Latest News
Monday, April 15, 2019

SW. Retnani, S.Pd: Khilafah Dan Indahnya Kebersamaan

SW. Retnani, S.Pd:
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau-pulau besar dan kecil, menjadi salah satu faktor timbulnya berbagai suku, budaya, agama, bahasa, adat istiadat, warna kulit dll. Keberagaman ini menjadi daya tarik tersendiri bagi negeri kita.

Khasanah nusantara dapat memberikan energi positif bagi negara kita, namun tak dapat dipungkiri adanya energi negatif yang siap menghancur-leburkan negeri ini. Maka keberagaman ini harus senantiasa didampingi dengan toleransi. Sehingga  keberagaman di nusantara menjadi penguat bangsa, bukan malah menjadi pemecah- belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Toleransi digadang-gadang untuk mempersatukan seluruh keberagaman di nusantara. Tetapi kehadiran toleransi dibayang-bayangi oleh sistem kapitalis -demokrasi. Sistem yang melahirkan paham -paham sekularisme dan pluralisme, sehingga toleransi saat ini telah melanggar kaidah-kaidah Islamiyah. Seperti toleransi beragama, sebagian umat Islam tidak memahami batas-batas toleransi, sehingga sering terjadi pelanggaran-pelanggaran aturan Islam oleh kaum muslim itu sendiri. Misalnya, dalam perayaan agama dan budaya selain Islam, kaum muslimin berlindung dengan payung toleransi.  

Akibat yang terjadi seperti: memberikan ucapan selamat natal, ikut dalam perayaan natal dan tahun baru, perayaan Valentine day, memperingati ulang tahun dengan memakai topi kerucut dan meniup lilin dan masih banyak lagi "toleransi salah kaprah" yang dilakukan oleh sebagian kaum muslim.

Adanya keberagaman dalam suatu negeri dan toleransi sebagai pemersatunya, telah dicontohkan oleh tauladan kita, junjungan kita, nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Saat itu Daulah Islamiyah yang dipimpin Rasulullah SAW yang tepatnya berada di kota Madinah, penduduknya terdiri dari orang-orang yang beragama Islam, Nasrani Yahudi dan kafir penyembah berhala. Setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam wafat, kepemimpinan digantikan oleh para sahabatnya yakni ke-4 orang terdekat Rasulullah SAW, yang bergelar Khulafaur Rasyidin dan dilanjutkan oleh para khalifah- khalifah lainnya.

Indahnya Khilafah dalam menjaga kebersamaan dalam keragaman atau pluralitas telah dirasakan bahkan oleh orang-orang yang bukan pemeluk agama Islam. Jaminan keamanan dan kesejahteraan orang-orang yang bukan beragama Islam, keluar langsung dari ucapan Mulia Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:

"Siapa saja yang menyakiti kafir maka Aku berperkara dengan dia, siapa saja yang berperkara dengan aku maka aku akan memperkarakan dia pada hari kiamat" (hadits hasan).

Tinta emas sejarah telah menuliskan kejayaan Khilafah selama kurang lebih 13 abad dan mencapai kurang lebih dua pertiga dunia. Ini menjadi bukti konkret bahwa keadilan, kedamaian dan kesejahteraan yang telah disebarkan Khilafah telah menyelimuti seluruh penduduknya.

Namun sayangnya, dengan bukti dan kenyataan yang begitu banyak, masih saja ada orang yang menolak serta membenci Khilafah. Herannya lagi, yang mengeluarkan statement ini adalah orang yang beragama Islam dan parahnya lagi, Ia seorang yang memiliki gelar Profesor. Sebagaimana dilansir dari nasional.kompas.com bahwa sistem negara Pancasila Khilafah sebagai sistem pemerintahan adalah ciptaan manusia yang isinya bisa bermacam-macam dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat. 

Di dalam Islam tidak ada sistem ketatanegaraan dan pemerintahan yang baku. Umat Islam Indonesia boleh mempunyai sistem pemerintahan sesuai dengan kebutuhan dan realitas masyarakat Indonesia sendiri. Para ulama yang ikut mendirikan dan membangun Indonesia menyatakan, negara Pancasila merupakan pilihan final dan tidak bertentangan dengan syariah sehingga harus diterima sebagai mietsaaqon ghaliedzaa atau kesepakatan luhur bangsa.  

Saya tak perlu membuktikan apa-apa bahwa sistem pemerintahan Islam seperti khilafah itu tidak ada yang baku karena memang tidak ada. Justru yang harus membuktikan adalah orang yang mengatakan, ada sistem ketatanegaraan atau sistem politik yang baku dalam Islam.Tidak ada dalam sumber primer Islam sistem yang baku. Semua terserah pada umatnya sesuai dengan keadaan masyarakat dan perkembangan zaman. Bahwa di kalangan kaum Muslimin sendiri implementasi sistem pemerintahan itu berbeda-beda sudahlah menjadi bukti nyata bahwa di dalam Islam tidak ada ajaran baku tentang khilafah.  

