Latest News
Tuesday, March 26, 2019

Yuni Damayanti : Banjir Bandang Kembali Menerjang

Yuni Damayanti
RADARINDONESIANEWS.CO, JAKARTA - Rasanya belum kering kesedihan rakyat Indonesia pasca dilanda bencana bertubi-tubi. Kini duka kembali menyapa warga Sentani, Jayapura. Sebanyak 70 orang menjadi korban jiwa dalam bencana banjir bandang, 43 orang lainya mengalami luka-luka. Kepala Penerangan Daerah Militer XVII Cendrawasih Kol Inf Muhammad Aidi memprediksi jumlah korban masih akan terus bertambah. Selain korban jiwa banjir bandang Senjati juga memaksa lebih dari 1.500 orang mengungsi. Pengungsi itu tersebar di beberapa lokasi terdampak banjir. 

Sementara kerusakan material mencapai 350 rumah rusak parah, tiga jembatan rusak, delapan drainase hancur, dan empat ruas jalan rusak. Menurut Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol AM Kamal lokasi yang paling parah terkena banjir bandang adalah Kelurahan Dobonsolo, Doyo Baru, dan Hinekombe. Banjir bandang Sentani terjadi akibat hujan deras yang mengguyur Kabupaten jayapura dan Sekitarnya sejak Sabtu (16/3) sore hingga malam (Cnnindonesia.com, 17/3/2019). 

Selain tingginya curah hujan, BNPB menduga banjir di Sentani disebabkan oleh rusaknya ekosistem di gunung Cycloop, jayapura, Papua. Kerusakan hutan di sana sudah cukup lama. Daerah pegunungan yang seharusnya menjadi hutan sebagai daerah resapan dan penahan longsor malah disulap menjadi ladang dan kebun. Hasilnya saat hujan deras longsor gampang terjadi (Detiknews,17/3/2019). 

Alam menjawab tindakan destruktif manusia. Sejak sekitar 7 tahun belakangan, wilayah Danau Sentani dan cagar alam Cycloop semakin banyak ditinggali pemukim. Para pendatang ini menempati wilayah hutan yang tidak seharusnya tersentuh manusia. Mereka membuka lahan baru yang banyak diisi dengan perkebunan tradisional. Sebelum banjir bandang terjadi 17 Maret, ada sekitar 600 kepala keluarga yang bermukim disekitar danau sentani. Belum lagi, lebih dari 2000 warga yang tinggal di daerah yang kini terdampak parah. 

Ini bukan pertama kalinya banjir melanda Sentani. Sebagaimana yang disampaikan Bupati Jayapura Matthius Awoitauw bahwa kejadian serupa pernah terjadi pada tahun 2007. Banjir bandang kali ini diikuti dengan kenaikan level permukaan air Danau Sentani setinggi 2 meter, sebut Mathius. Akibatnya semua rumah di sekitar danau terendam, dan hanya menyisakan bangunan gereja dan gedung sekolah, yang memang terletak di dataran tinggi (Tempo.co, 23/03/2019). 

Menilik faktor penyebab banjir, salah satunya disebabkan oleh rusaknya ekosistem hutan dan maraknya pembabatan liar, ini membuktikan adanya kelonggaran hukum dari pihak pemerintah dalam pengawasan dan perlindungan hutan, termasuk didalamnya komitmen pemerintah dalam penertiban kawasan cagar alam. Padahal telah jelas hukum tentang penebangan hutan secara liar diatur dalam UU No.18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan (UU P3H). 

Ketentuan perundangan ini merupakan lex specialis ( ketentuan khusus) dari UU No. 41 tahun 1999 tentang kehutanan. UU P3H ditujukan untuk menjerat kejahatan kehutanan yang masif dan terorganisir, inilah sifat kekhususan yang ada di UU P3H dibanding UU kehutanan. Dalam UU P3H disebutkan bahwa hutan adalah suatu kesatuan ekositem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam komunitas alam lingkungannya yang tidak dapat dipisahkan antara yang satu dan lainnya. 

Masalah kehutanan yang sering dihadapi diberbagai negara di dunia, termasuk di Indonesia adalah penebangan liar dan kebakaran hutan. Hutan merupakan sumber komoditas perdagangan yang menopang perekonomian negara. oleh karena itu, eksploitasi hutan melalui penebangan sulit dihindari. Apalagi jika pemerintah tidak membatasi izin penebangan hutan secara selektif kepada para pengusaha. Maka penebangan liar akan semakin luas dan berdampak buruk bagi lingkungan kedepanya termasuk mengundang datangnya bencana bagi warga sekitar. 

Banjir yang terjadi saat ini adalah fenomena alam ketika musim hujan tiba. Namun sebagai manusia yang dikaruniai akal untuk berpikir kita harus mampu mengaitkan satu kejadian dengan kejadian lainya serta berusaha mengatasinya. Sebagaimana dalam Alquran surah Ar-Rum ayat 41 yang artinya: 

“Telah tampak kerusakan di darat dan laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. 

Bencana banjir yang terjadi saat ini tidak sedikit disebabkan karena campur tangan dan kerakusan manusia dalam mengeksploitasi hutan sehingga mengakibatkan ketidak seimbangan alam. Islam merupakan rahmat bagi seluruh alam, mempunyai solusi yang bisa mengatasi banjir dan genangan. 

Solusi yang ditawarkan Islam dalam upaya mengatasi banjir adalah membangun bendungan-bendungan untuk menampung curahan air hujan, curahan air sungai dll. Memetakan daerah rawan banjir dan melarang penduduk membangun pemukiman di dekat daerah tersebut. Pembangunan sungai buatan, kanal, saluran drainase yaitu untuk mengurangi penumpukan volume air dan mengalirkan aliran air, membangun sumu-sumur resapan di daerah tertentu, sosialisasi tentang pentingnya kebersihan lingkungan dan kebijakan atau persyaratan tentang izin pembangunan bangunan. Pembangunan yang menyangkut tentang pembukaan pemukiman baru. Penyediaan daerah serapan air, penggunaan tanah dsb. Selain itu islam juga menyertakan solusi penanganan banjir seperti penyediaan tenda, makanaan, pengobatan, dan pakaian dan keterlibatan warga sekitar yang berada di dekat kawasan yang terkena bencana alam banjir. Wallahu a’lam bisshowab.[]

Penulis adalah anggota komunitas Muslimah Media Konawe

  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Yuni Damayanti : Banjir Bandang Kembali Menerjang Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com