Latest News
Saturday, March 23, 2019

Sania Nabila Afifah: Miras Dihalalkan Maksiat Makin Subur

Sania Nabila Afifah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Dalam sistem kapitalis sekular yang saat ini diterapkan di tengah kehidupan umat manusia, yang memisahkan agama dari kehidupan menjadikan setiap Individu bermental kapitalistik. Dalam benak hanya ingin  mendapatkan keuntungan semata demi kepuasan dan kesenangan jasadiyah dalam meraih kenikmatan hidup. Sekularisme menjadikan masyarakat berfikir bagaimana cara mendapatkan uang dan uang tanpa memandang syariah. 

Seiring dengan pesatnya pembangunan, di bidang pariwisata, infrastruktur, mall, maka menjamur pula tempat-tempat hiburan seperti tempat karaoke dan lainnya, yang menjadi awal terjadinya tindakan kemaksiatan. Dibolehkannya mengkonsumsi khamar atau miras juga tak lupa menjadi menu yang tak boleh terlupakan bagi penyedia tempat hiburan.

Dilansir ProsalinaJember – DPRD dan Pemkab Jember menemukan rumah karaoke di Jalan Gajah Mada menyimpan minuman keras tanpa izin yang langsung dijual kepada pengunjung. Minuman keras tanpa izin tersebut ditemukan saat sidak DPRD bersama Pemkab Jember tersimpan dalam salah satu ruangan. Pantauan Prosalina di lapangan, minuman beralkohol kelas B sekitar 3 dus, dan sisanya minuman beralkohol kelas C.

Ketua DPRD Jember, Ardi Pujo Prabowo, menegaskan, sidak yang digelar Selasa siang ini dilakukan atas laporan masyarakat yang resah karena sering mendengar suara bising dari rumah karaoke tersebut. DPRD kemudian mengajak pemkab melakukan pengecekan lapangan. Setelah disidak, lanjut Ardi, ternyata rumah karaoke di Jalan Gajah Mada tersebut tidak memiliki izin sebagai tempat hiburan malam yang menjual minuman beralkohol. Padahal Pemkab dan DPRD Jember sudah menetapkan perda minuman beralkohol. Rumah karaoke tersebut terancam membayar denda hingga Rp 20 juta.

Ardi menambahkan, DPRD Jember juga akan mendata rumah karaoke yang hingga saat ini belum berizin. Sementara pemilik rumah karaoke di Jalan Gajah Mada, Yupiter Tanjoyo Salim, membantah jika ruangan yang ada di belakang rumah karaoke miliknya tidak berizin. Sebab pihaknya sudah memegang izin operasional, meski dalam izin hanya tertulis rumah karaoke. Namun Yupiter mengaku sudah pernah mengkonsultasikan hal ini kepada Dinas Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan diperbolehkan. Terkait penjualan minuman keras, tambah Yupiter, pihaknya sudah mencoba mengajukan izin kepada Pemkab, namun hingga saat ini izin tersebut belum terbit. (Fian)

Tidak adanya kepemimpinan yang berasaskan Islam menjadikan umat hidup dalam kegelapan. Manusia tidak lagi dapat melakukan perbuatannya sesuai dengan Islam atau tidak. Tidak dapat membedakan mana yang halal dan mana yang haram? 

Walau mayoritas berpenduduk Muslim tak menjamin kehidupan yang dicerminkan Islami tetapi sebaliknya yaitu mencerminkan budaya orang kafir. Karena saat ini sistem sekuler telah menjadi virus yang menjangkiti umat. Dari sanalah munculnya kebebasan. Kebebasan ala barat ikut diagung-agungkan ditiru, diamalkan dalam sendi-sendi kehidupan. Budaya meminum khamar saat ini sudah bukan hal yang tabu. Walau berulang kali menjerumuskan peminum khamar jatuh ke tangan aparat. Penegakan hukum tak bisa berbuat banyak. Tindakan yang dilakukan hanya bersifat parsial saja tidak menyeluruh. Sebab khamar saat ini dilegalkan oleh pemerintah. Jadi antara pemberantasan miras dan pembuatan miras bersaingan. 

Begitulah, di satu sisi tidak boleh dan disisi lain membiarkan malah memfasilitasi setiap pembeli. Kamar boleh dibeli dengan syarat jika peminat membeli ditempat yang sudah menyediakan kamar yang legal. Pemerintah tidak melarang secara mutlak tetapi, hanya dikendalikan,diatur dan diawasi saja peredarannya. Jadi  sejatinya umat dalam bahaya dan sengaja dirusak dari dalam. Umat dan utamanya generasi dibiarkan tanpa adanya perlindungan.

