Latest News
Saturday, March 30, 2019

Isnawati: Standar Ganda Dan Kemunafikan HAM

Isnawati
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Penembakan brutal di Selandia Baru menyisakan duka bagi seluruh dunia khususnya umat Islam. Pembantaian dilakukan secara massal di dua Masjid. Pembunuhan secara biadab dilakukan oleh Brenton Tarrant ( 28th ) seorang pria kulit putih asal Australia.

Dalam peristiwa itu telah menewaskan sedikitnya 49 orang, pelaku juga melakukan live streming di Facebook saat sedang melakukan aksi kejamnya, serangan tersebut sudah direncanakan dengan baik sebagai bentuk sikap anti migran dan anti muslim.

Presiden Turki Recep Tayyib Erdogan menyebut serangan di Christchurch sebagai lates example of rising rucisme and Islamophobia atau meningkatnya rasialisme dan Islamophobia.

Gencarnya opini sampai membentuk sebuah keyakinan bahwa kelompok muslim berpotensi mengancam keamanan dan diidentikkan sebagai pelaku terorisme adalah tuduhan yang sangat menyakitkan padahal faktanya terorisme tidak mengenal agama.

Standar ganda dijadikan landasan bereaksi atas nama HAM dengan menggunakan media untuk membentuk opini dan persepsi guna menjatuhkan Islam. Al hasil ketakutan, kebencian, diskriminasi, persekusi pada Islam menjadi sebuah keniscayaan.

Hak asasi Manusia memiliki hubungan yang sangat dekat dengan opini publik baik dalam negeri bahkan internasional.

Tragedi pembantaian di Masjid Selandia Baru mengundang reaksi tetapi sebatas kecaman dan kutukan dengan opini karena adanya kebencian dan xenofobia ( ketakutan pada orang asing ).

Segala upaya untuk membunuh karakter, kehormatan dan kedaulatan umat Islam masif dilakukan dengan berbagai strategi salah satunya war on terror namun usaha itu selalu gagal.

Kegagalan itu akibat dari rapuhnya idiologi yang dianutnya yaitu kapitalisme yang dibangun dengan asas sekulerisme yang bersifat self destruetive ( menghancurkan dirnyai sendiri ).

Dari sisi kemanusiaan secara global menunjukkan betapa jahatnya idiologi kapitalisme ini konsep nation - state telah melahirkan disorientasi jati diri juga disintegrasi pada kaum muslim hingga membutakan dan metulikan para penguasa muslim dari segala bentuk kedholiman.

Kematian kapitalisme sudah diambang mata, kegalauan para pemimpin barat dan masyarakat pembenci Islam sangat luar biasa khsusnya pada Islam yang diformalisasikan menjadi Institusi dan perundang-undangan.

Seiring kekwatiran barat terhadap Islam, qhirah kaum muslim untuk menjadikan Islam sebagai sumber nilai dan tata aturan hidup semakin nyata. Dunia Islam mulai menggeliat mereka menginginkan hidup mulia dalam naungan Islam yang mampu menciptakan perdamaian dunia.

Kesejukan Islam telah dibuktikan salah satunya saat keheningan yang menyelimuti seluruh daerah di Selandia Baru. Adzan dikumandangkan pertama kali setelah teror pembantaian massal, gambaran Islam bukan hanya sekedar agama tapi adalah sebuah idiologi yang tak mudah dipatahkan dengan kebencian dan kemarahan telah menggetarkan hati-hati yang berfikir.

"Orang-orang kafir itu membuat tipu daya dan Allah membalas tipu daya mereka itu dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya." ( QS. Ali Imran 54 )

Umat Islam harus menyeru dan melenyapkan gelapnya peradaban barat dan menggantinya dengan peradaban Islam yang memancarkan cahaya keadilan agar tidak ada lagi pemimpin-pemimpin yang membisu saat terjadi kedholiman.

Kebangkitan yang hakiki untuk menyambut kemenangan Islam harus segera dilakukan, dengan menempatkan Alqur`an sebagai konstitusi tertinggi, menyatukan jiwa-jiwa muslim baik lintas benua sampai lintas samudera dalam naungan kebenaran Islam agar nyawa tidak melayang sia-sia tanpa pembelaan dan keadilan. wallahu a`lam Bis Aswab.[]

  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Isnawati: Standar Ganda Dan Kemunafikan HAM Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com