Latest News
Monday, March 11, 2019

Rosmiati, S.Si: Reminesensi Peran Muslimah Dunia. Refleksi Hari Perempuan Internasional

Rosmiati, S.Si
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Hari perempuan Internasional jatuh pada tanggal 8 Maret setiap tahunnya. Sebuah perhelatan guna mengenang perjuangan para buruh perempuan  dalam mendapatkan hak-haknya. Kala itu banyak para wanita yang bekerja diluar waktu normal dan diupah dengan gaji rendah dimana tidak sebanding dengan jerih payahnya. Selain itu, mereka juga rentan menerima berbagai tindakan kekerasan dari pihak korporasi dimana mereka menggantungkan asa.  Dari berbagai rentetan peristiwa inilah akhirnya kaum buruh perempuan kala itu ramai turun ke jalan-jalan menggelar demonstrasi. 

Peristiwa heroik yang terjadi di New York saat itu tentu sudah cukup lama berlalu. Peringatan ini pun sudah sering dilakukan. Jika momentum ini sebagai ajang untuk kembali mengenang peristiwa masa lalu dimana disana ada penindasan terhadap hak-hak para buruh perempuan. Lalu bagaimana dengan kini? Masihkah perburuhan dikalangan kaum wanita terjadi? Berikut uraiannya. 

Potret Perempuan Masa Kini

Lahirnya hari perempuan internasional diinisiasi oleh berbagai gerakan dari para kaum buruh perempuan akibat diperlakukan dengan tidak manusiawi oleh korporasi dimana mereka bekerja. Fenomena ini sesungguhnya masih berlangsung hingga saat ini. Kita tentu tak bisa menutup mata dan telinga, bahwa jumlah tenaga buruh imigran perempuan begitu deras mengalir ke luar negeri. Sebut saja Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang jumlahnya juga tidak sedikit tersebar di beberapa negera di dunia. 

Para TKW ini pun bekerja pada sektor informal yakni sebagai pembantu rumah tangga. Mereka menempati posisi ini dikarenakan rendahnya taraf pendidikan dan pengalaman yang dimiliki.

Dari profesi ini, mereka juga rentan dengan perlakuan tak manusiawi dari majikan dimana mereka bekerja. Sebagaimana para buruh perempuan di pabrik germen kala itu. Bekerja diluar waktu normal, digaji dengan upah yang minim, juga dirasakan oleh kaum buruh imigran atau TKW saat ini. Bahkan tidak sedikit yang mengalami tindak kekerasan seksual hingga ada yang merenggang nyawa di hadapan sang majikan. 

 Belum ada yang berubah, perempuan masih hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan. Bahkan ia yang konon didaulat sebagai tulang rusuk kini bertranformasi menjadi tulang punggung. Ya, tulang punggung. Bukan rahasia umum lagi bahwa banyak para ibu diluar sana yang bertindak sebagai kepala rumah tangga. 

Pada aspek yang lebih substantif dan kodrati dimana hakikat penciptaan seorang wanita di dunia ini ialah diamanahkan untuk menjadi seorang ibu dan isteri juga pupus akibat tuntutan dari kerasnya kehidupan. Meningkat seiring dengan ramainya slogan kesetaraan gender atas nama kebebasan. Mendorong para kaum hawa memilih untuk menjadi wanita karir dari pada menjadi seorang ibu. Bahkan tak jarang yang memutuskan untuk tidak mempunyai anak dalam berumah tangga. Sebab dalam pandangan mereka anak hanya akan menghambat karir dan masa depannya. 

Bagi mereka hal ini adalah perkara biasa. Namun, jika ditakar dengan pemikiran yang mustanir (mendalam) sungguh perkara-perkara ini sangat membahayakan peradaban kita kedepannya. Mengapa? Sebab tak ada lagi generasi yang lahir sebagai sosok pemimpin di masa depan. Begitu pula ibu yang didaulat sebagai tiangnya negara, jika lalai dan sibuk mencari rezeki maka apalah jadinya negeri ini?. Siapa yang akan melanjutkan estafet perjuangan para pendahulu sebelumnya, bukankah regenerasi itu perlu?

Akar Masalah

Munculnya berbagai kondisi yang tidak seharusnya terjadi pada kaum perempuan diatas berakar dari akibat terterapkannya sistem kapitalisme  di negeri ini. Sistem ini menjadikan wanita sebagai mesin pencetak uang.

