Latest News
Monday, April 15, 2019

Ika Kartika: Simanis Yang Tak Manis

Ika Kartika
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Islam membagi peran ayah dan ibu dalam keluarga. Ayah sebagai pemimpin keluarga dan ibu sebagai pengatur (manajer) rumah tangga selain sebagai pendidik utama bagi anak-anaknya. Rasulullah Saw bersabda: "Kalian semua adalah pemimpin, dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin di rumah tangganya, dan dia bertanggungjawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang wanita (ibu) adalah pemimpin di rumah suaminya dan anak-anaknya, dan dia bertanggungjawab atas apa yang dipimpinnya." (Muttafaq 'alaih).

Anak yang sehat fisik, kuat, cerdas, pintar tumbuh kembang normal adalah dambaan setiap orang tua. Salah satu yang dibutuhkan untuk menunjang pertumbuhan tersebut adalah pemberian susu. ASI adalah susu terbaik untuk bayi, yang telah banyak dipelajari dan dibuktikan oleh para peneliti. ASI mengandung semua nutrisi yang diperlukan bayi, sebagai makanan alamiah pertama dan utama. Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama hingga dua tahun telah terbukti dapat mencegah  penyakit-penyakit seperti kanker anak, pneumonia,  diare, kegemukan, diabetes, jantung, dan pembuluh darah, alergi dan asma." (NK. Aryastamu Oktober). 

Perlu diketahui bahwa tidak semua susu baik untuk anak diatas tiga  tahun apalagi bagi bayi. Salah satu yang tidak dianjurkan adalah SKM (Susu Kental Manis) fakta bahwa kental manis bukanlah produk susu seperti susu formula atau full cream pernah diunggah oleh akun Twitter @KemenkesRI pada awal  Mei lalu. Menurut  Kementerian Kesehatan (Kemenkes), kandungan gula dan karbohidrat dalam kental manis begitu tinggi, rendah protein dan minim gizi. Sebagai ilustrasi, jika anak mengkonsumsi dua gelas kental manis sehari itu artinya konsumsi gulanya telah melebihi batasan kebutuhan gula harian. Padahal, kebutuhan gula anak 1 sampai 3 tahun hanya sekitar 13-25 gram.

Dilansir oleh Bandung.Kompa.com bahwasanya hingga kini, masih banyak orang tua di Kabupaten Bandung Indramayu, dan beberapa daerah di Jawa Barat yang masih memberikan Susu Kental Manis (SKM) kepada bayinya sebagai pengganti Air Susu Ibu (ASI), padahal SKM tidak bisa menggantikan sama sekali peran ASI. Bahkan, jika dilihat dari segi gizi kandungan susunya sangat rendah. "Lihat di labelnya, kandungan susunya paling 1 persen bahkan kurang," ujar Ketua Yayasan Abhipraya Insan Cendikia Indonesia (YAICI) Arif hidayat, di Jalan Sancang, Bandung, Jumat (29/3/2019).

Menurut Arif Hidayat kondisi ini terjadi karena beberapa hal, Pertama, iklan yang menyesatkan dan jor-joran selama berpuluh tahun tentang SKM masuk ke benak masyarakat. Meskipun produsen produk sudah menggantinya dengan kata krim kental manis.

 Kedua, pengetahuan masyarakat terhadap SKM rendah. Mereka tidak mengetahui jika SKM didominasi oleh gula yang tidak cocok untuk bayi. Apalagi jika digunakan sebagai pengganti ASI, bayi bisa mengalami kekurangan gizi.

 Ketiga, karena harganya lebih murah sehingga masyarakat menggunakan SKM sebagai alternatif. Anjuran untuk tidak memberikan SKM pun tidak dihiraukan oleh masyarakat, karena himpitan ekonomi saat ini masyarakat tidak mampu membeli susu formula sehingga mereka menggunakan SKM sebagai alternatif karena harganya lebih terjangkau. Lebih parah lagi ternyata di tengah masyarakat masih didapati sejumlah ibu yang tidak menyusui anaknya, ada yang karena bekerja, takut payudaranya turun, padahal itu mitos payudara turun karena kehamilan dan lain sebagainya. (TabloidNakita.com)

Betapa di sini peran negara sangat penting, akan tetapi negara lalai dalam mengedukasi dan memenuhi kebutuhan masyarakat terkait tumbuh kembang anak yang akan menjadi generasi penerus, justru dengan alasan materi berupa didapatnya pundi-pundi uang negara  membiarkan iklan yang menyesatkan masyarakat ditayangkan selama berpuluh tahun. Penggunaan area menyusui di area bekerja dan tempat umum tidak mampu menyelesaikan masalah ini, karena pilihan ibu yang bekerja adalah tidak menyusui anaknya, sehingga alternatifnya ialah menggantinya dengan susu formula, dan karena alasan ekonomi maka diambillah pilihan SKM.

Negara seharusnya mengedukasi para ibu secara maksimal, bahwa tugas utama seorang ibu adalah mengurus anak dan keluarganya.

Begitu sempurnanya Islam, dalam mengatur persusuan, meskipun ini adalah tanggungjawab  ibu, namun ada peran ayah bahkan negara yang kesemuanya wajib berjalan secara ideal bersamaan sesuai dengan aturan yang ditetapkan Syara'.

Masa menyusui adalah masa terpenting bagi pertumbuhan bayi. Nutrisi yang diterima bayi pada masa yang diistilahkan sebagai masa emas (golden age) ini telah diterangkan oleh Allah di dalam Alquran. Disebutkan masa menyusui dalam ajaran Islam adalah dua tahun.

Firman Allah Swt "Para ibu hendaknya menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan," (QS Al-baqarah 2: 233).

Selain ibu, Islam pun memandang bahwa terdapat peran ayah dalam menafkahi sosok ibu (istrinya) dan sang bayi yang akan menjadikan seorang ibu leluasa dan tenang menjalankan kewajiban menyusui permata hatinya selama dua tahun penuh.

Peran negara pun tak boleh diabaikan, yakni memberi kesempatan luas kepada para laki-laki dalam hal lapangan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan anak, istri dan orang-orang yang ada di bawah tanggungjawabnya.

Ketiga peran ini wajib berjalan beriringan dan hanya dapat terlaksana dengan sempurna ketika Islam diterapkan secara kaffah di tengah masyarakat.

Tidak seperti di masa kapitalis saat ini dimana semua sosok mulai dari ibu, ayah, negara semua berpikir dengan standar materi, berjalan hanya untuk meraih sebanyak-banyaknya pundi harta sehingga terabaikanlah kebutuhan yang asasi dari masyarakat secara menyeluruh.

Sungguh rindu yang demikian membuncah untuk diterapakannya aturan Islam kaffah di tengah masyarakat. Aturan kehidupan yang akan memberikan porsi keadilan hakiki dari Dzat Yang Maha Mengetahui hakikat kebaikan dan keburukan dari mahluk-Nya. Aturan Islam kaffah yang hanya dapat tegak dengan sempurna di bawah naungan institusi Daulah Khilafah Rasyidah. Wallahu a'lam bi ash-shawab.[]
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Ika Kartika: Simanis Yang Tak Manis Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com