Latest News
Tuesday, May 28, 2019

Nanik Farida Priatmaja, S.Pd*: Tak Ada Negara Mitra Strategis

Nanik Farida Priatmaja, S.Pd
RADARINDONESIANEWS.COM JAKARTA - Indonesia kaya akan hasil tambang. Dari Sabang hingga Merauke terdapat aneka jenis SDA yang melimpah. Hal ini seharusnya menjadikan negeri ini makmur dan sejahtera. Ironisnya melimpahnya SDA tak berpengaruh terhadap kesejahteraan rakyatnya. Dengan dalih ketidakmampuan anak negeri mengelola SDA, akhirnya penguasa negeri ini banyak menjadikan asing ataupun swasta sebagai mitra dalam mengelolanya. Tak sedikit saham perusahaan-perusahaan tambang dimiliki asing ataupun swasta. Sehingga negara hanya mendapatkan sekian persen yang sangat jauh dari keuntungan yang didapat oleh perusahaan asing.

Menteri Badan Usaha Milik Negara RI Rini Soemarno terus mendorong Holding Industri Pertambangan PT Inalum (Persero) untuk meningkatkan nilai tambah produk tambang tanah air dengan melakukan hilirisasi.

“Sektor tambang Indonesia memiliki potensi yang besar. Dengan menggandeng mitra strategis ini, Holding Industri Pertambangan Inalum bisa memiliki akses ke teknologi yang dibutuhkan untuk hilirisasi sehingga industri pengolahan tambang domestik bisa berkembang dan memberikan lebih banyak nilai tambah, dan nilai ekspor produk tambang Indonesia bisa melesat,” kata Menteri BUMN Rini Soemarno dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (17/5).

Dalam kunjungan kerjanya ke China pada Jumat (17/5), Menteri Rini bertemu dengan beberapa calon mitra strategis Inalum, salah satunya Zhejiang Huayou Cobalt Company Ltd., produsen terbesar di dunia untuk material baterai yang digunakan untuk kendaraan listrik.

Menteri Rini mengatakan, penjajakan kerja sama ini dilakukan agar Holding Industri Pertambangan bisa memiliki mitra strategis dalam bidang teknologi dan pengembangan demi mempercepat realisasi hilirisasi tambang di Indonesia.(Aktual.com, 17/05/19).

Keberadaan mitra strategis dinilai akan menguntungkan negara dalam mengelola SDA. Padahal selama negeri ini merdeka, telah banyak melakukan kerjasama dengan asing ataupun swasta dalam pengelolaan tambang. Namun hasilnya tak banyak menguntungkan negara. Hal ini disebabkan oleh sistem neoliberalisme yang dianut negara yang dijadikan mitra. Ironisnya dianggap sebagai mitra strategis. Misalnya saja Freeport, telah puluhan tahun negara ini bermitra dengan perusahaan milik AS tersebut. Faktanya tak banyak menguntungkan bagi negara. Malah efek kerusakan lingkungan telah menyiksa penduduk sekitar Papua.

Kemandirian sebuah negara dalam mengelola SDA sangat ditentukan oleh sistem yang dianut negara tersebut. Sistem ekonomi neoliberal telah berhasil mencekik kemandirian negeri ini. Bermitra dengan negara nomor satu penganut Neoliberalisme, telah terbukti mencengkeram negeri ini. Menjadikan tebergantungan akut dalam mengelola SDA dan mempengaruhi pembuatan kebijakan negara dalam mengurusi rakyatnya.

Tak ada yang bisa diharapkan bermitra dengan negara penganut kapitalis yang menjadikan keuntungan materi sebagai standar kebahagiaan dalam kehidupan. Tanpa memperhatikan halal haram dengan sistem ekonomi ribawi. Sehingga tak heran, negara mitra sangat diuntungkan dan negara ini menjadi buntung. 

Pengelolaan SDA seharusnya menjadi tanggungjawab negara dalam mengelolanya. Bukan malah menyerahkan pengelolaan atau mencari mitra untuk mengelolanya. Jikapun negara tak mampu mengelolanya, seharusnya negara mencari tenaga ahli semata tanpa menyerahkan pengelolaan pada negara mitra yang ironisnya negara penganut neoliberalisme. Negara penganut neoliberalisme akan menjadikan negara mitranya menjadi jongos semata yang siap didekte dalam segala hal termasuk dalam membuat kebijakan urusan dalam negeri. Walhasil negeri ini tak memiliki kemandirian dalam mengelola negaranya secara utuh.

Berbeda dengan negara penganut sistem ekonomi Islam yang mewajibkan negara dalam mengelola SDAnya secara mandiri tanpa bergantung pada negara lain. Meskipun alasannya sebagai mitra strategis. Karena keberadaan SDA suatu negara sangatlah berpengaruh terhadap kemampuan negara dalam mengelola harta negara dan mensejahterakan rakyatnya. Anugerah yang luar biasa ketika sebuah negara memiliki SDA yang melimpah, apalagi mampu mengelolanya dan mendistribusikan secara tepat untuk kepentingan negara dan rakyat.

Pengelolaan SDA dalam sistem Islam akan digunakan sepenuhnya untuk kepentingan rakyat termasuk negara. Rakyat akan mampu menikmati ataupun membeli dengan harga terjangkau jika negara mengelola sendiri SDA yang dimilikinya. Akan tetapi jika berkerjasama dengan negara mitra, hal itu pastinya mustahil. Pasalnya setiap negara pastinya memiliki visi tersendiri dalam bekerjasama dengan negara lain. Apalagi negara kafir yang menganut sistem neoliberalisme, pastinya menjadikan negara lainnya sebagai negara bawahan yang siap dikendalikan dan dimanfaatkan secara total tanpa memperhatikan rasa empati.

Kemandirian negara hanya akan terwujud jika negeri ini menganut sistem Islam atau khilafah, yang menjadikan Al Qur'an dan Sunnah sebagai sumber hukum dalam mengatur kehidupan dan mensejahterakan rakyat. Sistem khilafah telah memiliki konsep yang jelas dan lengkap terkait bagaimana sebuah negara mengelola SDA dan melayani rakyatnya. Negara akan terpandang di mata dunia karena kemandiriannya dan rakyatnya sejahtera dalam naungan Khilafah. Wallahu alam.[]

*Lulusan Universitas Jember, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Fisika dan anggota AMK Gresik.  
  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Nanik Farida Priatmaja, S.Pd*: Tak Ada Negara Mitra Strategis Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com