Latest News
Monday, April 15, 2019

Nurul Izzah: Kapitalisme Perusak Reproduksi Remaja

Nurul Izzah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Remaja, si agent of change. Itulah gelar yang melekat pada diri remaja. Tidak ada habisnya jika kita berbicara tentang mereka (remaja), karena pada hakikatnya segala sesuatu membutuhkan perubahan. Tentunya pada arah yang lebih baik. Agen perubahan ini memegang peran penting dalam kemajuan suatu bangsa. 

Jika remaja pada suatu bangsa memiliki pribadi yang buruk, maka rusaklah bangsa itu. Namun, sangat disayangkan generasi muda kini tidak lagi seperti pada masa kejayaan Islam, Islam yang pernah berjaya selama 13 abad lamanya dan In syaa Allah akan kembali berjaya, telah melahirkan generasi muda berjiwa pejuang dan bermoral berlian. Sebut saja Sultan Muhammad Al-Fatih, di usia 22 tahun mampu menaklukan konstantinopel yang kala itu tidak mampu dilakukan oleh jendral manapun. Atau Maryam binti Imran sosok yang selalu menjaga kehormatannya dan tidak sembarang berdekatan dengan laki-laki yang bukan mahramnya, bahkan ketika malaikat jibril datang menemuinya dalam bentuk laki-laki sempurna, ia tetap menjaga diri.

Generasi muda zaman “milenial” acap kali dilekatkan dengan generasi tidak bermoral. Bagaimana 

tidak? Pelaku tawuran, LGBT, pembunuhan, pembegalan, pemerkosaan, perampokan, didominasi oleh generasi muda. Termasuk aborsi yang kian hari semakin mekar. 

Beberapa minggu lalu rumah praktik aborsi di Blitar, Jawa Timur digrebek oleh polisi setempat dan ditemukan perempuan muda yang hendak melakukan aborsi , "Yang jelas usianya masih 21, masih sebagai mahasiswi dan bujangan," ungkap Kasatreskrim Polres Blitar AKP Heri Sugiono kepada wartawan, Kamis (28/3/2019) . Praktik aborsi ini mulai dibuka sejak 5 tahun lalu .

Sebelum kasus di Blitar ini pun sudah banyak kasus aborsi yang terjadi, seperti ditemukannya janin berusia 3 bulan di dalam kotak makanan, Kedoya Jakarta Barat (11/03/19). Kemudian di Kupang, NTT . Kapolsek Kelapa Lima, AKP Didik Kurnianto mengatakan, kasus aborsi itu melibatkan pasangan mahasiswa di asrama Pemda Alor berinisial, KMF (21) dan HD (20). “Aborsi dilakukan di asrama Pemda Alor di RT 13/RW 03, Kelurahan Lasiana, sekitar pukul 17.00 wita” ujar Didik kepada wartawan (25/2/2019). Dan lebih parah lagi aborsi yang dilakukan oleh remaja usia 15 tahun akibat pemerkosaan oleh kakak kandungnya, Jambi (27/08/18). 

Menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKBN) kasus aborsi di Indonesia sebanyak 2 juta setiap tahunnya namun tidak dapat dihitung secara akurat sebab tidak semua kasus aborsi selalu dilaporkan kecuali jika terjadi komplikasi.

Sedangkan survei yang dilakukan oleh Kita Sayang Remaja (Kisara) pada sembilan kota besar di Indonesia jumlah kasus aborsi di Indonesia setiap tahunnya 2,3 juta, 30% diantaranya dilakukan oleh remaja karena kehamilan tidak diinginkan (KTD). KTD ini mencapai 37.000 kasus, 27% diantaranya terjadi dalam lingkungan pranikah, 12,5% adalah pelajar.

Sangat disayangkan Indonesia pun melegalkan perbuatan aborsi ini, berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi yang di dalamnya melegalkan pembunuhan terhadap janin hasil pemerkosaan yang usianya maksimal 40 hari. Pelegalan aborsi itu terdapat pada pasal 31 PP Kesehatan Reproduksi, Bunyinya :

1. Tindak aborsi hanya dapat dilakukan berdasarkan :

a. Indikasi kedaruratan medis; atau

b. Kehamilan akibat pemerkosaan

2. Tindakan aborsi akibat pemerkosaan hanya dapat dilakukan apabila usia kehamilan paling lama 40 hari, dihitung sejak hari pertama haid terakhir.

Jika kita cermati, apakah dengan adanya PP No 61 Tahun 2014 ini dapat menurunkan atau bahkan memusnahkan kasus aborsi?

Bukankah PP ini membuat pelaku pemerkosaan merasa aman? Sebenarnya apa yang menjadi “Biang Kerok” semua ini?

Jika benar peraturan ini dapat menurunkan tingkat aborsi, bagaimana mungkin banyak yang menolak? Ibarat dijamin hidup sejahtera, siapa yang tidak mau?. 

Peraturan ini seakan-akan membuat lega para pelaku pemerkosaan sebab korban sendirilah yang akan menghilangkan bukti tindakan bejat ini dengan aborsi, apalagi jika korban dari keluarga terhormat pasti akan disembunyikan untuk menjaga martabat keluarga. Dan dianggap tidak ada yang terjadi.

Bila PP ini benar ingin melindungi korban, kenapa tidak dibuat PP yang mencegah hal-hal pemicu pemerkosaan? Sebab lebih baik mencegah daripada mengobati.

