Latest News
Friday, March 22, 2019

Zulaika: Nestapa Perempuan Dalam Cengkraman Demokrasi

Zulaika
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Bagaikan telur di ujung tanduk. Peribahasa ini rasanya cocok untuk menggambarkan perempuan pada saat ini. Dimana perempuan menjadi korban baik dirumahnya sendiri maupun diruang publik. Perempuan saat ini tidak berbeda jauh keadaannya dengan pada masa Islam belum datang.

Komisi Nasional anti kekerasan terhadap perempuan (Komnas perempuan) meluncurkan Catatan Kekerasan Terhadap Perempuan tahun 2018 (CATAHU 2019) di Jakarta Selatan pada Rabu (06/03/2019). Di dalam CATAHU 2019, Komnas perempuan mencatat 406.178 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani selama tahun 2018 naik dari tahun sebelumnya yang terdapat 348.466 kasus. Ketua Komnas perempuan, Azirana Manalu mengatakan, angka-angka tersebut memperlihatkan pola dan kecenderungan kekerasan terhadap perempuan di tiga ranah yakni privat, publik dan negara. Ia juga mengatakan pengaduan kasus kekerasan pada perempuan pada tahun 2018 meningkat 14 persen dari tahun sebelumnya. CATAHU tersebut merupakan upaya dokumentasi berbagai kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani oleh lembaga pengadalayanan, baik yang diselenggarakan pemerintah maupun organisasi masyarakat, serta pengaduan yang langsung datang ke Komnas perempuan (Tribunnews.com).

Komisioner Komisi Nasional anti kekerasan terhadap perempuan (Komnas Perempuan), Mariana Amiruddin mengatakan bahwa kekerasan seksual adalah bentuk kekerasan terhadap perempuan terbanyak adalah dalam hubungan pacaran. "Pacaran adalah relasi yang tidak terlindungi hukum sehingga jika terjadi kekerasan, korban akan menghadapi sejumlah hambatan dalam mengakses keadilan", kata Mariana melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Rabu (06/03/2019) (Suara.com).

Berdasarkan fakta di atas, kekerasan terhadap perempuan terus meningkat bukan berkurang. Mulai dari ranah pribadi (pacaran), domestik (rumah tangga), publik bahkan negara. Apalagi dalam sistem pemerintahan yang diberlakukan sekarang yakni kapitalis-sekuler telah gagal memberikan kesejahteraan pada perempuan yang sejatinya adalah seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya. Dalam sistem kapitalis telah berubah menjadi mesin ekonomi. Dalam sistem ini, perempuan bekerja bukan hanya untuk mengakomodir jargon kesetaraan gender, juga terdapat alasan utama yakni pemanfaatan jasa mereka lebih pada itung-itungan ekonomi bahkan menurut pakar sosiologi pedesaan IPB menyatakan bahwa mempekerjakan perempuan lebih menguntungkan. Selain teliti, tekun dan sifat-sifat lainnya yang umumnya menjadi ciri khasnya, tenaga kerja perempuan dipandang lebih penurut dan murah, secara ekonomis lebih menguntungkan bagi pengusaha.

Fenomena TKI makin menunjukkan nasib tragis perempuan di Indonesia. Banyak kasus pilu terjadi yang menimpa para TKI ini namun hal ini belum cukup menggerakkan kemauan penguasa untuk total menghentikan ekspor TKI walaupun banyak pihak berteriak agar pengiriman TKI ditutup, namun pemerintah hanya melakukan moratorium (penundaan) sementara. Lagi-lagi motif ekonomi menjadi lebih melatarbelakangi kenekadan pemerintah itu. Kontribusi buruh migran cukup besar dalam memberikan sumbangan devisa negara. Saat bekerja, para perempuan, kaum ibu ini rentan penganiayaan. Berbagai kedzaliman mereka rasakan, gaji tidak dibayar, dilecehkan, disiksa, diperkosa bahkan dibunuh. Belum lagi jika kondisi ekonomi sangat sulit seperti saat ini, pertengkaran kecil bisa menjadi besar antara suami-istri, bisa menyebabkan kekerasan dalam rumah tangga bahkan pembunuhan dan sebagian besar korbannya adalah perempuan (istri). Hal ini disebabkan diterapkannya sistem kapitalisme-sekuler dimana makin sulit hidup saat ini karena semua serba mahal, lapangan pekerjaan tidak ada. Yang kaya makin kaya dan yang miskin makin terhimpit. 

