Latest News
Monday, April 15, 2019

Aji Rafika Noor Adita S.si: HAM, Senjata Membungkam Islam

Aji Rafika Noor Adita S.si
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Brunei Darussalam resmi memberlakukan hukum syari’ah Islam yang mencantumkan hukuman rajam hingga tewas terhadap kaum homoseksual dan pelaku perzinahan, lansir Channel News Asia. Melalui pemberlakuan hukum ini, pemimpin Brunei Darussalam Sultan Hasanah Bolkiah menegaskan ingin melihat ajaran Islam di negara itu tumbuh kuat.(aa.com. 05/03/2019).

Hal ini mengundang reaksi keras dunia, khususnya dunia Barat. Melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak pemerintah Brunei agar tak menerapkan hukum untuk merajam hingga tewas warga lesbi,gay,biseksual dan transgender (LGBT).

“Saya meminta pemerintah menghentikan kitab undang-undang hukun pidana yang menjadi satu kemunduran bagi perlindungan hak asasi terhadap rakyat Brunei jika diterapkan,” ujar Komisioner Tinggi HAM PBB, Michelle Bachelet, sebagaimana dikutip AFP, Senin (1/4/2019). (cnnindonesia.com).

Bachelet mengatakan bahwa para ahli HAM dari PBB juga “mengutarakan kekhawatiran mereka hukuman jahat dan tak berprikemanusiaan itu”. Begitu pun oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres, mengatakan pada Rabu 3 April 2019, bahwa penerapan undang-undang syariah baru di Brunei Darussalam melanggar hak asasi manusia (HAM).

Sebelumnya, penerapan hukuman syariah ini juga mendapat tentangan dari berbagai kalangan. Yakni Mantan Wakil Presiden AS, Joe Biden, mencuit “Merajam orang sampai mati karena tindakan homoseksual atau perzinahan adalah mengerikan dan amoral. Tidak ada alasan-baik agama atau tradisi- atas kebencian dn tak berperikemanusiaan seperti ini.”

Kemudian, senator Ted Cruz selaku wakil Partai Republik dari Texas. Di Inggris, Menteri Pembangunan Internasional, Penny Mourdaunt melalui cuitannya. Dan juga actor Hollywood, George Clooney, yang menyerukan pemboikotan Sembilan hotel mewah yang memiliki keterkaitan dengan Brunei.(news.okezone.com.02/04/2019).

Begitu kerasnya reaksi penentangan lembaga-lembaga dunia terhadap secuil penerapan syari’ah Islam di sebuah negara, dalam hal ini adalah Brunei Darussalam. Tentunya hal ini membuat kita bertanya-tanya. Ada apa dibalik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menjadi garda terdepan dalam mengecam pemberlakuan hukum rajam bagi LGBT dengan alasan melenggar HAM dan tidak berkeperimanusiaan. 

Sejatinya PBB (Perserikatan Bangsa- Bangsa) atau dalam bahasa Inggris disebut United Nations (UN). Adalah Organisasi Internasional yang didirikan pada tanggal 24 Oktober 1945 untuk mendorong kerjasama Internasional. Badan ini merupakan pengganti Liga Bangsa-Bangsa dan didirikan setelah Perang Dunia II untuk mencegah terjadinya konflik serupa.

Markas Perserikatan Bangsa-Bangsa terletak di New York, Amerika serikat, dan memiliki hak ekstrateritoritorialitas. Kantor utama lain terletak di Jenewa, Nairobi dan Wina.(Wikipedia). Dari segi pendanaan merupakan sumbangan sukarela bagi negara-negara anggotanya.

Berdasar kan data dari Wikipedia, ada 10 besar donator di PBB tahun 2011, salah satunya adalah Amerika Serikat (AS) yang menjadi negara penyumbang terbesar bagi PBB, yakni sekitar 22,000 % dari anggaran (UN). Jadi wajar, kearah mana keberpihakan lembaga internasional ini, sehingga menjadi corong bagi negara adidaya tersebut untuk menentang dan memberikan sanksi bagi negara yang tidak sejalan dengannya.

Penegakan hak asasi manusia yang merupakan alasan utama untuk didirikannya PBB. Meskipun demikian, Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa yang didirikan pada tahun 2006 bertujuan untuk mengatasi pelanggaran hak asasi manusia, yang sering dikritik karena memberikan jabatan tinggi kepada negara-negara anggota yang tidak menjamin hak-hak asasi warga negaranya mereka sendiri, apalagi negara lain.

Dengan alasan pelanggaran hak asasi manusia, tidak berkeprimanusiaan, amoral dan sebagainya, yang selalu menjadi tameng untuk menolak dan melawan syariat islam ketika akan diterapkan menjadi dasar hukum bagi negara yang menginginkan syariat.

Jelas hal ini, menjadikan penentang syariah lewat lembaga internasional yang tidak menginginkan penerapan syari’ah secara kaffah. Selalu membenturkan hukum syariah dengan pelanggaran HAM, padahal masih banyak terjadi pelanggaran HAM di Dunia Islam, misal Suriah, Rohingya, Mali dan lainnya yang sudah menjadi rahasia umum. 

HAM merupakan senjata tajam untuk membungkam syari’at Islam. Bagi para negara kapital, demi melanggengkan hegemoninya di dunia islam khususnya. Mereka tidak rela islam kembali berjaya dengan syariat agamanya. Yang merupakan ketundukan sekaligus kemenangan bagi penganutnya.

Hanya Islam yang mampu memuliakan dan menjaga hak setiap manusia dengan syariatNYa, karena memang berasal dari sang khalik dan mudabbir yakni Allah yang diturunkan melalui RasulNya. Jika seluruh syariat Islam diterapkan ditengah-tengah masyarakat dan menjadikan dasar bagi seluruh hukum dalam institusi sebuah negara. Karena memang suatu kewajaran bagi setiap manusia, muslim khususnya untuk selalu tunduk dan patuh kepada seluruh syariat dari Tuhannya.

Hanya dengan melalui instiusi politik islam global, yang mampu melawan segala bentuk penjajahan, penindasan dan ketidakadilan bagi dunia islam khususnya oleh negara adidaya melalui lembaga internasional. Wa’allahu a’lam bishawab.[]
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Aji Rafika Noor Adita S.si: HAM, Senjata Membungkam Islam Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com