelompok LGBT, aliran kepercayaan, korban narkoba, masyarakat adat, serta kelompok marginal lain di masyarakat. 

Anggota aksi juga meminta pemerintah mewujudkan UU penghapusan kekerasan seksual (RUU P-KS) dan segera mengesahkan RUU tentang keadilan dan kesetaraan gender.(Kumparan.com, 8/3/2018). Dan untuk tahun ini, tema yang diangkat ialah Balance for Better ( Seimbang untuk Lebih Baik ), dan Indonesia sendiri akan merayakan Women’s March pada 27 April 2019 mendatang, yang berdekatan dengan Hari Kartini pada 21 April. (Nova.id, 5/3/2019).

Jika dilihat dengan saksama, apa yang disuarakan oleh para perempuan pada hari perempuan tahun lalu tidaklah salah. Sebab, jika kita melihat sejarah diusungnya hari perempuan Internasional ini memang didedikasikan untuk mengusung kesetaraan gender. Sayangnya, ide yang telah lama digalakkan ini bukannya membuat perempuan kian sejahtera, namun malah kian sengsara. Perempuan kian tak dihormati, dilecehkan dan tak dihargai. 

Lihat saja, menurut catatan tahunan Komnas Perempuan, ada hampir 260 ribu kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan pada tahun 2017. Kekerasan itu terjadi dalam ranah rumah tangga maupun di ranah publik. Menurut data, menghitung pembunuhan perempuan, 173 perempuan dibunuh di Indonesia pada 2017 dengan 95 persen di antaranya dibunuh laki-laki. Kasus tersebut belum terhitung dengan pelecehan, kekerasan seksual, pemerkosaan, Kekerasan dalam rumah tangga dan lain sebagainya. ( republika.co.id 07/03/2018).

Sekularisme Kapitalisme Dalangnya 

Tak dapat kita pungkiri bahwa ide kesetaraan gender ini telah membuahkan hasil yang semu. Hal ini dikatakan berhasil sebab isu kesetaraan gender masih menjadi mainstream yang menjajah benak kaum perempuan. Bahkan anak-anak, remaja dan mahasiswi adalah sasaran empuknya. Sebagai contoh ketika ditanya apa cita-cita dimasa yang akan datang, maka pasti perempuan hari ini menjawab, ingin menjadi wanita karier, bekerja dan menghasilkan materi sebanyak-banyaknya. Ya, inilah yang menjadi ikon kesetaraan gender. Telah tertanam dalam benak bahwa sekolah atau kuliah adalah untuk bekal bekerja dan berkarier. Berpendidikan bukan lagi sebagai jalan untuk memperoleh ilmu dan agar memiliki kepribadian yang Islami. 

Jika kita tela‘ah lebih dalam, apa yang diperjuangkan kaum gender ini sebenarnya semu, karena membuat perempuan justru keluar dari fitrahnya. Memaksakan diri untuk mengikuti paradigma kesejahteraan dan kesetaraan gender. Isu ini telah mendorong banyak perempuan menjadi minder, tidak percaya diri, rendah diri, terhina dan bahkan merasa sebagai perempuan tak berguna, jika ia tidak bekerja alias tinggal di rumah saja. Profesi ibu rumah tangga sedemikian tidak berharga. Terlebih jika ia mengecap pendidikan tinggi dinilai rugi jika hanya di rumah. Akibatnya, perempuan lebih bangga menyebut kariernya, daripada sebagai manajer rumah tangga. Bahkan tak ragu-ragu mengambil peran ganda yang dilema : berada di rumah atau dikantor. 

Inilah konsekuensi penerapan sistem sekularisme kapitalisme. Ukuran kesuksesan bagi perempuan hari ini, bukan ketika mampu mencetak generasi berkualitas kebanggaan agama dan bangsa. Namun dinilai dari kemampuannya mendatangkan materi, partisipasinya di ranah publik, besarnya keterwakilan politik perempuan di lembaga legislatif serta kebebasannya untuk mengaktualisasikan diri tanpa diskriminasi dan batasan.

Akhirnya banyak perempuan mandiri secara ekonomi, mengeksplorasi tumbuhnya berdaun seni. Ke sana kemari karena tuntutan profesi atau menjadi TKW demi anak dan suami. Dan naasnya, keberhasilan ide ini begitu paradox, karena diiringi dengan hancurnya keluarga akibat tingginya angka perceraian, kerusakan moral, merajalelanya pornografi, zina dan perselingkuhan, pelecehan seksual dan kekerasan terhadap perempuan. Itulah buah digulirkannya kesetaraan gender berbasis sekuler kapitalistik, yang sebenarnya bukanlah solusi atas problem yang dialami perempuan, melainkan menambah problem yang terjadi dan menjauhkan mereka dari kemuliaan dan kesejahteraan yang hakiki. 