Selain itu karena penerapan sistem ini pula yang sangat mengagungkan kebebasan baik kebebasan berpendapat maupun bertingkah laku, maka banyak remaja saat ini yang berpacaran dan hal ini dianggap hal yang wajar bahkan oleh orangtuanya pun dibiarkan. Gaya pacarannya pun "luar biasa" dari sekedar nonton bioskop, jalan-jalan, pegangan tangan bahkan yang lebih jauh lagi, seks bebas. Hal ini pula yang memicu terjadinya kekerasan seksual karena pihak laki-laki merasa memiliki "hak" pada pacarnya sehingga ketika pacarnya   tidak mau "berhubungan" maka pihak laki-laki tidak segan-segan melakukan kekerasan. Itulah sebabnya menurut fakta di atas, banyaknya kekerasan yang dilakukan oleh orang yang berpacaran.

Kekerasan pada perempuan pun kerap terjadi di ranah publik seperti pelecehan di bis, di sekolah dan fasilitas-fasilitas umum lainnya. Dari semua fakta di atas sangatlah jelas bahwa ide kapitalis-liberal telah gagal menyelesaikan persoalan perempuan malah justru telah sukses menjerumuskan perempuan ke dalam kondisi abnormal yang menyalahi fitrah perempuan itu sendiri (TKI). 

Kondisi ini terjadi karena Islam tidak diterapkan dalam kehidupan. Maka sudah saatnya kita bergerak membangunkan umat dari keterlenaan. Kegelapan ini tidak akan pernah beranjak dari umat selama umat Islam terus meninggalkan aturan-aturan dari Allah dan Rasul-Nya. Umat akan merasakan kemuliaan dan meraih kemenangan seperti generasi muslim sebelumnya. Solusi mendasar dari semua persoalan yang kita hadapi sekarang hanyalah dengan mencampakkan sistem yang rusak dan kembali kepada sistem yang mampu memberi jaminan penyelesaian secara tuntas dan adil, yang memiliki aturan yang komprehensif yang menjamin keadilan bagi siapapun termasuk perempuan. 

Kemuliaan perempuan akan terjaga. Sistem ini juga memiliki seperangkat aturan syara terkait perempuan, yakni: kewajiban perempuan menutup aurat ketika keluar rumah berupa jilbab (Qs Al ahzab: 59) dan khimar / kerudung (Qs  An nur: 31), larangan safar tanpa mahram, larangan khalwat dengan laki-laki selain mahramnya, ikhtilath (bercampur baur) antara laki-laki dan perempuan dan lain sebagainya. Semua aturan ini bukan untuk mengekang perempuan tetapi justru menjaga serta memuliakan perempuan. Sistem ini juga akan mengembalikan fungsi dan peran perempuan sebagai pendidik dan penjaga generasi.

Dan mempersiapkan perempuan sebagai Ummu wa rabbatul bayt juga mampu menjalankan berbagai fungsi publik yang disyariatkan baginya. Sistem tersebut adalah sistem Islam dalam naungan Khilafah Rasyidah 'ala minhaj an nubuwwah yang terbukti selama berabad-abad  membawa umat  pada kemuliaan dan martabatnya yang hakiki sebagai khoiru ummah. Dan hanya khilafah saja lah yang mampu melindungi dan menjadi perisai bagi semua lapisan masyarakat termasuk perempuan. Wallahu'alam bi ash showab.[]

Penulis adalah mahasiswi D3 jurusan b Inggris d STBA Yapari Bandung
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Zulaika: Nestapa Perempuan Dalam Cengkraman Demokrasi Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com