Latest News
Saturday, March 23, 2019

Mulyaningsih, S.Pt: Umat Butuh Insitusi dan Perisai

Mulyaningsih, S.Pt
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Lagi dan lagi, mungkin kata itu yang kemudian melesat dalam benak kita. Kemarahan serta kepiluan ternyata datang menemui kita. Belum kering rasanya air mata yang jatuh di pipi kita, namun akhirnya ia akan menyemburat dan membasahi kembali. Begitu tragisnya kejadian penembakan saudara kita yang berada di Selandia Baru. Tak hanya itu, penembakan tersebut dapat disaksikan langsung secara live. Innalillahi, begitu keji dan sadisnya.

Kejadian bermula pada saat para jamaah akan melaksanakan ibadah sholat Jum’at. Di video tersebut pelaku berjalan masuk di salah satu masjid dan menembak secara acak orang-orang yang berada di dalamnya. Salah satu korban penembakan tersebut (yang berada di Masjid Al-Noor) Christchurch mengatakan bahwa pelaku merupakan warga kulit putih, pirang mengenakan helm serta rompi anti peluru.

Pemerintah Selandia Baru mengkonfirmasi bahwa 40 orang telah meninggal dunia (30 di Masjid Al-Noor dan 10 lainnya di Masjid Linwood). “Ini adalah salah satu hari tergelap bagi Selandia Baru,” ujar Perdana Mentri Jacinda Arden, Jumat (15/3).

Perdana Menteri Australia Scoot Morrison mengkonfirmasi bahwa satu orang yang ditahan polisi Selandia Baru adalah warna negaranya. Dia menyebutkan bahwa pelaku penembakan brutal tersebut adalah seorang teroris ekstrimis sayap kanan yang keji (m.republika.co.id, 15/3/2019).

Sungguh begitu menyesakkan dada, begitu banyak perlakuan yang dirasakan oleh kaum muslim. Mulai dari pengeboman yang dialami oleh saudara-sadara kita yang ada di Palestina, di siksa seperti saudara kita di Uighyur ataupun di usir seperti Rohingya. Entah perlakuan apalagi yang akan mereka sematkan pada kita. Tak adakah sisi kemanusiaan yang muncul dalam diri mereka? Dan kemana sebenarnya para penggiat HAM selama ini? Apa tindakan nyata mereka untuk membela kaum muslim yang terdzolimi? Pertanyaan itu yang mungkin muncul dalam benak kita.

Sangat jauh berbeda manakala Islam di terapkan dalam kehidupan manusia. Islam dipakai dalam mengatur segala sisi kehidupan manusia. Tentulah semua itu tidak akan terjadi. Pembunuhan atau pembantaian tentulah tidak akan pernah terjadi di muka bumi ini, karena Islam punya konsep yang jelas terkait dengan hal tersebut. Hewan saja sangat diperhatikan keadaannya, apalagi manusia. Teringat kita akan kisah dari sayyidina Umar bin Khattab yang pada saat itu beliau menjabat sebagai kholifah kaum muslim. Beliau sungguh sangat memperhatikan nasib para rakyatnya dan mau memikulkan sekarung gandum demi umatnya yang sedang kelaparan. Tak hanya itu, beliau juga turut memasakkan gandum tersebut menjadi hidangan yang bisa langsung disantap oleh ibu dan kedua anaknya yang sedang kelaparan. Tak hanya manusia, beliau ternyata memikirkan nasib para hewan. Beliau berpikir keras bagaimana caranya agar hewan ketika berjalan pada daerah yang dia kuasai merasa aman (tidak terpeleset), sehingga beliau meratakan serta membaguskan jalan agar tidak ada lagi manusia ataupun hewan yang ketika lewat disana akan terpelosok karena ada lubang. Sungguh begitu luar biasanya manakala Islam telah mengkristal dalam diri kaum muslim. Jabatan dan tahta tidak dijadikan sebagai ambisi yang harus dia dapatkan.