 Wanita menjadi sosok yang paling menjanjikan untuk mendatangkan setumpuk materi. Wanita mempunyai daya keuletan tinggi dalam bekerja, juga memiliki potensi keindahan tubuh yang bisa dieksploitasi hingga melahirkan pundi-pundi rupiah. Hal ini dapat dilihat dari maraknya iklan-iklan di media  yang ramai menggunakan jasa model wanita ketimbang pria. Bahkan untuk komoditas yang berbau kelaki-lakian pun menampilkan model seorang wanita. 

Selain itu, sistem kapitalisme juga telah menciptakan sebuah kesenjangan global dan kemiskinan parah dalam kehidupan. Salah kaprah dalam hal pengelolaan ekonomi, adopsi pemahaman kepemilikan yang keliru dalam hal SDA dan kebijakan  yang lebih condong kepada para pemilik modal membuat kemakmuran dan hidup berkecukupan itu nyaris tak terdengar gaung dan buktinya di tengah-tengah masyarakat. 

Dari kondisi ini akhirnya perempuanlah yang paling peka. Sifatnya yang tak tega-an membuatnya berpikir keras, agar bisa mendapatkan kehidupan yang layak demi anak dan juga keluarga. Sang suami sudah tak bisa diharapkan, sebab lapangan kerja yang tersedia baginya sangat minim dibandingkan dirinya. Jika sudah demikian maka berapa banyak anak yang dirugikan dari kondisi ini? Maka tergambarlah sudah bagaimana peliknya perkara hari ini, akibat keliru dalam mengadopsi navigasi dalam tata kelola kehidupan bernegara.

Solusi Sistemis

Islam tidak mengenal Hari Perempuan Internasional. Dalam Islam setiap hari ialah hari perempun. Sebab sedari dulu Islam telah  memuliakan kaum wanita. Islam memuliakan wanita dengan tidak membebaninya untuk sibuk beraktivitas mencari pundi-pundi materi. Islam menempatkannya pada sebaik-baik tempat yakni sebagai ibu dan isteri yang karirnya berlangsung dalam rumahnya bukan dikorporasi-korporasi yang malah menjauhkan ia dari fitrahnya serta mengancam  jiwa dan juga kemuliannya. 

Kewajiban mencari nafkah ialah tugas dari pada seorang lelaki atau suami. Bahkan lelaki dalam Islam bertanggungjawab untuk keperluan hidup ibunya, isterinya, saudara perempuannya dan juga anak perempuannya. Ia harus memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan para ahlinya. Hal ini pun telah Allah sampaikan melalui firman-Nya, “ Kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf. Seseorang tidak dibebani selain menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan ahli waris pun berkewajiban demikian…” (QS Al-Baqarah (2):233).

Selain itu, untuk masalah kesejateraan dan terpenuhinya kebutuhan hidup bagi seluruh penduduk negeri ialah tugas seorang khalifah (pemimpin) dalam mengupayakan hal ini. Sebagaimana sabda Nabi saw, ” Imam adalah pengembala (ra’in), dan ia bertanggungjawab untuk orang-orang yang digembalanya ” (HR Bukhari). Maka sudah barang tentu wanita dalam Islam tidak akan miskin dari perhatian dan kekurangan dalam hal kebutuhan hidupnya, sekalipun ia tidak bekerja dan sudah tidak bersuami lagi.

Sebagai bentuk pertanggungjawabannya pula, khalifah dituntut untuk memberikan jaminan keamanan bagi seluruh rakyatnya tanpa terkecuali seorang wanita. Maka dalam Islam tentu tidak dibenarkan adanya aktivitas perburuhan imigran perempuan. Negara juga akan menerapkan sistem ekonominya untuk menuntaskan kemiskinan hingga tak ada lagi alasan bagi para wanita untuk bekerja di luar rumah demi memenuhi kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya. Hal ini dilakukan dengan mengolah hasil alam dengan baik yang hasilnya dikembalikan kepada rakyat secara utuh melalui lembaga-lembaga pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial dan aspek lainnya yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Wallahu’alam bi showab.[]

Penulis adalah Member Writing Class With Has (WCWH), Konawe Sulawesi Tenggara

  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Rosmiati, S.Si: Reminesensi Peran Muslimah Dunia. Refleksi Hari Perempuan Internasional Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com