Latest News
Sunday, April 14, 2019

Siti Aisah: Lagi, Banjir Sistemik

Siti Aisah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Banjir seperti tamu yang datang setiap musim  penghujan tiba. Sebanyak tiga kecamatan di Kabupaten Bandung terendam banjir luapan Sungai Citarum, Jumat (5/4/2019). Ketiga kecamatan yang terendam banjir ini terdiri dari Kecamatan Baleendah, Dayeuhkolot, Bojongsoang (Bandung.Kompas.com 5/4/2019) Kepala Bidang Kedaruratan Logistik BPBD Kabupaten Bandung, Sudrajat mengatakan, banjir ini disebabkan oleh hujan dengan intensitas tinggi yang merata terjadi di wilayah Kabupaten Bandung dan Kota Bandung. Salah satu lokasi yang terdampar banjir adalah Kampung Cigosol RW 09 dan Kampung Ciputat RW 13. Lokasi ini terendam banjir dengan ketinggian air mencapai 60-240 sentimeter.

Dilansir dari media yang sama,  ada beberapa warga disana harus diungsikan ketempat yang lebih aman. Pemerintah melalui petugas gabungan telah menyediakan tempat seperti di Aula Desa, Masjid Gedung Inkanas, hingga Balai RW. Pak Sudrajat pun mengatakan bahwa “Total yang terdampak ada 14.092 kepala keluarga, 37,731 jiwa”. Tidak sampai disitu, ada dua jalan utama di Kabupaten Bandung yang lumpuh akibat terendam air. Jalan Dayeuhkolot - Bandung, Katapang – Andir, juga sekitaran jalan tersebut yang memiliki ketinggian di atas 80 cm ke atas, itu total  tidak bisa dilalui kendaraan. 

Awal April 2019 banjir kembali terjadi di kawasan timur. Banjir ini terjadi akibat tanggul di SDN 106 Ajitunggal, Kecamatan Ujung Berung, Kota Bandung jebol akibat terjadi backwater dari rubuhnya kirmir yang tak jauh dari sekolah. Beruntung tidak ada korban dalam kejadian tersebut. Menurut Didi Ruswandi Penanganan banjir di dalam kota akan disiapkan konsep rain water foresting atau pemanenan air hujan. Sementara untuk Kawasan Bandung Utara (KBU), ia sudah berkoordinasi dengan Pemprov Jabar agar mencari lahan untuk kolam retensi. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Bandung ini pun menambahkan bahwa harus ada sekiranya lahan (untuk retensi). 

Karena kalau penghijauan itu butuh waktu cukup lama. jadi konsepnya resapan. Inilah jalan yang terbaik untuk jangka pendek. Karena ketika hujan lebat terjadi didaerah KBU  maka kemungkinan terjadinya banjir ada. Selain hal tersebut pihaknya juga sedang melakukan survei untuk menempatkan rumah pompa di sekitar timur Kota Bandung. Nantinya rumah pompa tersebut berfungsi memperlancar aliran air dan tidak menyebabkan backwater atau sumbatan. (Kompas.com 7/4/2019) 

Fakta diatas hanya salah satu contoh banjir yang seakan-akan tidak pernah luput ketika hujan datang. Selain itu ada beberapa keluhan yang dilontarkan bukan hanya dari segi transportasi yang lumpuh saja, tapi berdampak pula pada bidang perindustrian,  pendidikan, dan keamanan masyarakat pada umumnya.  Tak hanya itu khususnya adalah ibu-ibu rumah tangga yang harus ekstra membersihkan rumah ketika tamu langganan musim hujan itu  tiba. Jika banjir hanya insidental, maka itu adalah persoalan teknis. Akan tetapi jika banjir ini selalu terjadi berulang dan semakin lama makin parah, maka ini pasti persoalan sistemik. 