Yang dimaksud sistem khilafah itu adalah sistem kekhalifahan yang banyak tumbuh setelah Nabi wafat, maka itu pun tidak ada sistemnya yang baku. Di antara empat khalifah rasyidah atau Khulafa’ al-Rasyidin saja sistemnya juga berbeda-beda. Yang mana sistem khilafah yang baku? Tidak ada, kan? Yang ada hanyalah produk ijtihad yang berbeda-beda dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat. 

Ia merupakan produk ijtihad yang dibangun berdasar realitas masyarakat Indonesia yang majemuk, sama dengan ketika Nabi membangun Negara Madinah. Berbahaya Para pendukung sistem khilafah sering mengatakan, sistem negara Pancasila telah gagal membangun kesejahteraan dan keadilan. Kalau itu masalahnya, maka dari sejarah khilafah yang panjang dan beragam (sehingga tak jelas yang mana yang benar) itu banyak juga yang gagal dan malah kejam dan sewenang-wenang terhadap warganya sendiri. 

Semua sistem khilafah, selain pernah melahirkan penguasa yang bagus, sering pula melahirkan pemerintah yang korup dan sewenang-wenang.Kalaulah dikatakan bahwa di dalam sistem khilafah ada substansi ajaran moral dan etika pemerintahan yang tinggi, maka di dalam sistem Pancasila pun ada nilai-nilai moral dan etika yang luhur. Masalahnya, kan, soal implementasi saja. Yang penting sebenarnya adalah bagaimana kita mengimplementasikannya.  

Berdirinya negara khilafah transnasional dari Asia Tenggara sampai Australia, saya mengatakan bahwa gerakan itu berbahaya bagi Indonesia. Kalau ide khilafah diterima, di internal umat Islam sendiri akan muncul banyak alternatif yang tidak jelas karena tidak ada sistemnya yang baku berdasar Al Quran dan Sunah. Situasinya bisa saling klaim kebenaran dari ide khilafah yang berbeda-beda itu. Potensi kaos sangat besar di dalamnya.  Para ulama dan intelektual Muslim Indonesia sudah lama menyimpulkan demikian. Moh Mahfud MD. Kompas edisi 26 Mei 2017, di halaman 6 dengan judul "Menolak Ide Khilafah"

Aneh, belum juga paham dan mengkaji tentang ideologi Khilafah, sistem ekonominya, budayanya, sosialnya, pertahanan dan keamanannya, bagaimana hukum- hukum yang diterapkannya dan lain-lain. Tapi secara sombong telah menolak Khilafah, harusnya ia mengkaji dulu, memahaminya, menelaaah dan mendiskusikannya terlebih dahulu. Jangan asal mengatakan tuduhan- tuduhan keji.  Khilafah sangat paham dengan pluralitas. Begitu juga dengan versi jahatnya yaitu pluralisme. Terlihat memang serupa, namun ini adalah 2 kata yang sangat bertentangan.

Khilafah akan sangat menjaga keberagaman atau pluralitas. Khilafah tidak akan mendiskriminasi rakyat nonmuslim. Khilafah tidak akan memaksa seluruh rakyatnya wajib beragama Islam, sebab dalam Islam diajarkan bahwa tidak ada paksaan untuk masuk Islam.
Allah SWT berfirman:

لَاۤ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِ  ۗ  قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ  ۚ  فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَا  ۗ  وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

"Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat: 256).

Allah SWT Maha Adil.

وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَاٰمَنَ مَنْ فِى الْاَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيْعًا   ۗ  اَفَاَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتّٰى يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ

"Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di Bumi seluruhnya. Tetapi apakah kamu (hendak) memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman?"
(QS. Yunus 10: Ayat 99).

Indahnya Kebersamaan dan keragaman dalam Khilafah sangat jauh berbeda Apabila dibandingkan dengan keberagaman dalam sistem kapitalis sekulerisme sesungguhnya keberagaman Ini mengandung bahaya penghalalan yang haram dan mengharamkan yang halal misalnya perilaku lgbt aliran sesat pemikiran-pemikiran kufur dan lain-lain akan tumbuh subur di dalam sistem kufur saat ini.

Berbeda jika sistem yang diterapkan adalah sistem Islam dalam naungan Khilafah Rasyidah ala minhaj an-nubuwwah. Realitas atau keberagaman penduduknya dipandang sebagai suatu realitas yang akan dikelola dengan tuntunan syara'. Untuk melahirkan kebahagiaan dan kesejahteraan tanpa adanya diskriminasi serta pemaksaan terhadap minoritas. Bukankah Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menjadikan suatu kedamaian dan kesejahteraan apabila penduduk negeri beriman dan bertakwa.  Allah SWT berfirman:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰۤى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ  مِّنَ السَّمَآءِ وَالْاَرْضِ وَلٰـكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا  كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan."(QS. Al-A'raf 7: Ayat 96).Wallahu A'lam Bishawab.[]

Penulis adalah anggota AMK, Bandung
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: SW. Retnani, S.Pd: Khilafah Dan Indahnya Kebersamaan Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com