Latest News
Saturday, March 23, 2019

Zinnirah Abdillah: Mengungkap Hipokrit Terorisme Dan HAM

Zinnirah Abdillah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Malapetaka aksi teroris yang menelan puluhan korban dari kalangan umat muslim pada hari Jumat 15 Maret lalu, kembali menyayat hati seluruh umat manusia baik muslim maupun non muslim yang masih memiliki jiwa peri-kemanusiaan. Bagaimana tidak, penembakan brutal itu dilakukan kepada penduduk sipil yang tidak memiliki kesalahan apalagi melakukan tindakan kekerasan. Mereka hanya umat muslim yang melakukan ibadah ritual shalat Jumat di mesjid, bukan dimarkas para pemberontak. Seolah-olah tak lagi berjiwa manusia the real teroris bernama Brenton Tarrant seorang kafir harbi fi'lan ini pun seperti dracula penghisap darah disiang hari. Tentang peristiwa penembakan brutal di dua mesjid di Christchurch new Zealand, (https://m.detik.com/news/internasional/d-4469033/korban-tewas-aksi-teror-di-masjid-new-zealand-bertambah-jadi-49-orang)

Siapa teroris sesungguhnya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut mestilah dipahami terlebih dahulu darimana asal kata teroris ini bermula.

Terorisme adalah sebuah tuduhan keji yang disematkan atas nama umat muslim, simbol-simbol Islam, dan ajaran Islam. Yang diupayakan sedemikian gencar oleh kafir barat agar tercipta pada dunia Islam dan wajah muslim dengan ciri-ciri terorisme yang mereka ada-adakan. Bermula pada peristiwa hancurnya gedung kembar WTC yang terjadi (11/09/2001) silam. Amerika mulai mengaitkan peristiwa tersebut dengan kelompok muslim seperti kelompok Al Qaeda yang dipimpin Usamah bin Laden di Afganistan. Apakah sama realitasnya seperti hari ini, setiap kelompok muslim yang menyeru kepada dakwah Islam kaffah disebut fundamentalis dan radikal.   

Padahal muslim yang menyerukan untuk ber-Islam kaffah itu adalah benar sesuai yang diperintahkan oleh Allah. Yang salah adalah apabila muslim menyeru kepada Islam moderat sebagaimana yang dikehendaki oleh Barat. Karena Barat akan bersikap sama, apabila suatu kelompok mengancam kepentingan Barat akan dicap radikalisme. Terbaca dari ambisi Amerika yang hendak menciptakan sebuah makar yang begitu  dahsyat, maka Amerika pun tidak mau kehilangan moment. Tepat 10 hari pasca terjadinya ledakan gedung WTC, Amerika bersegera mendeklarasikan kepada dunia melalui Kongres Amerika Serikat yang diadakan pada tanggal (20/09/2001) dengan memaksakan dua opsi yakni "ikut Amerika atau ikut teroris"? 

Ini sangat aneh, Amerika bukannya mengurusi pertahanan militer nya yang baru saja dihancurkan, malah sibuk membangun opini pada dunia, yang banyak menuai kontraversial bahkan pada rakyat Amerika sendiri.

Pernyataan ini jelas mengarah pada tuduhan bahwa kelompok muslim seperti Al Qaeda adalah kelompok teroris dan radikal. Padahal sampai saat ini tuduhan tersebut tak dapat dibuktikan secara nyata. Terkesan Amerika banyak melakukan kebohongan, karena peristiwa hancurnya gedung WTC itu tidak diketahui dengan jelas apa penyebabnya. Amerika juga melakukan kebohongan pada serangan ke Irak tahun 2003 dengan dalih melenyapkan senjata pemusnah masal rezim Saddam Hussein yang telah melanggar Resolusi PBB No.1441 yakni  aturan yang baru saja dibuat setahun pasca tragedi ledakan gedung WTC. Seakan-akan Amerika sudah mempersiapkan skenario yang sangat matang dalam menciptakan isu terorisme ini.

Pun jelas terbukti bahwa Amerika sangat ber-ambisi meng-intervensi timur tengah dimulai dengan Afganistan dan Irak. Amerika juga memaksakan penegakkan sistem demokrasi di negeri-negeri timur tengah. Sejak demokrasi diterapkan di timur tengah inilah isu yang dibuat Amerika yakni "perang melawan terorisme" menjadi berkembang pesat dan menjadi isu sentral dunia. Inilah bentuk kelicikan Amerika serikat yang memanfaatkan penguasa muslim itu sendiri untuk menjadi pelaku dalam menyebarkan isu "perang melawan terorisme" dunia. 

Umat muslim tidak boleh mempercayai isu terorisme ini dimotori oleh kelompok muslim. Umat muslim harus cerdas dalam mencermati sebuah isu. Terorisme adalah alat penjajahan barat. "Perang melawan terorisme" yang keluar dari mulut George W Bush ini adalah seorang kafir, dia pernah menjadi pemerintah Amerika, negara yang berideologi sekulerisme-kapitalis-demokrasi. Dan yang tidak boleh dilupakan oleh umat muslim bahwa Amerika Serikat adalah negara imperialisme. Allah SWT telah mengingatkan umat muslim  dalam hal ini. Lihat-> (Q.S Ali Imran: 118).