Khamar dalam pandangan Islam adalah jenis minuman yang memabukkan. Khamar dapat menyebabkan banyak dharar (bahaya) besar bagi masyarakat. Fakta-fakta yang jelas membuktikan bahwa miras menjadi sumber berbagai kejahatan dan kerusakan seperti pemerkosaan, perampokan, kecelakaan dan kejahatan lain yang nyata-nyata terjadi akibat pelakunya dalam pengaruh minuman keras.

Apalagi pelegalan produksi, distribusi, penjualan dan konsumsi miras jelas menyalahi syariah. Islam tegas mengharamkan miras Allah SWT berfirman:


يٰٓأَيُّهَا    الَّذِينَ    ءَامَنُوٓا۟    إِنَّمَا    الْخَمْرُ    وَالْمَيْسِرُ    وَالْأَنصَابُ    وَالْأَزْلٰمُ    رِجْسٌ    مِّنْ    عَمَلِ    الشَّيْطٰنِ    فَاجْتَنِبُوهُ    لَعَلَّكُمْ    تُفْلِحُونَ    ﴿المائدة:٩۰﴾

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (TQS. al-Maidah 90).

Rasulullah saw. Menjelaskan bahwa semua minuman (cairan) yang memabukkan adalah khamr dan khamr itu haram baik sedikit maupun banyak. “ semua yang memabukkan adalah khamr dan semua khamr adalah haram” . (HR. Muslim).

“Apa Saja (minuman/cairan yang banyaknya memabukkan adalah haram” . (HR.Ahmad dan Ashshab as-sunnah).

Miras harus dibabat habis, karena hal ini harus dapat dipahami dari laknat Rasulullah saw. Terhadap 10 pihak terkait khamr: “ Rasulullah saw. Melaknat dalam hal khamr sepuluh pihak: pemerasnya,  yang minta diperaskan, peminumnya, pembawanya, yang minta dibawakan,penuangnya, penjual, pemakan harganya, pembelinya dan yang minta dibelikan “. (HR at-Tirmidzi dan Ibn Majah).

Hadits ini sekaligus menunjukkan bahwa kesepuluh itu telah melakukan tindak kriminal dan layak dijatuhi sanksi sesuai dengan ketentuan syariah Islam.

Peminum khamr sedikit atau banyak, jika terbukti di pengadilan , akan dihukum cambuk sebanyak 40 atau 80 kali. Ali bin Abi Thalib ra menuturkan : Rasulullah saw pernah mencambuk(peminum khamr) 40 kali, Umar mencambuk 80 kali. Masing-masing adalah sunnah. Ini adalah lebih aku sukai”. (HR Muslim).

Adapun pihak selain peminum khamr dikenai sanksi ta’zir, yakni hukuman yang bentuk dan kadarnya diserahkan kepada Qadhi, sesuai ketentuan syariah. Tentu sanksi itu harus memberikan efek jera. Produsen dan pengedar khamr selayaknya dijatuhi sanksi yang lebih keras dari peminumnya karena keberadaan mereka adalah lebih besar dan lebih luas bahayanya bagi masyarakat.

Begitulah aturan Islam atau syariah Islam dalam menjaga akal umat manusia agar tidak rusak. Masyarakat akan bisa diselamatkan dari  ancaman yang timbul akibat khamr atau miras. Dan semua itu hanya dapat terwujud jika syariah Islam diterapkan secara menyeluruh dalam bingkai Khilafah. Sebagaimana yang telah dipraktekkan oleh Rasulullah dan para sahabat dan generasi kaum muslimin setelah mereka.

.”
وَأَطِيعُوا۟    اللّٰـهَ    وَأَطِيعُوا۟    الرَّسُولَ    وَاحْذَرُوا۟    ۚ    فَإِن    تَوَلَّيْتُمْ    فَاعْلَمُوٓا۟    أَنَّمَا    عَلَىٰ    رَسُولِنَا    الْبَلٰغُ    الْمُبِينُ    ﴿المائدة:٩٢

“Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” Wallahu a’lam bi as-shawab.[]

Penulis adalah Komunitas Muslimah Rindu Jannah.

  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Sania Nabila Afifah: Miras Dihalalkan Maksiat Makin Subur Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com