Latest News
Monday, May 27, 2019

Hawilawati, S.Pd*: Lobi Politik Meminta Jabatan, Bolehkah?

Hawilawati, S.Pd
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Fenomena yang kerap kali kita saksikan di alam demokrasi adalah pasca pemilu untuk memilih orang nomor satu yang akan duduk di kursi kekuasaan, kemudian  bersiap diikuti  para elit politik melobi-lobi sang penguasa untuk diberikan jabatan. Bagaimana Islam menyikapi fenomena tersebut?

Dalam kitab Ajhizah Daulatu Alkhilafati karya Syeikh Taqiyuddin An-Nabahani, status para pejabat selain sebagai Ajir (pekerja) pada saat yang bersamaan juga  sebagai pelayan atau pengurus umat. Mereka akan memiliki tugas dan kewajiban sesuai dengan departeman masing-masing yang akan mengontrol kepala jawatan dan unit. 

Jabatan dalam Islam bukanlah perkara sepele dan main-main melainkan sebuah amanah yang harus dijalankan penuh keterikatan terhadap hukum-hukum syariah  bukan yang lain.  

Orang yang akan duduk sebagai pejabat adalah mereka yang cakap atau memiliki keahlian di bidangnya. Dengan kapasitasnya itu sang pejabat mampu memberikan pelayanan untuk kepentingan rakyat secara profesional sehingga mempermudah terpenuhinya kebutuhan rakyat. 

Kinerja para pejabat dalam sebuah pemerintahan mencerminkan kualitas penguasanya. Jika ingin mengenal penguasa suatu bangsa maka lihatlah para pejabatnya.  Pejabat akan bekerja dan menjalankan amanah dengan adil, jujur, bersih, tak luput dari kontrol penguasanya. Para pejabat yang tidak amanah maka penguasa tak akan segan-segan meluruskannya bahkan bisa sampai menon aktifkannya.

Dalam islampun tidak diperkenankan manusia berambisi untuk meminta jabatan, karena ini perkara yang tidak main-main dan kekuasaan bukanlah ajang untuk berbagi jabatan yang dapat meraup keuntungan duniawi. Dalam kaitan ini, Rosulullah SAW pernah menasihati salah satu sahabatnya dalam sebuah  hadits :

"Wahai Abdurrahman bin Samurah! Janganlah kamu meminta untuk menjadi pemimpin. Sesungguhnya jika kepemimpinan diberikan kepadamu karena diminta, maka kamu akan memikul tanggung jawab sendirian, dan jika kepemimpinan itu diberikan kepadamu bukan karena diminta, maka kamu akan dibantu untuk menanggungnya.” (HR. Bukhari-Muslim)

Begitupun Abu Dzar Al-ghifary saat menghadap Rosulullah untuk meminta jabatan agar dapat berkontribusi lebih besar lagi kepada umat, Rosulullah SAW mengingatkannya  sambil menepuk pundak Abu Dzar.

“Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah, sementara kepemimpinan itu adalah amanat. Pada hari kiamat nanti, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut,” (HR Muslim)

Hadits tersebut menunjukkan bahwa tidak dibenarkan seseorang berambisi meminta jabatan apalagi jabatan itu dilaksanakan tidak berdasarkan kitabullah dan Sunnah Rosulullah, kelak akan membahayakan dirinya.

Ragam jabatan banyak sekali dalam sebuah institusi, sebut saja jabatan sebagai qodhi (hakim).jika qodhi tidak berlaku adil maka balasan dari Allah tidaklah main-main yaitu api neraka, sebagaimana dikatakan dalam sebuah hadits;

"Barang siapa meminta menjadi qadhi (hakim) bagi kaum Muslimin sampai dia memperoleh jabatannya itu, kemudian keadilannya (dalam memutuskan hukum) mengalahkan kecurangannya, maka baginya adalah surga. Dan barang siapa kecurangannya (dalam memutuskan hukum) mengalahkan keadilannya, maka baginya adalah neraka." (HR Abu Dawud)

Dalam islam, jabatan merupakan sebuah tanggung jawab yang sangat besar dan ini akan mencerminkan para pejabat  yang baik dan bertindak sangat hati-hati. Ia bekerja bukan semata berorientasi materi duniawi tetapi memberikan pelayan terbaik kepada rakyat agar terpenuhi segala kebutuhannya. Tentu kasus korupsi dan gratifikasi (risywah) atau kerusakan perilaku pejabat lainnya tidak  akan ditemui dalam institusi yang kuat dengan penguasa tegas  yang mengontrol para pejabatnya sesuai dengan syariat Allah. 

Jika syariat Allah mampu ditegakkan dalam melayani  rakyat  maka semua akan merasakan maslahat dan rahmat Allah SWT baik penguasanya, pejabatnya, maupun rakyatnya, baik muslim maupun non muslim yang hidup di dalamnya. Wallahu'alam Bishowwab.[]

*Praktisi pendidikan, guru STP-SD Khairu Ummah, Ciledug, Tangerang
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Hawilawati, S.Pd*: Lobi Politik Meminta Jabatan, Bolehkah? Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com