Sebab, dikejar setinggi apapun bahkan jika perempuan pada akhirnya benar-benar mampu mengungguli laki-laki, maka tetap saja tidak akan mampu mengangkat kemuliaannya. Sebab kesetaraan gender adalah hasil dari produk sistem yang menafikan peran Tuhan dalam aspek kehidupan. Bahkan dengan ide liberalismenya mampu menyalahi fitrah dan kodrat yang berasal dari Sang Pencipta. 

Belum lagi sistem ini telah membuat negara abai terhadap kewajibannya menyejahterakan rakyatnya, termaksud perempuan. Sehingga perempuan harus menerjunkan diri keluar rumah mencari nafkah, karena suami yang tidak memiliki pekerjaan atau pendapatan keluarga yang tidak menetap. Sementara kehidupan biaya hidup yang semakin tinggi. Ini menunjukkan bahwa perempuan ditempatkan sebagai komoditas penghasil materi, pemuas nafsu dan semua perannya dianggap penting jika menghasilkan materi. 

Islam Pro Perempuan 

Berbeda dengan pandangan sekuler kapitalis mengenai perempuan, Islam sejak diturunkan Allah SWT melalui Muhammad Rasulullah SAW sudah mengatur posisi perempuan sedemikian indah, imbang dan mulia, setelah sebelumnya dinistakan dan tak dihargai. Islam memandang bahwa perempuan adalah makhluk yang secara manusiawi sama dengan laki-laki, sehingga tak perlu ada kesetaraan gender ala Barat liberalis kapitalis. 

Allah SWT menciptakan potensi pada perempuan dan laki-laki sama. Memiliki akal, perasaan/hati, nafsu, hajatul udhuwiyah (kebutuhan jasmani) dan Gharizah (naluri). Namun, secara fisiologi, organ dan fungsi tubuh perempuan dan laki-laki jelas beda. Inilah pula yang membedakan peran kodratnya. Perempuan ditakdirkan untuk hamil, melahirkan, dan menyusui. Kemudian diberi tanggung jawab untuk mengurusi anak-anak dan suaminya. Menjadi ummu wa robbatul bayt (ibu dan pengatur rumah tangga). Sebuah profesi mulia berpahala tinggi. Sedangkan laki-laki, diberi tanggung jawab di wilayah publik untuk mencari nafkah, mendidik dan menunjukkan jalan untuk istri dan anak-anaknya menuju surga. 

Perbedaan tugas ini bukan berarti membedakan kasta, martabat apalagi diskriminatif terhadap perempuan. Laki-laki dan perempuan tetap memiliki keutamaan masing-masing sesuai dengan tugas yang diberikan oleh Allah SWT. Sebab, mulianya laki-laki dan perempuan, tidak terletak pada seberapa banyak perannya diluar rumah, terlebih materi. Melainkan yang membedakan adalah amalnya. Firman Allah SWT dalam surat Al Hujurat : 13. 

"Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di hadapan Allah adalah yang paling bertakwa"

Karena itu, bagi muslimah tidak perlu hari perempuan yang berbalut ide kesetaraan gender. Sebab perempuan hendaklah tetap pada fitrahnya berkiprah sebagai perempuan karena setiap perbuatan menyalahi kodrat dan nalurinya, tidak akan menemukan kebahagiaan hakiki. Satu-satunya cara adalah kecuali dengan meninggalkan sistem sekularisme kapitalisme dan kembali pada ideologi Islam yang mampu menciptakan tatanan kehidupan sempurna. Karena berasal dari zat yang maha sempurna. 

" Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah kucukupkan kepadamu nikmat-ku dan telah Ku ridhoi Islam itu jadi agama bagimu " (TQS Al-maidah :3) Maka sudah saatnya memperjuangkan penerapan Islam secara komprehensif dan sungguh-sungguh demi tegaknya syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Sebab hanya dengan itulah, aturan yang berasal dari pencipta alam semesta dan isinya, yang bisa benar-benar menjamin hak-hak perempuan, meninggikan harkat dan martabat serta menjamin kesejahteraan dan keadilan hakiki. Wallahu A'lam Bissawab.[]
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Fitriani S.Pd: Ada Kampanye Kesetaraan Gender Di Balik Hari Perempuan Internasional? Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com