Dalam sistem Kapitalis semua berasaskan pada manfaat, semua bisa dijalankan jika banyak uang, ditambah lagi sekularisme yaitu pemisahan agama dari kehidupan yang kemudian memperparah kondisi, Tidak heran jika dilegalkannya miras, dijualnya kondom, situs-situs porno yang dengan mudah diakses, aurat yang ditampakkan di mana-mana, dan lain sebagainya. Bukankah semua hal ini pemicunya? .




Kapitalisme “Si Biang Kerok”

Pada dasarnya kapitalisme ini adalah memisahkan agama dari kehidupan, maka manusia bebas berbuat apa saja, sehingga dibuatlah peraturan oleh manusia, makhluk yang serba terbatas. Peraturan yang dibuat ketika kejahatan sudah terjadi, maka pasti aturan ini tidak benar. Kapitalisme hanya menguntungkan individu saja tanpa memandang apakah baik untuk masyarakat atau tidak, hal ini diambil jika memberi manfaat semata dan negara yang menerapkan kapitalisme ini bekerja untuk kepentingan individu. Seperti dilegalkannya pelacuran untuk menambah pendapatan negara melalui pajak di sisi lain juga menguntungkan sang mucikari, padahal prostitusi termasuk perzinaan yang sangat memungkinkan tindak aborsi. Atau disebarkannya kontenn-konten porno yang merangsang syahwat pemicu kekerasan seksual, hingga terjadilah pemerkosaan kepada saudara sendiri lalu berujung pada aborsi, tentu penyebaran konten porno ini juga mendapatkan keuntungan berjumlah besar. Ketika aborsi dilakukan, bagaimana mungkin rahim akan melahirkan generasi selanjutnya? Sedang akibat dari aborsi adalah merusak reproduksi atau bahkan mengalami kemandulan. sehingga dengan kapitalisme inilah barat mudah menghancurkan negeri-negeri muslim. Karena mereka tahu, ketika muslim telah dijauhkan dari islam maka kaum muslim mudah dikuasai. Dan ketika generasi muda suatu bangsa “diserang” oleh kapitalisme, bangsa itu tidak akan maju bahkan didorong untuk terus - menerus mencintai kefanaan hingga lupa bahwa ia adalah generasi yang akan membawa kegemilangan. 







Sistem Islam solusi segala problematika manusia karena sistem ini diciptakan oleh Allah SWT, dan sepaket dengan peraturan untuk dijalankan. Jadi tidak sepantasnya manusia menyombongkan diri dengan membuat aturan. Sebab Sang Pencipta lebih tahu tentang ciptaanya. Dan satu-satunya aturan yang dapat mengatasi segala macam problematika dalam aspek kehidupan adalah Islam yaitu dengan penerapan hukum-hukum Allah secara keseluruhan dalam bingkai negara Islam. Hal ini tampak ketika Sultan Al-Hajib Al-Mashur yang mengirim pasukan berjumlah besar untuk menghukum kerajaan Navarre yang kala itu menyekap tiga orang muslimah, juga ketika kaum Yahudi Bani Qainuqa yang membunuh seorang pedagang karena membela seorang muslimah yang disingkap pakaiannya, Rasulullah saw sebagai kepala negara pun mengutus sahabat-sahabatnya untuk mengusir mereka dari madinah (Sirah Ibnu Hisyam, 3/9-11). Itulah sistem Islam, yang sangat menjaga kehormatan wanita serta nyawa seseorang. Maka para ulama berpendapat:




Pendapat Pertama :




Menyatakan bahwa menggugurkan janin setelah peniupan roh hukumnya tetap haram, walaupun diperkirakan bahwa janin tersebut akan membahayakan keselamatan ibu yang mengandungnya. Pendapat ini dianut oleh Mayoritas Ulama.




Dalilnya adalah firman Allah swt :




وَلاَ تَقْتُلُواْ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللّهُ إِلاَّ بِالحَقِّ




“ Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. “ ( Q.S. Al Israa’: 33 )




Kelompok ini juga mengatakan bahwa kematian ibu masih diragukan, sedang keberadaan janin merupakan sesuatu yang pasti dan yakin, maka sesuai dengan kaidah fiqhiyah : “ Bahwa sesuatu yang yakin tidak boleh dihilangkan dengan sesuatu yang masih ragu.”, yaitu tidak boleh membunuh janin yang sudah ditiup rohnya yang merupakan sesuatu yang pasti , hanya karena kawatir dengan kematian ibunya yang merupakan sesuatu yang masih diragukan. ( Hasyiyah Ibnu Abidin : 1/602 )

Selain itu, mereka memberikan permisalan bahwa jika sebuah perahu akan tenggelam sedangkan keselamatan semua perahu tersebut bisa terjadi jika sebagian penumpangnya dilempar ke laut, maka hal itu juga tidak dibolehkan.




Pendapat Kedua :




Dibolehkan menggugurkan janin walaupun sudah ditiupkan roh kepadanya, jika hal itu merupakan satu-satunya jalan untuk menyelamatkan ibu dari kematian. Karena menjaga kehidupan ibu lebih diutamakan daripada menjaga kehidupan janin, karena kehidupan ibu lebih dahulu dan ada secara yakin, sedangkan kehidupan janin belum yakin dan keberadaannya terakhir.( Mausu’ah Fiqhiyah : 2/57 )




Prediksi tentang keselamatan Ibu dan janin bisa dikembalikan ilmu kedokteran, walaupun hal itu tidak mutlak benarnya. Wallahu A’lam.[]
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Nurul Izzah: Kapitalisme Perusak Reproduksi Remaja Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com