Latest News
Saturday, March 30, 2019

Rina Tresna Sari, S.Pdi: Apel Kebangsaan Dengan Biaya 18 M, Di Tengah Duka Sentani

Rina Tresna Sari, S.Pdi
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Surga dunia, Itulah ungkapan yang pas untuk menggambarkan Negeri elok nan rupawan Indonesia, bagaimana tidak,Nusantara tercinta dengan hamparan hutan nan hijau di sepanjang pulau, biru nya laut yang membentang,gunung yang menjulang, beragam flora dan fauna ditambah sumber daya alam yang memikat, emas, batu bara, minyak bumi hanyalah secuil dari sumber daya alam yang terkandung di perut ibu pertiwi kita tercinta, namun 

Duka mendalam kembali dirasa akibat bencana yang kembali melanda. Banjir bandang menerjang sembilan kelurahan di kecamatan Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Sabtu (16/3) malam. Tercatat 104 orang meninggal dunia, di mana 97 korban berasal dari Kabupaten Jayapura dan 7 korban lainnya di Kota Jayapura, serta 79 orang belum ditemukan hingga Rabu (20/3/2019) pagi (tirto.id).

Sungguh ironis, di tengah duka nestapa yang menimpa saudara sebangsa, ada sebuah kegiatan dari salah satu pemimpin negeri ini, yang seolah menari di atas derita saudaranya. Itulah Apel Kebangsaan yang menghabiskan dana hingga 18 Miliar rupiah.

Terasa miris,dengan angka fantastis. Angka yang dianggap berlebihan untuk sebuah apel/seremonial. Sebuah apel yang tak layak untuk dilakukan saat saudara sebangsa sedang menghadapi bencana. Saat negara sedang berduka, apel itu dianggap penting bagi pihak penyelenggaranya,hanya untuk sebuah kepentingan juga elektabilitas.Sejatinya rasa empati lebih penting untuk ditunjukkan.

Penyelenggaraan apel kebangsaan, menghabiskan angka 18 M tersebut sungguh sangat timpang jika dibandingkan dengan bantuan yang diberikan pemerintah kepada korban banjir bandang di Sentani, Papua,yang hanya dikeluarkan anggaran sebesar 1M. Seperti diungkapkan oleh aktivis kemanusiaan, Natalius Pigai atas keprihatinannya terhadap seremonial tersebut. Dia prihatin di tengah kepiluan ini, justru uang negara miliaran rupiah dihambur-hamburkan untuk penyelenggaraan Apel Kebangsaan yang telah digelar (Minggu, 17/3) mulai pagi hingga siang hari di Simpang Lima, Semarang.

"Nalar publik tercederai! Di saat musibah menimpa bangsa saya, tim Jokowi berpesta pora. 18 miliar uang negara, uang rakyat kecil untuk sebuah acara musik yang dihadiri hanya 2 ribuan orang," ujarnya, Senin (18/3).

Pigai pun membandingkan alokasi bantuan dana dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua. "Bantuan BPBP Papua hanya 1 miliar untuk rakyat Sentani Papua," jelasnya. (rmol.co)

Ketimpangan anggaran tersebut sungguh merupakan bukti bobroknya sistem kapitalis demokrasi. Sistem yang menyebabkan tercabutnya akar dari rasa kemanusiaan pada setiap penganutnya. Sampai hilang nilai kemanusiaan untuk menyelamatkan rakyat yang terkena bencana. Memprioritaskan penghamburan uang yang tidak ada hubungannya dengan kehidupan rakyat. Ini juga bukti. Bukti kegagalan penguasa dalam mendidik dan membina rakyatnya.

Tentu saja, hal ini tidak akan terjadi di dalam negara yang penguasanya  menerapkan sistem Islam. Karena, Islam memprioritaskan penggunaan dana untuk menanggulangi bencana. Bukan untuk hura-hura. Bukan untuk foya-foya. Bukan untuk pesta pora.

Di dalam Islam, negara bertugas, mengurusi dan mendidik,juga Membina rakyat dengan akidah Islam. Dengan itu, umat akan paham apa tujuan dia hidup. Umat paham bahwa manusia diciptakan oleh Allah hanya untuk beribadah kepada-Nya. Allah SWT berfirman, "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)

Dengan  paham akan  tujuan hidupnya yaitu hanya untuk beribadah kepada-Nya maka manusia tidak akan mengerjakan sesuatu hal yang sia-sia. Karena Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam Bersabda, “Kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat tidak akan beranjak hingga dia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan? Tentang ilmunya apa yang telah diamalkan? Tentang hartanya darimana ia peroleh dan kemana ia habiskan? Tentang tubuhnya untuk apa ia gunakan?” (HR.Tirmidzi)

Dengan proses pembinaan dari negara yang sesuai aqidah islam,juga paham akan tujuan hidup,Maka umat Islam tidak akan berani menghambur-hamburkan hartanya, apalagi jika harta itu adalah amanah dari rakyat. Penguasa, sebagai pemegang kontrol terpenting bagi masyarakat, tidak akan mengizinkan digelarnya acara-acara yang diisi dengan kegiatan sia-sia juga maksiat semisal jogetan, mabuk-mabukan, apalagi menggunakan uang negara.

Di dalam negara Islam, masyarakat yang  terwujud adalah masyarakat yang saling melengkapi, Satu tubuh, Satu pemikiran, Satu perasaan,Sebagaimana hadist Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam “ (HR. Muslim.

Karena nya sudah saat nya kita tak mengenal lelah menyeru kepada masyarakat terutama pada penguasa agar menerapkan sistem Islam dalam kehidupan dan bernegara.serta senantiasa ber amal ma'ruf nahyi mungkar terhadap penguasa ketika ada kebijakan yang tidak sesuai dengan perintah Allah SWT, sebagai mana Rasulullah bersabda, “Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran (berkata yang baik) di hadapan penguasa yang zalim ” (HR. Abu Daud no. 4344, Tirmidzi no. 2174, Ibnu Majah no. 4011. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Wallahu a'lam.[]


Penulis adalah praktisi pendidikan dan member Akademi Menulis Kreatif regional Bandung


  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Rina Tresna Sari, S.Pdi: Apel Kebangsaan Dengan Biaya 18 M, Di Tengah Duka Sentani Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com