Namun, sepanjang sejarah telah membuktikan bahwa kebatilan tidak pernah bertahan dipentas pertarungan ideologi dunia. Keyakinan dan keistiqamahan umat Islam pada kebenaran yang diturunkan oleh Allah SWT telah membuat kafir penjajah berputus asa dan kehilangan cara untuk membasmi umat Islam. Mulai dari melakukan propaganda dan penjajahan fisik sebagai upaya terakhir kafir barat untuk mematikan cahaya Islam di dunia. Namun Qadarullah, bahwa Allah hendak memuliakan umat muslim dengan makar-Nya yang maha agung. Sehingga umat muslim terpelihara eksistensinya meskipun orang kafir berupaya melenyapkannya.

Perhatikan saja betapa banyak genosida yang dilakukan oleh orang kafir barat selama berpuluh-puluh tahun lamanya terhadap umat muslim, seperti Suriah, Palestina, Rohingya, Uighur dan di negeri-negeri kaum muslim lainnya. Inilah kedzaliman kafir barat yang masih terjadi sampai pada hari ini. Namun dari kejadian itu pula mata dunia semakin jelas melihat kedzaliman kafir barat pada umat muslim. Parahnya lagi Dunia tak pernah mengutuk bahwa Yahudi dan bangsa Israel serta pelaku penembakan brutal di mesjid news zueland adalah terorisme.! Begitu juga dengan perlindungan HAM, tak pernah Dunia meneriakkan HAM pada korban kedzaliman Yahudi tersebut.

Umat muslim harus mampu mengambil pelajaran dari kejadian tersebut. Sungguh pada setiap kedzaliman yang dibuat oleh kafir penjajah pada umat muslim ini telah menyadarkan umat sedikit demi sedikit. umat muslim tak lagi percaya pada Barat, PBB, HAM yang disfungsi terhadap muslim. Tak pelak pada peristiwa yang terjadi di news zueland pun dunia Barat, PBB dan pengusung HAM internasional dan nasional bungkam atas peristiwa sadis tersebut. Ini semakin memperjelas bahwa HAM dibentuk bukan untuk melindungi umat Islam. akan tetapi sebagai alat jerat kaum kafir penjajah barat untuk menghukum umat muslim apabila melanggar HAM.

Pun status terorisme yang menyasar muslim sebagai pelaku sering kali terjadi salah alamat oleh pihak yang tak bertanggung jawab. Dan tak jarang kejadian tersebut dieksekusi ditempat. Bahkan masih berstatus terduga saja pihak detasemen khusus 88 langsung melumpuhkan nyawa nya secara kejam. Seperti yang terjadi pada Siyono, pembunuhan keji yang belum terlupakan dari benak kaum muslimin. Dia adalah seorang yang berprofesi sebagai guru mengaji yang diduga telah bergabung dengan kelompok teroris telah tewas dalam pengawasan densus 88 pada tahun 2016 lalu. Namun tak berlaku pada pelaku yang kafir. Peristiwa Suriah, Palestina, Rohingya telah menjadi saksi bahwa ketidak-adilan Barat yang tidak menamakan Yahudi sebagai terorisme.

Jadi jelas sekali dunia barat khususnya dan dibantu oleh anteknya dinegeri muslim ingin memperkuat isu bahwa teroris itu hanya dilakukan oleh orang Islam saja. Ini fitnah yang luar biasa keji.!

Disisi lain terdapat ketidakadilan pada hukum HAM. Hukum ini tampaknya tak berlaku bagi kaum muslim akan tetapi sangat perduli terhadap perlindungan orang kafir dan antek-anteknya. Ketika pembantaian pada peristiwa new Zealand ini terjadi, tak ada HAM yang ditegakkan. Namun ketika kafir yang menjadi korban mulailah pengusung HAM meradang dan bersuara lantang menyuarakan HAM seperti pengeboman Gereja misalnya, media  memberitakan berturut-turut harinya dan pihak kepolisian melakukan penjagaan ketat pada gereja saat menyambut hari raya kristiani. 

Tapi anehnya pada Islam tak begitu, ketika umat muslim melakukan ibadah di mesjid tak ada penjagaan dari pihak kepolisian negara. Ini jelas sikap yang melindungi satu agama dan menyudutkan agama lain. Begitu pula yang terjadi, saat suatu isu dapat mendukung hasrat kafir barat dalam membasmi Islam dengan cepat dan sigap diberitakan di kabar berita internasional. Seperti kasus LGBT yang terjadi di Aceh pada tahun 2017 lalu. (http://portalsatu.com/read/news/7-fakta-kasus-homoseksual-di-banda-aceh-29535). yang mana pengusung HAM dunia bersuara dan menuntut agar ditegakkan HAM pada pelaku LGBT tersebut. Padahal pelakunya hanya dua orang dan kelakuan nya jelas-jelas menyimpang dari ajaran Islam.

