Latest News
Wednesday, March 20, 2019

Mangir Windi Antika: Keluarga Ceramah Kado Terindah Untuk Generasi Milenial

 Mangir Windi Antika
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Sudahkah melukis keluarga ceramah (ceria dan ramah)?. Apatah lagi era digital saat ini membawa perubahan sangat dratis. Baik bagi keluarga, maupun masyarakat. Tantangan di era digital kian kompleks. Salah satunya banyak yang mengalami gangguan fokus di dunia nyata, saking tidak bisa terlepas dari smartphone-nya. Pubhing atau perilaku fokus pada gawai dan abai pada sekitar. Hal ini terkadang sampai mengganggu interaksi dalam keluarga. 

Ibu abai pada suami dan anaknya begitu pula dengan suami abai pada istri dan anaknya. Jelas ini mengundang keprihatinan. Anak yang seharusnya dekat dengan orang tuanya malah semakin jauh, entah kemana akan mencari perhatian untuk menuangkan segala suka duka yang mungkin ia dapat di sekolah atau di tempat lain. Ditambah lagi dengan anggota keluarga yang tidak saling menasihati satu sama lain.

Selain itu juga dampak dari perkembangan teknologi mampu membuat anak-anak kritis, dan lebih pintar dari ibunya. Mungkin juga lebih pintar dari ayahnya. Zaman sudah berubah. Malam dan siang silih berganti menandakan waktu terus bergulir. Kaum ibu yang lahir 20, 30, atau 40 tahun lalu, dididik dalam situasi yang sangat berbeda dengan kids zaman now. Lingkungan, metode pembelajaran, teknologi, sarana dan guru yang mendidik sangat berbeda. Maka, ilmu yang dulu dikuasi oleh para ayah dan ibu, mungkin saja sudah usang dan tidak bisa diterapkan dalam kondisi saat ini. Tidak bisa diaplikasikan untuk mendidik anak-anak zaman now. 

Contohnya, penegakan disiplin pada anak. Zaman dulu, pelototan mata ayah atau ibu, mampu membuat anak jeri. Diam dan nurut. Sekarang? Malah anak ganti melotot. Dulu, hukuman fisik seperti dijewer telinga, disuruh push up, lari keliling lapangan atau berdiri di pojok kelas cukup membuat anak jera. Mereka pun bisa disiplin. Saat ini, hal seperti itu bisa berujung bui.

Bila orang tua mendidik anak dengan kekerasan justru anak malah tambah bandel bahkan berontak. Anak beranggapan orang tuanya sedang membenci dirinya. Akhirnya lari mencari pelampiasan hingga terjebak pada pergaulan bebas, minuman keras, terjerat narkoba bahkan stres hingga bunuh diri. Hal ini juga dapat terjadi pada anak yang broken home. Lebih parah lagi, anak-anak yang diperlakukan kasar secara fisik maupun verbal, cenderung meniru. Melakukan hal serupa pada pihak lain. Tak perlu menunggu sampai ia dewasa. Terwujudlah lingkaran setan bullying. 

"Tempat bersemainya bibit-bibit generasi penerus adalah keluarga".

"Ujung tombak pembangunan sumberdaya manusia adalah keluarga".

Buruknya kondisi ketahanan keluarga saat ini adalah ancaman serius bagi masa depan bangsa. Karenanya, terus meningkatnya angka perceraian, beragam kasus penelantaran anak dan makin sadisnya kekerasan terhadap perempuan dan anak. Hal ini semestinya menjadi perhatian serius semua pihak agar benar-benar dapat terbentuk keluarga yang Ceramah (ceriah, dan ramah) bahagia dan sejahtera, lahir dan batin. Ada delapan fungsi keluarga yang bisa dijalankan akan memeperkokoh ketahanan keluarga. Berikut delapan fungsi tersebut:

1.Fungsi Reproduksi

Tujuan pernikahan adalah melahirkan keturunan yang sah. Dengan demikian, tidak dibenarkan fungsi reproduksi dilakukan di luar pernikahan yang sah. Menikah adalah syarat sah untuk memiliki anak. Sebaliknya, tidak dibenarkan pasangan yang menikah menolak kehadiran anak.

2.Fungsi Ekonomi

Membentuk rumah tangga berarti, membentuk kemandirian ekonomi, demi mewujudkan kesejahteraan. Keluarga memikirkan dengan serius, cara mendapatkan harta yang halal, lalu membelanjakannya ke jalan yang benar dan mampu memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga secara layak.