Artinya banjir sistemik dapat diselesaikan dengan proyek bendungan baru, pompa baru, kanal baru dan lainnya yang berkaitan langsung dengan sistem-teknis. Begitulah analisis yang dituturkan oleh prof Famhi amhar. (Mediaumat.com, 21/2/2013). Tapi penanggulangan banjir sistemik ini belum terlihat titik terang. Seakan-akan pemerintah menanganinya dengan setengah hati. Karena disisi lain pemerintah pun dengan gampang mengeluarkan izin pembangunan Villa atau kawasan yang seharusnya menjadi sumur resapan,  tapi beralih fungsi menjadi pemukiman elite yang berlatar pemandangan pegunungan nan indah, menjamur didaerah Kawasan resapan air. 

Oleh karena itu peristiwa ini bukanlah peristiwa alam biasa. Tapi seperti peringatan keras terhadap negeri ini karena kemaksiatan yang mulai tampak terang-terangan. Mulai dari korupsi perizinan lahan, lalu ditambah dengan maraknya riba yang haram tapi dimodifikasi seperti halal. Dan perilaku kaum sodom yang sekarang eksistensinya ingin diakui. Banjir kali ini semoga menjadi perhatian serius dari pemerintah, agar tidak menjadi tamu yang tidak diundang di musim hujan. Apalagi saat ini akan menjelang musim pemilu. Masyarakat harus lebih kritis terhadap sistem sekarang ini. Jadi tidak sekedar ganti pemimpin saja, tapi harus mendasar yaitu sistem yang sistemik asli dari Sang Pembuat Hukum. 

Pemimpin dalam islam atau bisa disebut Khalifah ataukah penguasa dalam  Negara Islam (Khilafah). Tapi jangan dibayangkan sama dengan penguasa-penguasa negeri Muslim hari ini yang hanya sibuk dengan pencitraan dan bermental pedagang dengan rakyatnya. Sehingga kegiatan untuk mengurusi rakyat tidak lagi menjadi hal utama dalam pemerintahannya. 

Terhadap banjir, Khilafah akan melakukan langkah pencegahan dengan membangun sistem drainase yang berkualitas dan profesional. Dalam hal kebijakan politik, Khilafah juga dengan serius memperhatikan daerah-daerah yang menjadi daerah resapan, daerah cagar alam dengan mengeluarkan Undang-Undang tentang perizinan membangun bangunan, dsb. 

Ketika banjir itu akhirnya terjadi, maka dengan cepat Khilafah akan segera bertindak dengan melibatkan seluruh warga yang dekat dengan daerah bencana.  Khilafah menyediakan tenda, makanan, pakaian, dan pengobatan yang layak agar korban bencana alam tidak menderita kesakitan akibat penyakit, kekurangan makanan, atau tempat istirahat yang tidak memadai. Selain itu, Khalifah akan mengerahkan para alim ulama untuk memberikan taushiyyah-taushiyyah bagi korban agar mereka mengambil pelajaran dari musibah yang menimpa mereka, sekaligus menguatkan keimanan mereka agar tetap tabah, sabar, dan tawakal sepenuhnya kepada Allah swt.  

Tapi ketika Harapan penanganan banjir ini masih pada negara dan penguasa sekuler yang masih mendewakan demokrasi. Mungkin karena ketidak tahuannya tentang keborokan demokrasi ataukah karena berhasil menikmati haramnya demokrasi.  Harapan ini hanya akan berujung pada pengharapan yang sia-sia. Cukuplah hari ini pemerintah bekerja tambal-sulam, mengatasi banjir. Saatnya kita bekerja cerdas dengan meninggalkan jauh sistem Sekuler – Kapitalis – Demokrasi dan kembali pada Ideologi Islam yang paripurna. Sungguh Indonesia pasti lebih baik dengan Khilafah.  Wallahu ‘alam bi ash- shawab.[]

Penulis adalah anggota AMK Bandung
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Siti Aisah: Lagi, Banjir Sistemik Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com