Latest News
Wednesday, May 15, 2019

Hawilawati, S.Pd*: Tanggung Jawab Negara Mencetak Guru dan Generasi Berkualitas

Hawilawati, S.Pd
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA -  Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani mewacanakan akan mengimpor guru dari luar negeri untuk menjadi tenaga pengajar di Indonesia. Menurut Puan, saat ini Indonesia sudah bekerja sama dengan beberapa negara untuk mengundang para pengajar, salah satunya dari Jerman. Lebih lanjut, Puan mengatakan jika para tenaga pengajar asing tersebut mengalami kendala bahasa, mereka akan diberi fasilitas penerjemah serta perlengkapan alih bahasa (Tirto.id 12/05/2019)

Puanpun mengatakan, para guru yang didatangkan ke Indonesia itu nantinya akan memberi pelatihan keterampilan mengajar kepada guru Indonesia. Selain itu, mereka juga akan diberi kesempatan mengajar langsung para peserta didik.

Terlepas pro dan kontra pernyataan Puan memang kewajiban negaralah meningkatkan kualitas kaum guru. Guru merupakan komponen terpenting dalam dunia pendidikan, tanpa seorang guru maka ilmu akan sulit tersebar dan tersampaikan kepada masyarakat. Guru memiliki tugas yang mulia, ia akan melahirkan pemimpin dan manusia beradab masa depan yang akan mampu membangun peradaban bangsanya.

Peran guru tak hanya sekedar mentransfer ilmu saja kepada peserta didik, tapi ia juga harus  menjadi role model bagi generasi. Karenanya potensi yang dimiliki guru harus senantiasa diupgrade  skill dan kompetensinya. Disinilah peran negara melahirkan guru handal berkualitas, tanpa terkecuali apakah guru PNS, honorer atau swasta. Karena tugas mereka sama yaitu mencerdaskan anak bangsa yang merupakan aset negara. Bagi sebuah negara yang peduli pendidikan, tentu akan sangat mengapresiasi besar jasa kaum guru, dengan terus menjaga perannya sebagai pendidik generasi, dengan  memperhatikan kesejahteraan hidupnya agar fokus menjalankan tugasnya.

Dunia pendidikan  kini gagal melahirkan generasi berkualitas yang berkarakter unggul dan kian tingginya output pendidikan hanya menambah angka pengangguran dari tahun ke tahun. Kegagalan itu semua bukan semata-mata dari kaum guru yang mendidiknya, tapi banyak faktor dan diakibatkan pula lemahnya fungsional di luar sekolah yaitu masyarakat rusak yang tidak mendidik dan hanya membebani peran sekolah dalam memperbaiki karakter generasi.

Adapun  faktor utama kegagalan itu tidak lain adalah akibat sistem pendidikan sekuler yang sudah sekian lama diadopsi negeri ini dan dengan demikian  hanya menghasilkan berbagai komponen pendidikan dan output yang lemah.

Tinta emas sejarah telah menggoreskan  peradaban Islam yang begitu masyhur di dunia. Eropa dan Barat banyak belajar dari kemajuan Islam tak terkecuali sistem pendidikannya. 

Khalifah sangat menaruh perhatian besar terhadap  pendidikannya. Ia pun sangat mencintai ilmu dan orang yang menyampaikan ilmu (guru) dengan apresiasi yang besar dan terbaik. 

Untuk memajukan pendidikan maka Daulah Islam sangat memperhatikan beberapa komponen pendidikannya, di antaranya :

1.Tujuan pendidikan

Kurikulum pendidikan Islam diletakkan dalam asas aqidah Islam yang mampu melahirkan manusia unggul  bersyakhsiyyah Islamiyyah (berfikir dan berprilaku Islam) menguasai berbagai ilmu syar'i hingga terjaga ketakwaannya. Generasi terbina agar cerdas akalnya, sholih dan mushlih jiwanya serta sehat fisiknya. 

Orientasi atau arah pendidikan Islam  tak hanya sekedar mampu bersaing di dunia kerja atau industri untuk meraih materi sebanyak-banyaknya, tapi orientasi sistem pendidikan Islam adalah ukhrowi, hingga sangat terlihat dari muatan mapel yang disusun kaya akan nilai-nilai agama yang akan menjadi bekal generasi menuju kehidupan akhirat.

Pada masa Harun Ar-Rasyid, generasi di usia belianya sudah menguasai ilmu fikih, hadits dan Al-Qur'an. Bahkan saat yang bersamaan lahir generasi yang ahli di bidang kedokteran, astronomi, pertanian, sainstek, bisa dikatakan banyak lahir polymath (menguasai banyak bidang ilmu). Apa rahasianya? Tidak lain karena kepedulian Khalifah terhadap ilmu, guru dan generasinya. 

