Latest News
Monday, March 11, 2019

Nur Fitriyah Asri: Ketiadaan Khilafah, Puncak Musibah

Nur Fitriyah Asri
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Bencana besar dan malapetaka dahsyat yaitu sejak runtuhnya negara adidaya Daulah Khilafah Islamiyah di Turki pada 1924. Padahal era kekhalifahan tersebut sudah 14 abad memimpin dunia, Islam menyebar dan menguasai hampir dua pertiga dunia. Namun, pada tanggal 3 Maret 1924, Khilafah berhasil diruntuhkan oleh Mustafa Kemal Ataturk, seorang militer Turki keturunan Yahudi yang berpura-pura memeluk Islam.

Dengan runtuhnya Khilafah, hancurlah persatuan umat Islam, terkoyak menjadi 50 negara lebih. Dengan lenyapnya Khilafah berarti lenyap pulalah seluruh penerapan hukum syara' yang selama 1400 tahun digunakan sebagai pedoman hidup untuk mengatur kehidupan individu, masyarakat dan negara sehingga mendatangkan rahmat bagi semesta alam. Kemudian diganti dengan sistim demokrasi buatan manusia. Inilah awal bencana dan musibah yang menimpa umat Islam di seluruh dunia.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ وَإِنْ يَأْمُرْ 
بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ » رواه مسلم

Artinya: Sesungguhnyalah seorang pemimpin itu merupakan perisai, rakyat akan berperang di belakang serta berlindung dengannya. Bila ia memerintah untuk takwa kepada Allah azza wa jalla serta bertindak adil, maka ia akan memperoleh pahala. Namun bila ia memerintah dengan selainnya, maka ia akan mendapatkan akibatnya. (HR.Muslim).

Dalam syarah Imam an Nawawy, dijelaskan bahwa seorang Imam (Khalifah) sebagai perisai artinya mencegah serangan musuh yang mengganggu kaum muslimin dan menghalangi kezaliman  yang dilakukan kepada orang lainnya serta menjaga kemuliaan Islam. Adapun rakyat yang berlindung di belakang Khalifah maksudnya akan berperang bersama Khalifah untuk memerangi kafir harby (kaum kafir yang memerangi kaum muslimin), ahli bughot (separatisme/makar) dan kepada semua kaum yang membuat kerusakan dan kezaliman secara umum.

Ketiadaan khalifah inilah yang membuat penderitaan umat Islam di negeri-negeri muslim, di Suriah, Irak, Libya, Myanmar, Afghanistan, Palestina dan lainnya. Tidak ada yang mau pedulikan saudaranya, karena terkungkung oleh paham nasionalisme (negara bangsa-bangsa), yang dicekokkan kepada kaum muslimin hingga lupa akan firman Allah:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya: Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat (QS Al Hujurat 10).

"Sejatinya puncak dari musibah besar itu adalah    sistem pemerintahan"
Bukankah sistem pemerintahan yang mengatur interaksi (hubungan antar manusia), yang mengurus urusan  rakyatnya?. 

Selama aturan yang digunakan  itu tidak berasal dari Allah, maka hanya kerusakan dan kehancuran yang didapat. Aturan yang berlandasan akal manusia dan kebebasan,  justru itulah yang mendatangkan berbagai macam bencana dan musibah di segala lini kehidupan. Terjadinya penjajahan dan perampokan sumber daya alam, tingginya angka kriminalisasi, mengguritanya korupsi, maraknya prostitusi (pelacuran), tingginya peredaran narkoba, marebaknya pergaulan bebas, terjadinya degradasi (merosotnya) moral, dan yang lebih menyedihkan  adalah ketika umat Islam tidak kenal dan takut dengan agamanya sendiri dan lainnya. Itulah buah  dari sistem demokrasi sekuler yang memisahkan agama dengan kehidupan.

Padahal Syara' telah menetapkan  bahwa Khilafah adalah sistem pemerintahan Islam. Adapun dalil kewajiban menegakkan khilafah yaitu:

1. Dalil al-Quran. Allah SWT berfirman : 

فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ
"Putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan (Al Qur'an) dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepada kamu." (QS al-Maidah [5]: 48).

2. Dalil as-Sunnah.

Di antaranya adalah sabda Nabi Muhammad saw.:

مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فيِ عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّة

"Siapa saja yang mati, sedangkan di pundaknya tidak ada baiat (kepada Imam/
Khalifah), maka matinya adalah mati Jahiliyah (HR Muslim).