Hal ini sangat berbeda sekali dengan Islam. Karena islam tidak hanya sekedar ajaran agama untuk menyembah kepada Rabb saja, namun lepas dari itu. Islam punya tata cara pengaturan kehidupan manusia. Terkait dengan pendidikan, keuangan atau ekonomi, sosial kemasyarakatan, pergaulan dan yang lainnya Islam telah mengaturnya dengan jelas. Begitu pula dengan penjagaan kehormatan, harta atau kekayaan serta nyawa manusia, Islam sangat detail akan hal itu. Seluruh rakyat negara Islam akan dijaga harta, kehormatan dan nyawanya tanpa ada pengecualian. Non mslim-pun ketika dia tunduk pada aturan Islam dan membayarkan jizyah maka perlakuannya akan sama seperti kaum muslim. Darahnya haram ditumpahkan di muka bumi. Sebagaimana firman Allah SWT:

“Dan barang siapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja maka balasannya ialah jahannam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (TQS. An-Nisa: 93)

“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.” (TQS. Al-Maidah: 32).

Kemudian Sabda Rasulullah SAW, “Bagi Allah, Hancurnya bumi beserta isinya adalah lebih ringan dibanding terbunuhnya seorang muslim.”

Begitu mulia serta berharganya nyawa seorang muslim, sampai-sampai Allah sendiri memberikan azab yang sangat pedih ketika ada orang yang dengan sengaja membunuh seorang muslim. Bahkan dalam hadist dikatakan hancurnya dunia ini lebih ringan jika dibandingkan dengan terbunuhnya seorang muslim. Subhanallah, begitu luar biasanya penjagaan Islam terhadap nyawa seorang muslim.

Ada fakta sejarah ketika Rasulullah SAW ada. Kejadian tersebut adalah terbunuhnya seorang muslim di Pasar Bani Qainuqa. Pelaku pembunuhan tersebut adalah Yahudi dari Bani Qainuqa. Lelaki muslim tersebut dibunuh karena membela seorang muslimah yang dilecehkan kehormatannya. Saat itu, Rasulullah bersikap tegas. Ketegasan beliau tampak dari pemberian hukuman terhadap pelaku dan pada kelompoknya. Pelaku pembunuhan diberikan sangsi hukuman mati dan bagi kelompoknya diusir dari Madinah. Rasulullah SAW melakukan hal tersebut sebagai bentuk penghargaan Islam terhadap nyawa manusia dan perlindungan kepala negara terhadap rakyatnya. 

Sungguh fakta sejarah yang semestinya diteladani dan dilakukan. Karena selama ini kaum muslim selalu saja ditekan dan diberikan perlakuan yang tidak manusiawi. Kejadian di atas akan terus berulang manakala sistem yang diterapkan bukan berasal dari Islam. Apalagi ditambah tidak adanya institusi yang berdiri untuk melindungi kaum muslim. Karena sejatinya dalam Islam nyawa dan harta akan dijaga dengan sebaik-baiknya. Orang tidak boleh sembarangan dalam hal mengambil barang orang lain tanpa izin. Begitu pula dengan pembunuh, tidak boleh sembarangan dalam melakukannya jika tidak ada alasan yang benar.

Adapun dengan pemimpin, dalam Islam dia sebagai perisai (junnah), umat berperang di belakang serta berlindung dengannya. Pemimpin adalah pelindung umat dari segala bahaya yang akan menimpa pada harta, jiwa, akal, kehormatan serta agamanya. Sehingga tidak akan mungkin pembunuhan merajalela dan dibiarkan begitu saja. 

Sosok pemimpin seperti itu akan ada jika diterapkan syariah Islam secara kaffah (menyeluruh). Tentu dengan adanya bingkai negara atau institusi yang mau menerapkan syariah secara sempurna. Mari melangkah bersama, satukan tujuan serta berjuang bersama untuk dapat mewujudkannya agar kehormatan dan nyawa kaum muslim dapat terjaga. Agar kejadian genosida tidak akan pernah terulang kembali. Wallahu A’lam. []

Penulis adalah Pemerhati masalah anak, remaja dan keluarga
Anggota Akademi Menulis Kreatif (AMK) Kalsel
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Mulyaningsih, S.Pt: Umat Butuh Insitusi dan Perisai Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com