3.Fungsi Edukasi

Keluarga harus menjadi madrasah. Sausana keilmuan harus tampak disana. Ayah mendidik istri, istri mendidik anak-anak. Ayah-ibu kadang juga belajar dari anak-anak. Ciptakan rumah sebagai sekolah, seprti menyediakan buku-buku, alat tulis, papan tulis, meja-meja kecil dan berbagai sarana untuk belajar. Jangan rumah seperti gedung bioskop, dengan fasilitas home theatre lengkap yang nyetel film terus terusan. Atau seperti diskotik, life music tiada henti. Atau seperti kuburan yang saling diam diantara penghuninya.

4.Fungsi Sosial

Keluarga cermin status sosial. Wujudkan anggota keluarga yang berpendidikan, shalih dan shalihah, berperilaku terpuji, menjaga nama baik keluarga, ramah dan menjadi teladan yang baik dilingkungannya. Ciptakan kondisi rumah yang nayaman, rapi dan bersih, yang mencerminkan taraf hidup keluarga baik-baik.

5.Fungsi Protektif

Keluarga memiliki peran untuk melindungi anggotanya dari ancaman fisik, ekonomis, dan psikososial. Ayah sebagai pengayom istri dan anak, tak hanya melindungi dari bahaya fisik, tapi juga bahaya penyakit dan kelaparan mislanya. Karena itu, idealnya tidak boleh ada ayah atau ibu yang menelantarkan anaknya, membiarkan anak gizi buruk atau pergi ke luar negeri jadi TKI/TKW hingga melalaikan tugasnya sebagai orang tua.

6.Fungsi Rekreatif

Jadikan rumah sebagai sumber kebahagian, tempat relaksi dan ketenangan. Ciptakan keluarga yang penuh tawa canda dan keceriaan. Ayah tak membawa masalah ke rumah, ibu selalu tersenyum, anak-anak selalu ceria. Buat anak betah di rumah, sehingga tidak melarikan diri” mencari kesenangan di luar rumah.

7.Fungsi Afektif

Keluarga dibangun atas dasar kasih sayang, empati dan peduli. Tumbuhkan kasih sayang antaranggota keluarga. Berlomba-lomba saling memberi manfaat kepada sesama anggota keluarga, bukan sebaliknya memanfaatkan anggota keluarga untuk mencapai kepentingan pribadi. Utamakan kepentingan keluarga diatas kepentingan individu.

8.Fungsi Religius

Jadikan keluarga sebagai tempat pertama bagi anak-anak dalam mendapatkan pengalaman keagaman. Anak didik agama sejak dini, ayah menjadi imam dan ibu mengenalkan anak-anak pada generasi sahabat. Ayah dan ibu menjadi penyampai ajaran Islam, anak-anak menjadi sasaran pertamanya.

Salah satu tugas utama orang tua adalah menjadikan anak sebaik-baik hamba yang bertaqwa kepada Allah. Diantaranya dalam hal membentuk kebiasaan yang baik pada anak-anak dalam beribadah, hingga anak merasa senang melakukannya. Sebelum mengajarkan ibadah kepada anak, ingatkan anak bahwa sejatinya tujuan penciptaan manusia di dunia memang untuk beribadah dan mengaggungkan keesaan Allah SWT. “Dan aku tidak menciptkan jin dan manusia supaya mereka beribadah kepada-ku” (QS. Ad-Dzariyat 56)

“Tidaklah ada pemberian yang lebih baik dari orang tua kepada anaknya dari pada pendidikan adab yang baik.” (HR. Bukhari)

Agar dapat berjalannya semua fungsi keluarga harus ditopang oleh daya dukung masyarakat, sistem yang melingkupi dan peran besar negara. Fungsi diatas mustahil diwujudkan secara serasi dan ideal oleh masing-masing keluarga tanpa peran besar negara. Sehingga menjadi kewajiban setiap muslim untuk mengembalikan kehidupan Islam dengan menegakkan syariah Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan, sebagai wujud menerapkan seluruh isi Al-Quran.[]

Penulis adalah Mahasiswi Universitas Khairun, Ternate, Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan semester 8
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Mangir Windi Antika: Keluarga Ceramah Kado Terindah Untuk Generasi Milenial Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com