Latest News
Sunday, April 14, 2019

Rina Tresna Sari, S.Pdi: HAM Senjata Ampuh Hancurkan Ajaran Islam

Rina Tresna Sari, S.Pdi
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Penyebaran virus Islamophobia terus digencarkan di seluruh dunia, syariat Islam seringkali menjadi tertuduh dan berbagai stigma negatif pun serta melekat begitu cepat dan kuat. Ketakutan-ketakutan diciptakan untuk meracuni pikiran-pikiran umat yang memaksa mengadopsi konsep-konsep dunia Barat.  Mulai dari label radikal, teroris,intoleransi dan yang lainnya.

Salah satu upaya stigma tersebut  adalah dengan menjadikan HAM sebagai senjata ampuh bagi kaum liberal dan sekuler untuk menghalangi penegakan syariah. 

Hak Asasi Manusia (HAM) lahir dari dunia Barat (Eropa) pada abad ke 17 oleh seorang filsuf Inggris John Locke, dipengaruhi oleh tiga peristiwa penting di negara barat   yaitu,  peristiwa Magna  Charta,  Revolusi Amerika dan Revolusi Perancis yang bertujuan menjamin dan melindungi hak dasar yang melekat pada setiap individu.

HAM tersebut kemudian diadopsi oleh semua negara di dunia termasuk oleh negara-negara muslim, walaupun konsep tersebut bukanlah konsep yang bersumber dari Al-Quran dan Sunah, melainkan lahir dari buah pikiran manusia. Seiring dengan perkembangannya HAM dijadikan senjata oleh barat untuk menghalangi sebuah negara yang ingin menerapkan hukum yang berlandaskan Al-Quran dan Sunah.

Contoh nyata seperti terjadi pada  Negara Brunei Darussalam yang sejak Rabu 3 April mengesahkan dan memberlakukan UU hukuman rajam  (lempar batu)  sampai mati bagi LGBT,  pelaku perzinaan,  pemerkosa, pelaku sodomi,  perampokan dan penghinaan atau pencemaran nama baik Nabi Muhammad SAW. 

Tidak hanya itu, hukum cambuk di muka umum bagi pelaku aborsi, potong tangan dan kaki untuk pelaku pencurian serta kriminalisasi yang mengeksploitasi anak-anak muslim.

Sejak berlakunya UU tersebut kecaman-kecaman dari berbagai pihak di seluruh dunia terus menghujani Sultan Hassanal Bolkiah. Mulai dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menganggap kebijakan tersebut kejam dan tidak manusiawi.

Melalui kepala urusan HAM di PBB, Michelle Bachelet yang mendesak pemerintahan Brunei untuk menghentikan berlakunya KUHP baru yang "Kejam" tersebut. "jika diterapkan, ini menandai kemunduran serius tentang Hak Asasi Manusia bagi rakyat Brunei,  kata Bachelet" (Merdeka.com 02/04)

Sementara itu demonstrasi di depan hotel mewah Park Lane milik Brunei di pimpin oleh aktivis pembela hak-hak gay. Peter Tatchell dengan membawa bendera pelangi spanduk dan plakat. mengecam Sultan Hassanal yang menerapkan hukum syariah secara ketat. Pedemo menuding tindakan Sultan Hassanal meniru hukuman barbar kelompok Islamic State (ISIS) di Irak dan Suriah.

Tuntutan dan seruan untuk mencabut beberapa gelar kehormatan Sultan selain datang dari para pendemo juga dari beberapa Universitas terkemuka seperti Oxford University, University Of Aberdeen dan King's Collage London (KCI).

Desakan pemboikotan hotel-hotel mewah milik Brunei yang berada di berbagai negara,  termasuk Dorchester London dan 45 Park Lane datang dari selebriti termasuk Sir Elton John,  George Clooney dan Ellen Degeneres (07/04).

Begitu cepat, banyak, dan besarnya reaksi gelombang protes yang mengecam Brunei dengan mayoritas penduduk muslim ketika menerapkan UU sesuai dengan ajaran Islam.

Melihat aksi dunia terhadap UU yang baru di berlakukan kesultanan Brunei, mereka tak sadar bahwa sesuatu sangat bertolak belakang dengan reaksi protes yang mereka lakukan, mereka juteru berdiam diri tanpa reaksi apapun  terhadap pembunuhan,  pembantaian dan penyiksaan umat Islam yang terus menerus dilakukan secara biadab dan tidak manusiawi oleh orang-orang kafir di berbagai belahan dunia.

Bahkan lembaga internasional semacam PBB yang seharusnya menjaga perdamaian dunia dan melindungi HAM setiap negara justru menunjukan sikap sigap dan sangat reaktif ikut mengecam keras  menolak diterapkanya hukum Islam oleh umat muslim di Brunei. Jelas, ini bentuk penjajahan barat dengan menggunakan lembaga internasional PBB sebagai alat legitimasi untuk menanamkan nilai-nilai sekuler di negara-negara dengan mayoritas muslim.

Maka sudah sepatutnya kita pertanyakan, bukankah kebebasan memeluk agama dan menjalankan ibadah juga merupakan Hak Asasi Manusia? Bukankah menerapkan hukum-hukum yang bersumber dari perintah agama merupakan bentuk ibadah suatu agama? Namun ini tampaknya tidak berlaku bagi umat Islam. 

Islam mengajarkan bahwa menjalankan hukum-hukum Allah SWT adalah sebuah kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.  Karena hak mutlak pembuat hukum itu adalah Sang Pencipta. Manusia tidak diberikan hak sedikitpun untuk membuat hukum untuk dirinya sendiri.

Melihat semua ini, seharusnya umat Islam sadar penanaman Islamophobia  sudah begitu gencar di kampanyekan sehingga penerapan ajaran Islam yang Allah SWT perintahkan malah menuai berbagai kecaman.

Sudah sepatutnya umat Islam di seluruh dunia menyadari sepenuhnya akan pentingnya untuk bersatu dan membangun persatuan. Menerapkan hukum Islam secara Kaffah di setiap lini kehidupan. Bangkit dan bergandeng tangan melawan penjajahan dunia Barat melalui lembaga-lembaga internasionalnya. Waalahu a'lam bishowab.[]

Penulis adalah praktisi pendidikan dan member Akademi Menulis Kreatif (AMK) chapter Bandung

  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Rina Tresna Sari, S.Pdi: HAM Senjata Ampuh Hancurkan Ajaran Islam Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com