3. Dalil Ijmak Sahabat.

Telah disebutkan oleh para ulama, misalnya Ibnu Khaldun, “Mengangkat seorang imam (khalifah) wajib hukumnya, dan kewajibannya dapat diketahui dalam syariah dari Ijmak Sahabat dan tabi’in.” (Ibnu Khaldun, Muqaddimah, hlm. 191).

Imam Ibnu Hajar al-Haitami berkata, “Ketahuilah pula bahwa para Sahabat—semoga Allah meridhai mereka—telah bersepakat bahwa mengangkat seorang imam (khalifah) setelah berakhirnya zaman kenabian adalah wajib, bahkan mereka menjadikannya sebagai kewajiban paling penting saat mereka menyibukkan diri dengan kewajiban itu dengan menunda kewajiban menguburkan jenazah Rasulullah saw.” (Ibnu Hajar al-Haitami, Ash-Shawa’iq al-Muhriqah, hlm. 7).

4. Kaidah Syariah.

Kaidah syariah menyatakan:

مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهَ فَهُوَ وَاجِبٌ
"Jika suatu kewajiban tidak terlaksana kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu wajib pula hukumnya."

Sudah diketahui bahwa terdapat kewajiban-kewajiban syariah yang tidak dapat dilaksanakan secara sempurna oleh individu, seperti kewajiban melaksanakan hudud, kewajiban jihad untuk menyebarkan Islam, kewajiban memungut dan membagikan zakat, dan sebagainya. Kewajiban-kewajiban ini tak mungkin dilaksanakan secara sempurna oleh individu, sebab kewajiban-kewajiban ini membutuhkan suatu kekuasaan (sulthah), yang tiada lain adalah Khilafah. Maka dari itu kaidah syariah di atas juga merupakan dalil atas kewajiban adanya Khilafah.

5. Ulama 4 Madzhab Mewajibkan Khilafah

Pada dasarnya, para ulama empat mazhab tidak pernah berselisih pendapat mengenai kewajiban mengangkat seorang imam/khalifah yang bertugas melakukan tugas ri’âyah suûn al-ummah (pengaturan urusan umat).

Imam al-Qurthubi, seorang ulama besar dari mazhab Maliki, ketika menjelaskan tafsir surah al-Baqarah ayat 30, menyatakan, “Ayat ini merupakan dalil paling asal mengenai kewajiban mengangkat seorang imam/khalifah yang wajib didengar dan ditaati, untuk menyatukan pendapat serta melaksanakan hukum-hukum khalifah. Tidak ada perselisihan pendapat tentang kewajiban tersebut di kalangan umat Islam maupun di kalangan ulama, kecuali apa yang diriwayatkan dari Al-A’sham (Imam al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, 1/264-265).

Ulama lain dari mazhab Syafii, Imam al-Mawardi, juga menyatakan, “Menegakkan Imamah (Khilafah) di tengah-tengah umat merupakan kewajiban yang didasarkan pada Ijmak Sahabat. (Imam al-Mawardi, Al-Ahkâm as-Sulthâniyyah, hlm. 5).

Masihkah ada umat Islam yang menganggap Khilafah itu sebuah ancaman, Khilafah itu utopis? Padahal nyata benar bahwa khilafah adalah ajaran Islam yang bersumber dari Allah dan Rasulnya. Mengingkarinya berarti jatuh pada kekufuran.
Hanya dengan Khilafah semua problem kehidupan bisa di solusi dengan tuntas dan memuaskan.

Khilafah adalah sistem pemerintahan Islam yang dipimpin oleh seorang Khalifah untuk mempersatukan umat Islam seluruh dunia,  menerapkan hukum-hukum Allah dan mengemban dakwah serta jihad ke seluruh penjuru dunia.

Khilafah adalah ajaran Islam, pasti tegak karena merupakan janji Allah (QS. An Nuur 55) dan Bisyarah Rasulullah "Selanjutnya akan muncul kembali masa kekhilafahan yang mengikuti manhaj kenabian" (HR Ahmad). Allahu 'alam bish Shawab.[]

Penulis aktif  di Ormas Islam BKMT (Badan Kontak Majelis Taklim Jember) sebagai Koordinator Bidang Dakwah, member Akademi Menulis Kreatif (AMK) dan juga penulis buku " Senja di Jalan Dakwah"
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Nur Fitriyah Asri: Ketiadaan Khilafah, Puncak Musibah Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com