Terbukti pada masa kegemilangan Islam tersebut terbentuk masyarakat yang cerdas dan  taat yang selalu terjaga dirinya dengan  keyakinannya terhadap sang Khaliq. Segala amalan terkait dengan syariat Allah sebagai efek dari setiap ilmu yang diberikan kepada masyarakat. 

2. Pendidik (guru)

Orang yang berperan sebagai pendidik di antaranya adalah guru, civitas sekolah, orangtua dan masyarakat, semua bersinergi satu dengan yang lainnya untuk mencapai tujuan pendidikan.

Bagi khalifah, marwah seorang guru begitu tinggi hingga harus mendapatkan kedudukan yang dihormati. Perhatian khalifah terhadap guru juga dengan mensejahterakan dan mencukupi  kebutuhan anak-anak guru, sehingga guru fokus dan full untuk mendedikasikan ilmunya untuk pendidikan.

Pada masa Khalifah Umar bin Khatthab  guru kanak - kanak mendapatkan gaji sebesar 15 dinar (1 dinar = 4,25 gram emas). Jika dikonversikan  dengan rupiah sekarang sekitar Rp 38.250.000,-

Pada masa Daulah Abbasiyah tunjangan guru sangatlah besar, sebagaimana Zujaj menerima 200 Dinar setiap bulannya. Sementara Ibnu Duraid menerima gaji sebesar 50 Dinar pada masa Khalifah Al- Muqtadir.

Dari mana Khilafah Islam mampu membiayai pendidikannya? Tidak lain dari kekayaan alam (SDA) yang dikelolahnya, hingga  Baitul mal memiliki banyak pemasukan untuk membiayai pe-riayahan (pengurusan) kebutuhan rakyatnya secara baik. Sehingga SDA tidak akan diperbolehkan untuk diprivatisasi atau diswastanisasi apalagi dikelola oleh asing karena akan menghambat pemasukan negara yang digunakan untuk kesejahteraan rakyat tak terkecuali kaum guru.

Kualitas guru saat itu terjaga dengan diupgrade kompetensi dan kesholihan jiwanya dengan biaya yang telah dialokasikan negara, seperti  para pendidik di fasilitasi  belajar berbagai bahasa dan ilmu yang dibutuhkan, serta di dorong memiliki karya dengan menghasilkan berbagai buku-buku brilian.

3. Peserta didik

Bukti kecintaan Khalifah kepada ilmu, juga mempermudah ilmu tersampaikan kepada  rakyatnya melalui aktivitas belajar. Pendidikanpun ditetapkan sebagai kebutuhan primer yang harus diurusi sebaik-baiknya dan dimiliki oleh setiap warganya tanpa terkecuali. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW : 

“Seorang Imam (khalifah/ kepala negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggung-jawaban atas urusan rakyatnya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di saat Eropa masih buta baca tulis, Islam sudah jauh lebih dahulu mengajarkan baca tulis kepada seluruh rakyatnya. Tak ada rakyat yang sulit belajar  atau tidak belajar, karena penguasa telah memberikan fasilitas belajar untuk mencerdaskan rakyatnya.

Pada masa Daulah Islam,  diminimalisir perolehan segala sesuatu dari luar wilayah Daulah (import), jangankan tenaga pendidik, bahan makanan pokok saja Daulah akan mengoptimalkan eksplorasi sumber alam yang dimiliki  di dalam wilayahnya sendiri (lokal). Tujuannya untuk mempermudah perolehan bahan makanan pokok sehingga tidak terjebak dalam ketergantungan komoditas import (food trap). Begitupun tenaga pendidik lokal akan diupgrade kemampuan dan potensinya agar memenuhi standar pendidik yang berkualitas yang dibutuhkan negara dan memberdayakan tenaga pendidik yang ada agar tidak terus bergantung kepada asing yang akan membahayakan kemandirian bangsa.

Sudah selayaknya penguasa mengadopsi pendidikan yang berasaskan Aqidah Islam dan mengupgrade kualitas guru dengan ilmu-ilmu mumpuni yang dibutuhkan dan mengapresiasi jasanya dengan kesejahteraan yang layak. 

Dan arah pembuatan kurikulumpun tidak cukup dititikberatkan melahirkan generasi siap kerja (berorientasi materi) tapi mampu melahirkan generasi berkepribadian  Islam (berorientasi ukhrawi) yang siap menguasai berbagai bidang ilmu syar'i hingga  mampu membangun bangsanya dengan nilai-nilai Islam yang mendatangkan kemaslahatan kehidupan dan generasipun siap menerima tantangan zaman.

Dan sejatinya sistem pendidikan Islam yang berkualitas dan idealisme  itu hanya bisa diterapkan dalam institusi berkualitas juga yaitu Khilafah Islamiyyah. Wallahu'alam Bishowwab.[]
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Hawilawati, S.Pd*: Tanggung Jawab Negara Mencetak Guru dan Generasi Berkualitas Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com