Berbeda dengan kasus new Zealand puluhan orang tewas dan mereka tidak melakukan kesalahan dan penyimpangan apapun. Namun tak dianggap ini sebuah prilaku keji oleh barat. Tidak juga disebut aksi terorisme. Hanya  disampaikan dengan bahasa halus yakni "aksi penembakan". Dan hukum yang ditimpakan pada pelaku penembakan teroris brenton Tarrant ini pun sekedar kurungan penjara. Inilah bukti bahwa terorisme adalah alat penjajahan barat.

//Kemana pemimpin muslim berpihak.?//

Muncul pertanyaan kemana pemimpin muslim berpihak dalam hal ini. Apakah tetap membela keadilan pada kaum muslimin.? Atau berpihak pada Barat yang telah berlaku tidak adil pada umat muslim.? Untuk itu perlu diperhatikan apakah telah tampak pada sikap pemimpin negeri muslim; 1. Mengutuk, 2. Mengerahkan tentara untuk memerangi teroris yang meneror umat muslim, 3 menjatuhkan hukuman mati pada pelaku teroris kususnya pada kasus News Zealand ini.? Atau bahkan bungkam.? 1. Tidak mengutuk, 2 tidak mengerahkan bala tentaranya, 3. Tidak menjatuhkan hukuman mati pada pelaku teroris.

Jika belum tampak tanda-tanda bahwa pemimpin muslim membela keadilan kaum muslimin. Maka ketahuilah "anda sedang berada pada Fase mulkan jabariyyah. Fase kepemimpinan dzalim. Namun berbahagialah bagi para pejuang Islam, bahwa fase ini sangat dekat dengan fase khilafah. Dalam sebuah hadits disampaikan oleh Rasulullah Saw "Sungguh akan datang fase khilafah 'alaminhajjinnubuwwah. (H.R Ahmad)

 Pentingnya menegakkan Khilafah sebagai solusi kasus News Zealand

1. Menegakkan kewajiban Qishas

 Islam melarang keras pelaku pembunuhan. Allah SWT berfirman;

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu (melaksanakan) qisas berkenaan dengan orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba sahaya dengan hamba sahaya, perempuan dengan perempuan. Tetapi barang siapa memperoleh maaf dari saudaranya hendaklah dia mengikutinya dengan baik, dan membayar dibuat (tebusan) kepadanya dengan baik (pula) yang demikian itu adalah keringanan dan Rahmat dari Tuhanmu. Barang siapa melampaui batas setelah itu, maka ia akan mendapat 'azab yang pedih. (QS Al Baqarah:178)

2. Khilafah menjamin keamanan hidup Manusia, baik muslim maupun non muslim. (HAM)

Begitupun dengan HAM, dalam Islam juga menjamin hak hidup yang melekat pada diri manusia. Islam melarang keras adanya pembunuhan, menganiaya, merampas harta, yang dilakukan secara sengaja. Allah SWT berfirman;

"Dan dalam qisas itu ada (jaminan) kehidupan bagimu. Wahai orang-orang yang berakal, agar kamu bertakwa" (QS Al Baqarah: 179)

3. Khilafah akan memberikan sanksi tegas pada pelaku teroris

khilafah akan memberikan sanksi yang tegas pada pelaku teroris. Jika dia membunuh maka wajib dibunuh. Dan inilah satu-satunya hukum yang dapat memberikan efek jera pada tindakan terorisme. Oleh karena itu pembunuhan yang dilakukan teroris kafir kepada umat muslim di News Zealand tersebut mesti dihukum mati. Agar keadilan dapat ditegakkan di seluruh dunia.  

Namun mustahil keadilan itu diperoleh dalam sistem demokrasi-sekuler saat ini. Dimana sistem ini sudah jelas kerusakannya karena lahir dari akal manusia yang terbatas. Hanya dengan menerapkan hukum Allah saja lah permasalahan pertumpahan darah ini dapat dihentikan. Karena Allah maha tau terhadap ciptaannya. Dan umat muslim wajib yakin pada hukum Allah yang maha adil.

Firman Allah SWT;
"Apakah hukum jahiliyah yang mereka inginkan ,hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang beriman" (QS.Al Ma'idah: 50)

Oleh sebab itu tak ada cara lain selain mengembalikan sistem khilafah, karena hanya dengan sistem khilafah syariat Islam bisa diterapkan secara Kaffah. Allahu 'alaam bis-ash shawwab. []

Nama asli saya ismalisa. Zinnirah Abdillah adalah nama pena Ismalisa nama. Pendidikan: S1 Tarbiyah, Prodi Bimbingan konseling UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Guru Tahfiz Al Qur'an.

  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Zinnirah Abdillah: Mengungkap Hipokrit Terorisme Dan HAM Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com